9 Fakta Gempa M 6,7 Palu Tewaskan Warga di Sigi: Dampak hingga Korban Luka

Sulawesi Tengah

9 Fakta Gempa M 6,7 Palu Tewaskan Warga di Sigi: Dampak hingga Korban Luka

Tim detikSulsel - detikSulsel
Kamis, 18 Jun 2026 07:00 WIB
Bangunan rumah warga di Parigi Moutong yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi M 6,7 Palu.
Foto: Bangunan rumah warga di Parigi Moutong yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi M 6,7 Palu. (dok. BPBD Parimo)
Palu -

Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 6,7 di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), mengakibatkan satu warga di Kabupaten Sigi meninggal dunia. Gempa tersebut turut menyebabkan 1.254 rumah rusak dan 76 warga mengalami luka-luka.

Gempa bumi tektonik M 6,7 pada mengguncang Palu pada Selasa (16/6/2026) pukul 11.27 Wita. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 1,03° LS dan 120,24° BT, atau tepatnya berlokasi di darat 42 km tenggara Palu pada kedalaman 10 km.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan turun (normal fault). BMKG memastikan gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dirangkum BeritaKlik hingga Kamis (18/6), berikut 9 fakta gempa M 6,7 Palu yang menelan korban jiwa berikut dampak dan jumlah korban luka:

1. Gempa Palu Dipicu Aktivitas Sesar Sausu

Kepala BMKG Wijayanto mengungkapkan, gempa M 6,7 Palu merupakan jenis bumi dangkal yang dipicu aktivitas Sesar Sausu. Dia menegaskan penyebab gempa M 6,7 berbeda dengan gempa yang melanda Palu pada 2018 lalu.

ADVERTISEMENT

"Jadi gempa ini akibat aktivitas sesar aktif Sausu di Sulawesi Tengah. Jadi ini bukan segmen Palu Koro seperti gempa di 2018," ujar Wijayanto saat konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube BMKG, Selasa (16/7).

Wijayanto menyebut, Sulteng memang memang memiliki banyak sesar aktif yang memicu aktivitas kegempaan. Selain Sausu dan Palu Koro, adapula Sesar Ampana.

"Sesar-sesar aktif ini biasanya tidak memicu aktivitas sesar di sekitarnya. Jadi misalkan nanti memicu sesar di sekitarnya, bukan berarti nanti akan memicu gempa yang lebih besar," tuturnya.

2. Pasien RSUD Sulbar Sempat Dievakuasi

Gempa M 6,7 Palu turut dirasakan di sejumlah wilayah Sulawesi Barat (Sulbar). Guncangan gempa sempat memicu kepanikan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sulbar di Kabupaten Mamuju hingga membuat pasien terpaksa dievakuasi.

Sejumlah pasien sempat dirawat sementara di tenda darurat di luar gedung RSUD. Beberapa pengunjung rumah sakit juga siaga di teras masjid setelah memastikan keluarganya yang dirawat tetap mendapatkan pelayanan.

Salah satu keluarga pasien, Ani mengaku gempa Palu yang ikut mengguncang wilayah Sulbar membuat pasien panik. Mereka khawatir adanya gempa susulan sehingga memilih berada di luar ruangan.

"Masih was-was, tadi kaget ki semua pas gempa," kata Ani kepada wartawan, Selasa (16/6).

3. Warga Terpaksa Bertahan di Luar Rumah

Gempa M 6,7 Palu membuat warga panik hingga berhamburan keluar rumah. Sejumlah warga terpaksa bertahan dan menginap di luar rumah dan tidur di teras atau halaman rumah karena trauma dan khawatir ancaman gempa susulan.

"Masih takut masuk rumah. Tadi siang gempanya kuat. Siapa tahu masih ada susulan lagi, lebih baik kita tidur di luar dulu," ucap warga Kecamatan Tatanga, Fatir saat ditemui wartawan, Selasa (16/6) malam.

Sejumlah warga lainnya juga memilih berjaga bersama keluarga saat malam hari. Beberapa di antaranya menyiapkan kendaraan sebagai langkah antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi guncangan susulan.

"Tadi lihat berita ada sudah 70 lebih kali gempa. Kita masih takut, makanya malam ini istirahat di luar saja," ucap warga lainnya, Burhanuddin kepada wartawan di lokasi.

4. Gempa Palu Tewaskan 1 Warga di Sigi

Gedung Auditorium Universitas Tadulako rusak akibat guncangan gempa M 6,7 di Kota Palu. Gedung Auditorium Universitas Tadulako rusak akibat guncangan gempa M 6,7 di Kota Palu. (Dok. Istimewa)

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sulteng, Andi Sembiring mengatakan, Kabupaten Sigi merupakan salah satu wilayah paling terdampak gempa. Bencana itu mengakibatkan satu warga meninggal.

"Informasi korban (di Kabupaten Sigi), 1 jiwa meninggal dunia karena serangan jantung," beber Andi Sembiring kepada wartawan, Rabu (17/6).

BPBD Sulteng terus melakukan pendataan terkait dampak kerusakan akibat gempa. Pihaknya juga mengimbau warga untuk tetap tenang di tengah aktivitas gempa susulan yang masih terjadi.

"Data yang ada saat ini menunjukkan dampak kerusakan rumah paling banyak berada di Kabupaten Sigi," ujar Andi Sembiring.

