Besok 25 Juni 2026 Puasa Sunnah Apa? Ini Jenis, Niat, dan Keutamaannya

Besok 25 Juni 2026 Puasa Sunnah Apa? Ini Jenis, Niat, dan Keutamaannya

Urwatul Wutsqaa - detikSulsel
Rabu, 24 Jun 2026 16:59 WIB
Ilustrasi Kalender
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/Kwangmoozaa)
Makassar -

Penanggalan kalender Hijriah menunjukkan umat Islam saat ini sedang berada di bulan Muharram, salah satu dari 4 bulan mulia. Pada bulan Muharram ini, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah pada hari-hari tertentu.

Lantas, besok tanggal 25 Juni 2026 puasa sunnah apa? Simak berikut ini penjelasannya!

25 Juni Puasa Sunnah Apa?

Mengacu pada Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama (Kemenag), besok 25 Juni 2026 bertepatan dengan tanggal 10 Muharram 1448 H. Pemerintah RI melalui Kemenag menetapkan awal bulan Muharram jatuh pada Selasa 16 Juni 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), 1 Muharram 1448 H juga ditetapkan jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Artinya, jadwal puasa di bulan Muharram versi pemerintah dan Muhammadiyah jatuh pada tanggal yang sama.

Sementara itu, Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) menetapkan 1 Muharram 1448 H jatuh pada hari Rabu, 17 Juni 2026. Jadwal ini sehari lebih lambat dari keputusan pemerintah.

ADVERTISEMENT

Artinya, pada 25 Juni 2026 besok, penanggalan Hijriah versi NU baru memasuki tanggal 9 Muharram.

Dengan demikian, 25 Juni besok ada 2 versi puasa sunnah, yakni puasa 9 Muharram (Tasu'a) versi NU dan puasa 10 Muharram (Asyura) versi pemerintah.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini jadwal puasa sunnah 25 Juni 2026:

Versi Pemerintah & Muhammadiyah

  • 25 Juni 2026 (10 Muharram 1448 H): Puasa Asyura

Versi NU

  • 25 Juni 2026 (9 Muharram 1448 H): Puasa Tasua

Anjuran Puasa Sunnah 9 dan 10 Muharram

Puasa Tasu'a dan Asyura pada 9 dan 10 Muharram dianjurkan karena memiliki keistimewaan di sisi Allah SWT. Mengutip laman Muhammadiyah, anjuran puasa Tasu'a dan Asyura didasarkan pada dalil berikut ini:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللهُ عَنْهماُ قَالَ مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ [رواه البخاري]

"Dari Ibnu Abbas RA, 'Saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW membiasakan berpuasa pada suatu hari yang lebih diutamakan dari hari lainnya kecuali hari ini, yaitu hari Asyura, dan bulan ini, yaitu bulan Ramadan.'" [HR al-Bukhari]

Hadis tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah SAW menempatkan puasa 'Asyura' pada posisi istimewa meskipun sifatnya sunnah. Hal ini menggambarkan betapa besar nilai spiritual dari puasa ini di sisi Allah SWT.

Tidak hanya puasa Asyura, Rasulullah SAW juga menganjurkan puasa Tasu'a, yaitu puasa pada hari kesembilan Muharram, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ حِينَ صَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ [رواه مسلم وأبو داود]

"Dari Ibnu Abbas RA, ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, mereka berkata, 'Wahai Rasulullah, hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani.' Rasulullah SAW bersabda, 'Kalau begitu, Insya Allah tahun depan kita berpuasa juga pada hari kesembilan.' Namun, sebelum tahun depan tiba, Rasulullah SAW telah wafat." [HR Muslim dan Abu Dawud].(1)

Niat Puasa 9 dan 10 Muharram

Bagi detikers yang ingin melaksanakan puasa Tasu'a dan Asyura, baik mengikuti ketentuan pemerintah dan Muhammadiyah maupun NU, berikut ini lafal niatnya yang dapat dibaca:

Bacaan Niat Puasa Tasu'a

نَوَيْتُ صَوْمَ تَسُعَاءَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى.

Arab Latin: Naiwaitu shauma tasu'aa-i sunnatan lillaahi ta'aalaa.

Arti: Saya berniat puasa sunnah Tasu'a karena Allah Ta'ala.

Bacaan Niat Puasa Asyura

نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُرَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى.

Arab Latin: Naiwaitu shauma 'aasyura sunnatan lillaahi ta'aalaa.

Arti: Saya berniat puasa sunnah Asyura karena Allah Ta'ala.(2)

Keutamaan Puasa Tasu'a dan Asyura

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, puasa Tasu'a dan Asyura dianjurkan bagi umat Islam karena meiliki keistimewaan di sisi Allah SWT. Berikut beberapa keutamaan puasa Tasu'a dan Asyura yang perlu diketahui umat Islam:

1. Puasa Tasu'a Sebagai Pembeda dengan Kaum Yahudi

Keutamaan puasa Tasu'a 9 Muharram adalah sebagai pembeda antara umat Islam dengan kaum Yahudi. Hal ini karena kaum Yahudi pada masa itu memiliki tradisi hanya berpuasa pada 10 Muharram (Asyura), sebagaimana diterangkan dalam riwayat berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ قَالَ حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ و وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمَ تُعَظِمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [رواه مسلم وأبو داود]

Artinya: "Dari Ibnu Abbas RA, ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, mereka berkata, "Wahai Rasulullah, hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani." Rasulullah SAW bersabda, "Kalau begitu, insya Allah tahun depan kita berpuasa juga pada hari kesembilan." Namun, sebelum tahun depan tiba, Rasulullah SAW telah wafat." (HR Muslim dan Abu Dawud)(1)

2. Puasa Asyura Diampuni Dosa Setahun Lalu

Umat Islam yang melaksanakan puasa Asyura 10 Muharram dipercaya akan dihapuskan dosa-dosanya selama setahun yang lalu. Dijelaskan dari Abu Qotadah Al Anshoriy, ia berkata:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمٍ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Artinya: "Nabi SAW ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, "Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, "Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu." (HR Muslim nomor 1162)

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa dosa yang diampuni melalui puasa Asyura adalah dosa-dosa kecil. Namun, ia juga menyebutkan bahwa dosa besar diharapkan dapat diringankan, dan amalan tersebut dapat meninggikan derajat seseorang.

Sementara itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa secara umum amalan seperti puasa Asyura dapat menjadi sebab terhapusnya setiap dosa.(3)

3. Puasa Paling Utama Setelah Ramadhan

Puasa Tasu'a dan Asyura termasuk amalan puasa yang dikerjakan pada bulan Muharram. Puasa di bulan Muharram sendiri merupakan puasa yang paling utama setelah Ramadhan.

Keutamaan tersebut tidak terlepas dari kedudukan Muharram sebagai salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Artinya: "Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah-Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam." (HR Muslim nomor 1163)(3)

4. Menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW

Melaksanakan puasa Tasu'a dan Asyura merupakan salah satu cara menghidupkan sunnah Rasulullah SAW. Meskipun Nabi SAW belum sempat melaksanakan puasa Tasu'a, ia telah berniat sebagaimana sabdanya:

"Jika demikian, pada tahun mendatang kita juga akan berpuasa pada hari kesembilan, insya Allah." (HR Muslim)(4)

Sementara itu, puasa Asyura menjadi salah satu amalan yang senantiasa dijaga oleh Nabi Muhammad SAW. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

عَنْ حَفْصَةَ قَالَتْ أَرْبَعُ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِيَامَ عَاشُورَاءَ وَالْعَشْرَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ [رواه أحمد والنسائي]

Artinya: "Dari Hafshah RA, "Ada empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi SAW: puasa Asyura, puasa sepuluh hari [Dzulhijjah], puasa tiga hari setiap bulan, dan shalat dua rakaat sebelum Subuh." (HR Ahmad dan an-Nasa'i)(1)

Nah detikers, demikianlah ulasan mengenai puasa sunnah yang dianjurkan untuk dilaksanakan pada 25 Juni 2026 besok. Semoga bermanfaat, detikers!

Referensi:

1. Laman Muhammadiyah 'Dalil-dalil Disyariatkannya Puasa Tasua dan Asyura'
2. Buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun
3. Laman Rumaysho 'Keutamaan Puasa Asyura'
4. Buku Siapa Berpuasa Dimudahkan Urusannya oleh Khalifa Zain Nasrullah




(urw/alk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads