Punya uang US$ 1 juta atau sekitar Rp 17,7 miliar (kurs Rp 17.730) tentu bukan nilai yang sedikit. Uang sebanyak itu bisa dipakai untuk membeli hunian mewah di Jakarta, seperti di kawasan Menteng atau Senopati.
Rumah yang didapat tentu bukan yang spesifikasi abal-abal. Luas rumahnya sendiri bisa mencapai 600 meter persegi, sedangkan untuk hunian vertikal premium luasnya sekitar 180-300 meter persegi.
Menariknya, dengan uang US$ 1 juta justru belum tentu mendapatkan hunian mewah jika membelinya di luar negeri. Bahkan, hunian yang didapat terbilang jauh dari kata megah dengan luas bangunan yang cenderung kecil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat mengatakan uang US$ 1 juta bukan lagi angka 'wah' di pasar properti global. Di sejumlah kota besar, uang sebanyak itu cuma bisa membeli rumah premium yang luasnya 33 meter persegi, tak jauh beda dari luas rumah subsidi di Indonesia.
Misalnya di Singapura dan Geneva, Swiss, dengan dana sebesar US$ 1 juta atau Rp 17,7 miliar cuma bisa mendapatkan rumah premium yang luasnya 28 meter persegi. Sedangkan di Hong Kong, dengan biaya tersebut cuma bisa mendapat rumah premium seluas 23 meter persegi.
"Di Monaco, misalnya, dana US$ 1 juta hanya mampu membeli sekitar 16 meter persegi hunian premium. Sementara di Hong Kong, dengan dana yang sama, mendapatkan sekitar 23 meter persegi hunian premium. Di Singapura dan Geneva, anggaran yang sama hanya menjangkau sekitar 28 meter persegi dan di London pembeli akan mendapatkan 33 meter persegi saja," kata Syarifah atau kerap disapa Sari kepada BeritaKlik, Senin (25/5).
Data tersebut dihimpun dari Prime International Residential Index (PIRI) yang dirilis dalam The Wealth Report 2026 oleh Knight Frank. Salah satu indikator menarik dalam laporan itu adalah US$ 1 million buying power, yakni seberapa luas rumah yang dapat dibeli dengan anggaran US$ 1 juta.
Jika melihat Singapura dan Hong Kong yang hanya bisa mendapatkan hunian seluas rumah subsidi di RI, maka tidak perlu heran. Sebab, kedua negara itu masuk dalam urutan lima teratas hunian premium paling mahal di dunia.
Sampai saat ini, Hong Kong masih menjadi tempat wealth parking bagi orang kaya dari China, dengan pasokan hunian mewah yang relatif terbatas. Sedangkan Singapura punya regulasi yang ramah bagi investor internasional, sera hub finansial yang menjadi magnet untuk pertumbuhann family office global.
Lalu bagaimana dengan di Jakarta?
Syarifah mengungkapkan harga hunian mewah di Jakarta pada akhir 2025 berada di angka 0,8% (secara tahunan). Artinya, angka tersebut berada di bawah rerata pertumbuhan harga hunian premium di Asia yang berada di angka 3,7%.
Meski begitu, rerata pertumbuhan harga hunian mewah di Jakarta dalam lima tahun terakhir justru berada di angka yang cukup stabil. Syarifah menilai statistik ini merupakan capaian positif mengingat di kota-kota besar lainnya justru menunjukkan tren negatif.
"Namun secara umum, rerata pertumbuhan harga hunian mewah di Jakarta dalam 5 tahun terakhir berada di angka yang cukup stabil, yaitu pada kisaran 0,5-1,4%. Hal ini menjadi pertimbangan positif, mengingat beberapa kota di Asia mengalami pertumbuhan harga hunian mewah yang negatif, seperti Guangzhou, Shenzhen, Shanghai, dan sebagainya," papar Syarifah.
Selain itu, para investor asing, crazy rich, maupun kelompok high-net-worth-individuals (HNWI), menilai Jakarta sebagai opsi alternatif untuk dijadikan tempat tinggal, mengingat harga properti premium di banyak kota dunia tengah meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Syarifah menilai Jakarta dapat dijadikan sebagai alternatif kota yang menawarkan kombinasi antara ukuran, lokasi strategis, dan potensi pertumbuhan yang stabil dalam jangka panjang.
Adapun kawasan yang dijadikan hunian premium di Jakarta, mulai dari Menteng, Senopati, Dharmawangsa, Kebayoran Baru, SCBD, Senayan, Permata Hijau, hingga Pondok Indah. Semua wilayah ini masih menjadi episentrum hunian premium sampai sekarang.
Sementara itu, kawasan baru seperti Pantai Indah Kapuk (PIK) mulai memperluas definisi luxury living dengan konsep terpadu yang memadukan residensial, gaya hidup, dan konektivitas.
(ilf/ilf)










