5. Jembatan Palu III Sempat Ditutup Usai Retak

Jembatan III Palu sempat ditutup usai mengalami keretakan akibat gempa pada Selasa (16/6). Setelah dilakukan pemeriksaan, jembatan baru kembali dibuka secara terbatas pada Rabu (17/6).

"Hanya kendaraan roda dua dan roda empat yang diperbolehkan melintas. Kendaraan roda enam ke atas masih dialihkan ke jalur lain," ujar Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palu, Trisno Yunianto kepada wartawan, Rabu (17/6).

Petugas Dishub dan Satpol PP Palu disiagakan di kedua sisi jembatan untuk mengatur lalu lintas. Pemkot Palu masih akan melakukan evaluasi dan penanganan lebih lanjut terkait jembatan itu.

"Informasi yang kami terima, retakan yang sebelumnya sudah ada mengalami penambahan. Mudah-mudahan tidak berdampak pada struktur utama atau tiang penyangga jembatan," jelasnya.

6. 76 Warga Luka-luka Akibat Gempa

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total 76 warga dilaporkan mengalami luka-luka akibat gempa. Data tersebut berdasarkan laporan sementara yang dihimpun hingga Rabu (17/6) pukul 04.00 Wita.

"Ada yang luka ringan 73 jiwa dan luka berat 3 jiwa. Luka berat ini yang berkaitan dengan tulang atau luka akibat runtuhan struktur bangunan," ucap Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari saat konferensi Rabu (17/6).

Korban luka tersebar di Palu, Sigi, Parigi Moutong hingga Poso. Selain itu tercatat ada 1.834 kepala keluarga (KK) atau sekitar 5.784 jiwa yang terdampak gempa.

"Untuk korban terdampak, artinya masyarakat yang merasakan gempa, terpapar oleh gempa dan mungkin saat ini masih mengalami atau merasakan gempa-gempa susulan," imbuhnya.

7. 1.254 Rumah Rusak Didominasi di Sigi

Warga terpaksa tidur di luar rumah akibat gempa M 6,7 di Palu.Warga terpaksa tidur di luar rumah akibat gempa M 6,7 di Palu. Mereka masih trauma dan khawatir akan gempa susulan. (Rangga/BeritaKlik)

Berdasarkan data BNPB hingga Rabu (17/6) pukul 04.00 Wita, total 1.254 rumah mengalami kerusakan. Rumah rusak akibat gempa paling banyak berada di Sigi dengan total 1.214 rumah.

"Untuk Kabupaten Sigi itu ada sekitar 1.074 unit rumah rusak ringan, kemudian ada 110 rumah rusak sedang dan 30 unit rumah rusak berat," ucap Muhari.

Kerusakan rumah lainnya tersebar di Palu sebanyak 20 unit, Poso 5 unit, Parigi Moutong 15 unit. Muhari mengatakan, proses pendataan terkait dampak kerusakan di sejumlah wilayah masih terus berlangsung.

"Untuk kerusakan-kerusakan rumah ini sama halnya pada kejadian bencana lainnya, tentu saja pemerintah melalui BNPB akan mendukung perbaikan rumah rusak tersebut," tuturnya.

8. Gempa M 6,7 Picu Longsor di Sigi-Poso

Gempa M 6,7 Palu ternyata sempat memicu longsor di Poso dan Sigi pada Selasa (16/6). BNPB masih akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait kejadian itu meski disebut lokasi longsor berada jauh dari permukiman.

"Kemarin kami mendapat laporan akibat gempa utama itu terjadi longsor di daerah kabupaten Sigi dan Poso. Ini akan kita konfirmasi ulang, ada beberapa titik longsoran dan ini memang konsekuensi dari kejadian gempa darat," kata Muhari.

Longsor akibat gempa di Sigi, ternyata membuat sumber air bersih warga terganggu. Hal itu terungkap usai Gubernur Sulteng Anwar Hafid meninjau lokasi terdampak gempa di sejumlah desa Kabupaten Sigi pada Rabu (17/6).

"Masyarakat menyampaikan kebutuhan utama mereka adalah tenda karena masih takut tinggal di dalam rumah. Selain itu, mereka membutuhkan air minum bersih karena sumber air tertutup longsor, serta obat-obatan dan selimut untuk anak-anak," beber Anwar Hafid.

9. Siswa SD-SMP Belajar Daring Usai Gempa

Pemkot Palu memutuskan siswa SD dan SMP belajar daring dari rumah usai gempa M 6,7. Kebijakan ini berlaku selama 3 hari yang dimulai pada Rabu (17/6) hingga Jumat (19/6).

"Untuk sementara anak-anak tidak masuk sekolah terlebih dahulu. Nanti pembelajaran akan dilakukan secara daring," ujar Wali Kota Palu Hadianto Rasyid kepada wartawan, Rabu (17/6).

Hadianto menegaskan, kebijakan itu untuk memberikan rasa aman kepada para siswa. Hal ini menyusul adanya aktivitas gempa susulan yang masih intens terjadi di Palu dan sekitarnya.

"Kami meminta masyarakat tetap tenang dan tidak gelisah. Pemerintah terus memantau perkembangan situasi dan memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang jelas dan benar," imbuh Hadianto.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Polisi Evakuasi Eks Polwan Yuni Usai Rumahnya Digeruduk Warga"
[Gambas:Video 20detik]
(sar/sar)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads