Tren kantor hijau atau green office di Jakarta perlahan mulai mengalami peningkatan. Penyewa ruang kantor kini banyak yang memprioritaskan gedung dengan sertifikasi hijau. Apa alasannya?
Menurut data dari Knight Frank Indonesia, penyewa ruang kantor di Jakarta, khususnya di area CBD (Central Business District) memprioritaskan bangunan yang ramah energi, kualitas udara dalam ruangan (IAQ), dan integrasi teknologi gedung pintar (smart building).
Associate Director Knight Frank Indonesia Andi Rina Martianti menyebut peminat utama ruang kantor hijau di Jakarta adalah perusahaan dari Eropa. Sebab, banyak perusahaan yang menetapkan pasal green list atau surat perjanjian sewa-menyewa kantor yang mengharuskan berkantor di green office.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami rasa green office itu akan sangat meningkat dan diminati oleh perusahaan Eropa, karena memang pada dasarnya sebelum mereka masuk ke satu region atau misalnya mereka mau set up kantor di Indonesia, arahan dari tim regional mereka harus berkantor di gedung yang sudah bersertifikat hijau," kata Andi dalam acara Media Gathering Jakarta Property Highlights 2026 di Topgolf Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Andi menyebut gedung perkantoran yang memiliki sertifikat hijau tidak hanya di kelas premium dan grade A saja, tapi kantor di grade B pun juga sudah mulai mengajukan sertifikat hijau. Soalnya, permintaan gedung bersertifikat hijau terbilang cukup tinggi dibandingkan yang non-sertifikat hijau.
"Tidak hanya untuk (kantor) premium A dan grade A saja, saya melihat tren di gedung-gedung grade B juga sudah berusaha mendapatkan green certificate karena memang dari pengalaman saya untuk permintaan gedung bersertifikat hijau itu lumayan tinggi dibandingkan yang non-bersertifikat hijau," tuturnya.
Permintaan green office yang semakin tinggi diprediksi turut menambah tingkat hunian perkantoran di 2026. Data dari Knight Frank Indonesia menyebut gedung grade A saat ini mencatat tingkat hunian tinggi sekitar 80% karena didukung oleh permintaan yang stabil, meski tengah terjadi ketidakpastian secara global.
Sepanjang 2025, serapan ruang kantor di Jakarta mencapai 223.737 meter persegi. Sedangkan untuk pasokan ruang kantor di CBD Jakarta masih tetap berkisar 7.326.495 m2 di 2026.
Sementara itu, Country Head Knight Frank Indonesia Wilson Kalip menyebut perkantoran CBD di Jakarta diprediksi akan bergerak menuju fase pemulihan. Diprediksi tingkat hunian kantor secara perlahan akan meningkat menjadi 79,3% di tahun ini.
"Ke depan, pasar perkantoran CBD Jakarta diproyeksikan akan bergerak menuju fase pemulihan yang lebih berkelanjutan, dengan diferensiasi aset yang berkualitas, performa ESG, kapabilitas manajemen gedung, dan amenity richâenvironment akan menjadi penentu utama daya saing gedung perkantoran," tutur Wilson.
(ilf/das)










































