Pramono Mau Bangun 11 Rusun Baru Jakarta, Pengamat Sindir Lokasi dan Akses

Pramono Mau Bangun 11 Rusun Baru Jakarta, Pengamat Sindir Lokasi dan Akses

Sekar Aqillah Indraswari - detikProperti
Selasa, 07 Jul 2026 16:20 WIB
Beginilah kondisi terkini Rumah Susun (Rusun) Marunda Cluster C di Jakarta Utara, Rabu (14/5/2025). Bangunan rusun tampak kosong dan tak berpenghuni, menyisakan jejak kerusakan yang cukup parah.
Rusun Marunda Cluster C sebelum direvitalisasi. Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bakal membangun 11 rumah susun (rusun) baru pada 2027 untuk menyediakan lebih banyak rumah terjangkau. Meski begitu, pengamat memandang pemilihan lokasi terlalu di pinggiran kota sehingga dibutuhkan akses transportasi umum sebagai penunjang.

Ketua Umum The HUD Institute Zulfi Syarif Koto mengungkapkan rusun lama di Jakarta kebanyakan dibangun di dekat tempat kerja sehingga mempermudah mobilisasi masyarakat. Sebagai contoh Rusun Kebon Kacang yang ditujukan untuk masyarakat yang bekerja di daerah Tanah Abang atau Rusun Klender.

"Yang paling ideal lokasi itu untuk pekerja itu, taruh lah (pekerja dengan gaji) Rp 14 juta ke bawah pendapatannya berada dekat-dekat simpul-simpul transportasi publik. Saya nggak bilang TOD ya. Yang bisa dijangkau dengan jalan kaki. Maksimal radius 2 km. Yang paling bagus 1 km," kata Zulfi saat dihubungi BeritaKlik pada Selasa (7/7/2027).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dinas Perhubungan Provinsi Jakarta juga harus dilibatkan dalam proyek pembangunan 11 rusun baru ini. Mereka dapat memetakan akses mobilisasi yang mudah dan terjangkau di sekitar hunian.

Selain masalah akses, Zulfi juga menyoroti perihal status lahan yang dipakai, apakah milik pemerintah daerah atau pengembang swasta. Status ini sangat menentukan harga hunian nantinya.

ADVERTISEMENT

Jika memakai tanah pemda, biayanya pasti lebih murah karena yang dihitung hanya biaya konstruksi gedung. Sementara, jika memakai tanah swasta pasti jauh lebih mahal.

"Masalahnya sekarang tanahnya tanah siapa? Persoalan utama rumah susun itu adalah alas hak. Kalau alas haknya nggak jelas, nanti berikutnya semakin tidak jelas. Kalau tanah milik pemda, tanah milik negara, tanahnya nggak bisa dijual. Nah, ini akan berpengaruh kepada strata title-nya," jelasnya.

Senada dengan Zulfi, pengamat perkotaan Yayat Supriatna juga menyoroti akses mobilisasi menuju rusun. Ia menyebut beberapa rusun yang akan dibangun, seperti Marunda dan Rorotan letaknya di pinggiran Jakarta.

"Rorotan itu agak jauh. Makanya harus ada public transport. Memang di sana banyak aset tanah pemprov. Cuma masalahnya Rorotan itu agak di pinggir kota, berbatasan Bekasi, kurang dekat dengan publik transportnya. Maka public transport-nya harus diperbanyak. Jangan sampai kawasan untuk ke Rorotan jalannya juga kecil-kecil," ujarnya.

Pemprov DKI disarankan bisa mencontoh perumahan rakyat di Malaysia yang setiap huniannya terhubung dengan transportasi umum. Jangan sampai pembangunan rusun ini terkesan memindahkan orang-orang ke daerah pinggiran.

"Pokoknya jangan kesannya bangun rumah susun di pinggir, tapi kesannya seperti membuang orang ke pinggiran. Jadi bagaimana menghidupkan Rorotan sama di Marunda. Dukung dengan fasilitas lain sehingga orang merasa tidak termarjinalkan," terangnya.

Lalu, ia juga meminta Pemprov DKI harus jelas membuat aturan sasaran pasarnya. Dengan begitu, unit bisa cepat terserap dan siapa pun yang tinggal di rusun bisa bertanggung jawab untuk membayar iuran atau biayanya.

Yayat mengatakan masalah utama rusun di Jakarta terutama rusun sewa adalah banyak yang menunggak. Penyebabnya adalah era gubernur sebelumnya banyak masyarakat dipindahkan ke rusun sewa yang ternyata ekonominya tidak mampu untuk membayar. Alhasil, biaya operasional rusun jadi dibebankan ke pemda. Sementara penghuni yang dipindahkan karena rumahnya digusur tidak mungkin dikeluarkan dari rusun.

Sebelumnya diberitakan, Pemprov DKI Jakarta bakal membangun 11 rusun baru di Jakarta. Gubernur Jakarta Pramono Anung menilai rusun lebih ideal dibandingkan rumah tapak mengingat jumlah lahan semakin terbatas dan harganya yang semakin mahal.

"Karena nggak mungkin Jakarta ini orang bisa memiliki lahan kecuali orang yang mampu, yang landed. Maka housing yang vertikal inilah yang menjadi kata kunci untuk itu," ujarnya di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Rabu (24/6/2026).

Semua rusun akan dibangun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan pembangunannya dimulai tahun depan. Nantinya akan tersedia rusun milik dan rusun sewa untuk masyarakat umum dan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Ada pun lokasinya kebanyakan berada di Jakarta Utara, berikut daftar lengkapnya.

1. Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara

2. Marunda Cluster C, Cilincing, Jakarta Utara

3. Komarudin, Cakung, Jakarta Timur

4. Rorotan IX, Cilincing, Jakarta Utara

5. Cakung KM 2, Jakarta Timur

6. Tongkol Tahap III, Pademangan, Jakarta Utara

7. Marunda Cluster A, Jakarta Utara

8. Marunda Cluster B, Jakarta Utara

9. Semper Cakung Drain, Semper, Jakarta Utara

10. Bojong Indah, Cengkareng, Jakarta Barat

11. Daan Mogot KM 18, Jakarta Barat.




(aqi/aqi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita BeritaKlik Lainnya
Kalkulator KPR
Tertarik mengajukan KPR?
Simulasi dan ajukan dengan partner detikProperti
Harga Properti*
Rp.
Jumlah DP*
Rp.
%DP
%
min 10%
Bunga Fixed
%
Tenor Fixed
thn
max 5 thn
Bunga Floating
%
Tenor KPR
thn
max 25 thn

Ragam Simulasi Kepemilikan Rumah

Simulasi KPR

Hitung estimasi cicilan KPR hunian impian Anda di sini!

Simulasi Take Over KPR

Pindah KPR bisa hemat cicilan rumah. Hitung secara mudah di sini!
Hide Ads