Rumah Susun Sewa Sederhana (Rusunawa) kini menjadi pilihan banyak masyarakat Jakarta sebagai tempat tinggal. Sebab, harga sewa yang terjangkau dan punya fasilitas cukup lengkap jadi alasan rusunawa banyak dipilih orang.
Saat ini ada banyak rusunawa yang dibangun di ibu kota. Namun, ada satu rusunawa yang terbilang unik karena berada di tepi laut, yakni Rusunawa Marunda. Lokasi persisnya berada di Cilincing, Jakarta Utara.
Tim detikProperti berkesempatan untuk mengunjungi langsung Rusunawa Marunda pada Rabu (28/1/2026). Sebagai informasi, ada tiga klaster di rusunawa ini, yakni Klaster A, B, dan D.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Danau di depan Rusunawa Marunda, Cilincing, Jakarta Utara Foto: Mohammad Farrel/BeritaKlik |
Klaster B dan D bisa dibilang paling untung karena beberapa unitnya menghadap ke arah laut Jakarta. Dengan begitu, penghuni bisa menikmati 'Ocean View' serta kapal laut yang hilir mudik menuju Pelabuhan Tanjung Priok.
Selain itu, ada juga waduk yang berada di dekat Klaster D. Waduk ini dikelilingi oleh pohon bakau dan digunakan warga setempat untuk memancing ikan atau sekadar melepas penat.
Hati Gundah di Balik Bangunan Rusunawa Marunda
Suasana hunian vertikal di kawasan pesisir Jakarta Foto: Mohammad Farrel |
Meski terbilang unik karena terletak di pesisir Jakarta, sayangnya Rusunawa Marunda tengah menghadapi bahaya yang mengkhawatirkan. Sebab, bangunan rusun ini dinilai sudah tidak layak sehingga akan direvitalisasi dalam beberapa tahun ke depan.
Salah satu bangunan rusunawa yang sudah direvitalisasi adalah Klaster C. Sebab, berdasarkan kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2021, sebagian struktur di Klaster C dinilai sudah tidak layak untuk ditinggali.
Selain itu, pernah terjadi insiden atap ambruk di Klaster C pada 30 Agustus 2023. Kala itu, dak beton pada Blok C5 mengalam rubuh yang lokasinya terletak di sekitar hall belakang.
Klaster yang terdiri dari lima blok itu akhirnya dikosongkan sejak September 2023 dan seluruh penghuninya dipindahkan ke Rusunawa Rorotan dan Rusunawa Padat Karya. Namun, bangunan rusun sempat terbengkalai selama dua tahun, sebelum akhirnya mulai direvitalisasi pada pertengahan 2025.
Kepala Satuan Penertiban Rusunawa Marunda Ferengki Pakpahan mengatakan Rusunawa Marunda merupakan salah satu rusun pertama di Jakarta Utara. Dibangun pada 2004 dan mulai dihuni sejak 2006, bangunan rusun ini telah berusia sekitar 20 tahun.
Lahan yang dulunya merupakan Klaster C kini sudah rata dengan tanah Foto: Ilham Satria Fikriansyah/BeritaKlik |
Usianya yang sudah uzur menjadi alasan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merobohkan Klaster C Rusunawa Marunda. Ditambah lagi kajian dari BRIN yang menunjukkan hunian tersebut juga sudah tidak layak huni.
"Jadi karena unit bangunannya sudah batas akhir atau expired sehingga harus dibongkar, karena bangunan juga memiliki usia pakai ya," kata Ferengki saat ditemui di Rusunawa Marunda, Rabu (28/1).
Kini, bangunan Klaster C sudah rata dengan tanah. Saat berada di lokasi, terlihat ada sebuah ekskavator tengah beroperasi untuk mengeruk tanah dan mengangkut sisa-sisa puing bangunan.
Seperti apa kondisi rusunawa Marunda yang disebut mengkhawatirkan? Lanjut di halaman berikutnya.
