Baru-baru ini ramai kisah inspiratif dari sekumpulan warga Yogyakarta yang berhasil merenovasi ratusan rumah dengan iuran Rp 2.000 per hari. Kegiatan ini bermula dari kelompok masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Winongo dan Gajahwong bernama Paguyuban Kalijawi.
Dari beberapa unggahan seputar Paguyuban Kalijawi, ternyata kegiatan tersebut telah dilakukan sejak 2012 hingga saat ini. Dalam unggahan itu, warga di sekitar bantaran Sungai Winongo dan Gajahwong menyetorkan Rp 2.000 per hari, lalu mereka menerapkan sistem arisan tabungan bergulir. Bagi yang mendapatkan uang arisan tersebut harus digunakan untuk merenovasi rumah. Seluruh anggota pasti akan mendapatkan giliran merenovasi.
Alasan warga memulai kegiatan ini karena kebanyakan dari mereka tinggal di rumah yang tidak memiliki sertifikat tanah karena bangunan berdiri di area bantaran sungai. Oleh karena itu, sulit bagi mereka mendapatkan bantuan dari pemerintah. Bahkan beberapa ada yang khawatir akan digusur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Uniknya anggota dari paguyuban mayoritas adalah ibu-ibu yang juga rumah mereka kurang layak sehingga butuh direnovasi.
BeritaKlik telah menghubungi Ketua Peguyuban Kalijawi atau sekaligus Ketua Koperasi Jasa Kalijawi Mangayu Bagya, Ainun Murwani, ia mengatakan pembentukan Paguyuban Kalijawi ini pertama diinisiatif oleh Lembaga Arkom Jogja atau saat ini sudah berubah nama menjadi Yayasan Arkom Indonesia.
Mereka datang ke kampung-kampung di sekitar Sungai Winongo dan Gajahwong yang mengelilingi area Sleman, Kota Yogyakarta, sampai Kabupaten Bantul. Mereka memetakan kondisi masyarakat di sana untuk mengetahui apa yang yang dibutuhkan seluruh warga dan potensi apa yang bisa digali.
Pada saat itu, seharusnya tim Arkom Jogja bertemu dengan RT setempat, tetapi karena berhalangan diwakilkan oleh sekumpulan ibu-ibu. Kebetulan pada saat itu, suami Ainun adalah Ketua RT-nya.
Sejak pertemuan itu, dibentuklah kelompok-kelompok masyarakat dalam bentuk kecil untuk mempermudah pemetaan hingga akhirnya muncul 14 kampung di sekitar bantaran sungai tadi.
Dari pemetaan tadi ditemukan bahwa masalah paling penting dan harus segera diatasi adalah seputar hunian yang layak. Namun, kendalanya adalah dana. Jika meminta ke pemerintah, warga kampung tersebut tidak memenuhi syarat karena tidak adanya alas hak lahan. Akhirnya mereka gotong royong, melakukan iuran Rp 2.000 per hari atas kesepakatan bersama dan menggulirkan hasil iuran dengan sistem arisan tadi.
Arkom di sini juga tidak hanya memberikan pendampingan kepada masyarakat, mereka juga memberikan dana hibah Rp 300 juta untuk membantu renovasi.
"Arkom ada hibah dari donor (donator) sebesar Rp 300 juta. Tapi kita merasa bahwa nggak cukup ini kalau Rp 300 juta untuk menyelesaikan masalah rumah. Akhirnya diskusi dengan Arkom. Terus kami sepakat membuat sistem dana ini digulirkan. Tidak dihibahkan supaya kemanfaatannya lebih banyak. Akhirnya kami mulai masuk ke kampung-kampung membuat identifikasi tentang kemampuan masyarakat itu. Berapa sih untuk nabung atau swadaya," kata Ainun kepada BeritaKlik pada Minggu (28/6/2026).
"Terus muncul nominal Rp 2.000. Kami berpikir membuat program renovasi rumah karena waktu itu rumah tidak layak huni banyak kasusnya, hampir semua kondisi di bantaran sungai itu tidak layak huni," lanjutnya.
Renovasi itu bukan fokus pada bangunan, melainkan soal infrastruktur dan sanitasi tiap rumah. Sebenarnya, biaya yang diberikan dari iuran tersebut juga tidak menutup seluruhnya. Jika biaya renovasi lebih besar, sisanya dari dana pribadi atau ditunda hingga uangnya terkumpul. Namun, diterapkan pula skala prioritas bagi warga yang rumahnya butuh direnovasi secepatnya akan didahulukan mendapat dana perbaikan tersebut.
Dengan sistem ini, Paguyuban Kalijawi tercatat sukses merenovasi 165 rumah dalam kurun waktu 20 bulan, dari tahun 2012 hingga 2014.
Kini paguyuban ini masih bertahan bahkan sudah berubah menjadi Koperasi Jasa Kalijawi Mangayu Bagya yang diakui secara hukum. Anggotanya sudah 278 orang yang aktif di 15 kampung di Jogja. Bahkan manfaat dari iuran yang masuk bukan sebatas untuk renovasi saja, tetapi bisa untuk dana darurat masyarakat, keperluan biaya kesehatan, hingga pendidikan.
(aqi/abr)











































