Jakarta dikenal sebagai kota metropolitan yang penuh dengan gedung tinggi perkantoran. Ternyata di balik gemerlap gedung tinggi tersebut, banyak ruang kosong karena tidak kunjung menarik penyewa bak diisi 'hantu'.
Menurut konsultan properti CBRE Indonesia jumlah ruang kantor kosong di Jakarta saat ini sekitar 2,6 juta meter persegi. Sementara itu, menurut konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia pada Oktober 2025 mengatakan jumlahnya mencapai 3 juta meter persegi. Jumlah ruang kosong tersebut disebut terbanyak di Asia-Pasific.
Head of Research & Consultancy PT Leads Property Service Indonesia Martin Hutapea mengatakan tingkat keterisian ruang kantor di area Central Business District (CBD) sekitar 72 persen dan di non-CBD mencapai 76 persen karena ruang yang lebih terbatas. Sejauh ini, tingkat okupansi ini masih stabil tidak seburuk pada masa krisis 98 yang menyentuh di bawah 50 persen atau pada saat pandemi Covid-19.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, terlalu banyak ruang kantor kosong juga tidak baik. Pihak yang paling berdampak adalah pemilik ruang kantor yang harus banting harga agar ruang kantor tersebut menarik penyewa.
"Untuk sektor ini sebenarnya dampaknya adalah banting harga," kata Martin kepada BeritaKlik pada Kamis (26/3/2026).
Hal ini pernah terjadi pada 2016, tahun di mana jumlah ruang kantor di Jakarta membludak. Martin mengatakan pembangunan perkantoran yang masif antara 2015- 2016 membuat ada jutaan meter persegi ruang kantor kosong saat ini, setelah 10 tahun berlalu.
"Trend harga turun ya sejak 2016, 2017 mulai tertekan, kenapa? Karena banyak gedung-gedung yang begitu sudah jadi, huniannya (okupansi) masih rendah," ungkap Martin.
Sebelum 2015, okupansi pada gedung perkantoran baru di Jakarta menyentuh 90 persen atau hampir penuh. Namun, setelah 2016, gedung baru hanya bisa terisi 20-30 persen saja.
"Sejak 2015-2016 gedung sudah jadi, keterhunian masih 20 persen, masih 30 persen. Makanya banyak sekali landlord (pemilik ruang kantor) yang pada drop harga (menurunkan harga) sewa. Jadi kompetitif banget harga sewanya," lanjutnya.
Lalu, dampak lainnya adalah adanya penyusutan jumlah ruang yang dibutuhkan pasar. Jika dulu luas yang banyak dicari sekitar 1.000 meter persegi, kini hanya di bawah 500 meter persegi.
Oleh karena itu, sejak sekitar 2024 jumlah pembangunan gedung perkantoran baru sudah menyusut jauh. Hal ini dikarenakan stok di pasaran sudah membludak. Rencananya pengereman sementara ini akan berlanjut hingga 2028, di mana akan ada gedung perkantoran baru hadir di Sudirman.
"Hingga 2028 Itu nggak ada yang baru istilahnya. Kalau ada yang baru dikit banget. Kita bisa bilang bahwa nggak ada yang baru. Itu berpotensi hunian (okupansi ruang kantor) naiknya udah lumayan banget," terangnya.
(aqi/das)










