Kondisi Rusunawa Marunda yang Mengkhawatirkan
Suasana hunian vertikal di kawasan pesisir Jakarta Foto: Mohammad Farrel |
Selain Klaster C, bangunan Klaster A dan B di Rusunawa Marunda kondisinya juga cukup mengkhawatirkan. Dari pengamatan tim detikProperti, terlihat sejumlah bangunan memang sudah mengalami kerusakan di beberapa titik.
Beberapa bangunan rusunawa telah ditumbuhi oleh tanaman liar yang menempel di tembok. Dari jarak cukup jauh bisa terlihat dengan jelas ada sejumlah pohon liar yang tumbuh di sela-sela dinding.
Selain itu, banyak cat tembok sudah pudar dan sebagian mulai mengelupas akibat faktor perubahan cuaca. Lalu, muncul sejumlah retakan halus pada tembok rusunawa akibat usia gedung yang sudah puluhan tahun berdiri.
Lantai keramik di berbagai bangunan rusunawa mengalami retak dan pecah. Terlihat juga ada banyak coretan tangan di dinding rusun yang membuat rusunawa ini terlihat kumuh.
Di beberapa titik bangunan suasananya terasa lembap sehingga menjadi tempat bagi lumut dan jamur hitam (black mold) untuk tumbuh. Kondisi ini tentu dapat membahayakan penghuni rusun karena bisa menganggu masalah kesehatan.
Kondisi Rusunawa Marunda yang mengkhawatirkan. Foto: Mohammad Farrel |
Banyak pegangan tangga yang terbuat dari besi sudah mengalami karatan akibat udara. Ada juga beberapa unit kamar yang sengaja dikosongkan dan tidak boleh dihuni karena dinilai sudah tak layak oleh pengelola rusunawa.
Namun tidak semua klaster di Rusunawa Marunda kondisinya mengkhawtirkan. Saat berkunjung ke Klaster D justru lebih rapi dan nyaman. Warna cat tembok masih terlihat pekat sehingga memberikan kesan fresh.
Keramik lantainya juga tidak pecah-pecah dan tidak kusam. Bahkan, tidak ditemukan ada lumut yang menempel di dinding sehingga tidak menghilangkan estetika bangunan.
Cerita Warga yang Tinggal di Rusunawa Marunda
Bangunan di salah satu blok Rusunawa Marunda. Foto: Mohammad Farrel |
Kondisi bangunan Rusunawa Marunda yang mengalami kerusakan di sejumlah titik membuat warga merasa khawatir, salah satunya dirasakan oleh Teguh. Pria berusia 60 tahun itu tinggal pada salah satu unit di Blok B2 Rusunawa Marunda.
Teguh bercerita sudah menghuni Rusunawa Marunda sejak 2013. Ia dan istrinya dahulu tinggal di Waduk Pluit, tapi rumahnya digusur dan mereka direkolasi ke Rusunawa Marunda.
Awalnya Teguh menghuni lantai 5 Rusunawa Marunda. Namun semenjak insiden kecelakaan yang menimpanya, Teguh jadi kesulitan untuk naik turun tangga sehari-hari karena kaki kanannya harus diamputasi.
Selain itu, usia yang terus bertambah tua membuat Teguh dan istri tidak sanggup lagi untuk menaiki anak tangga. Akhirnya ia meminta kepada pengelola untuk dicarikan unit di lantai 1 yang masih kosong.
"Karena saya dan istri saya mau naik saja susah, akhirnya saya mengajukan untuk pindah ke lantai 1. Kebetulan kata pihak pengelola saat itu bilang ada tempat kosong di lantai 1, akhirnya saya diizinkan pindah ke bawah," kata Teguh saat ditemui di Rusunawa Marunda, Rabu (28/1).
Teguh berharap ada perbaikan pada lingkungan Rusunawa Marunda agar lebih bersih dan terawat. Ia berharap warga setiap klaster rutin kerja bakti agar menciptakan lingkungan yang sehat.
"Jadi kelihatannya nggak ada inisiatif dari RT tuh untuk mendorong warga agar 'Ayo kita kerja bakti di hari Minggu' supayah bersih lingkungannya," ungkap Teguh.
Rusunawa Marunda di Cilincing, Jakarta Utara, yang kondisinya sudah mengkhawatirkan Foto: Ilham Satria Fikriansyah/BeritaKlik |
Selain itu, Teguh juga menilai banyaknya pohon-pohon liar yang tumbuh di tembok rusunawa dapat menyebabkan kerusakan pada struktur bangunan. Kondisi itu tentu sangat berbahaya karena dapat menyebabkan keretakan.
"Kadang-kadang kan pepohonan liar itu akarnya bisa masuk ke dalam tembok, sehingga bisa bocor dan akhirnya jadi rapuh gedungnya," paparnya.
Meski kondisi sejumlah bangunan di Klaster A dan B mulai mengkhawtirkan, Ferengki menyebut pihak pengelola terus melakukan pemeliharaan pada setiap unitnya. Misalnya jika ada unit warga yang bocor maka akan diperbaiki oleh pengelola.
"Baru-baru ini juga dipelihara, dirawat, jadi kalau ada unit-unitnya yang kira-kira bocor akan diperbaiki," ucap Ferengki.
Klaster A dan B Rusunawa Marunda Juga Direvitalisasi
Suasana hunian vertikal di kawasan pesisir Jakarta. Foto: Mohammad Farrel |
Ferengki mengatakan Klaster A dan B Rusunawa Marunda rencananya akan direvitalisasi. Selain ditemukan ada sejumlah kerusakan, umur bangunan kedua klaster rusunawa itu juga sudah uzur karena sudah mencapai 20 tahun.
"Kemungkinan nanti akan mengikuti (klaster) A dan B direvitalisasi karena masa umur bangunannya sudah tua," ujar Ferengki.
Ferengki menyebut bangunan Klaster A dan B Rusunawa Marunda juga sudah melalui tahap kajian oleh BRIN. Bangunan tersebut memang masih bisa dihuni tapi umurnya tidak akan lama karena harus direvitalisasi agar lebih aman, nyaman, dan modern.
"(Kalau yang Klaster A dan B sudah diteliti sama BRIN?) Sudah, makanya kita bisa sampaikan bahwa keduanya nanti akan menyusul (direvitalisasi), cuma masalah waktunya ini ada dari pihak dinas," paparnya.
Terpisah, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) DKI Jakarta Kelik Indriyanto mengonfirmasi rencana revitalisasi Klaster A dan B Rusunawa Marunda. Namun belum diketahui kapan revitalisasi tersebut dilakukan karena saat ini masih fokus mendirikan Klaster C yang sudah dirobohkan.
"Betul, untuk cluster A dan B di tahap selanjutnya," kata Kelik saat dihubungi BeritaKlik, Selasa (28/1).
Kelik menyebut untuk Klaster C Rusunawa Marunda akan dibangun mulai Desember 2025 dan diprediksi selesai pada 2027. Pembangunan itu merupakan Tahap 1 yang terdiri dari satu unit tower dengan total 288 unit kamar.
"Rusun Marunda cluster C untuk di tahap satu mulai 23 Desember 2025 sampai 23 Februari 2027, di tahap satu ini ada satu tower yang terdiri 288 unit," ucapnya.
Lebih lanjut, Kelik mengatakan bakal dibangun lima tower di lahan bekas Klaster C dengan total 1.448 unit. Untuk pembangunan empat tower lainnya akan dilakukan pada tahap berikutnya usai Tahap 1 rampung.
"Jadi untuk Cluster C total ada lima tower dengan 1.448 unit kamar yang akan dilanjutkan tahap berikutnya," imbuh Kelik.
Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini
Di balik dinding yang menua, ada kehidupan yang terus tumbuh di Rusun Marunda. 🏢🌊 Lantai yang pecah dan dinding berlumut mungkin jadi pemandangan pertama yang terlihat. Tapi kalau masuk lebih dalam, rusun di tepi laut Jakarta ini punya sisi lain yang jarang diketahui orang luar. Apa nih komentar detikers soal rusun ini? Share di kolom komentar ya! 👇



















































