Teror Organisasi Papua Merdeka (OPM) membuat sejumlah warga di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, masih hidup dalam penderitaan. Mereka terpaksa kabur dari rumah dan mengungsi ke hutan karena kerap dipalak kelompok separatis Rp 200 ribu tiap kepala keluarga (KK).
Masyarakat ternyata masih hidup dalam kekhawatiran sejak OPM memicu kerusuhan di Jalan Trans Moskona Barat-Moskona Utara di Teluk Bintuni pada 29 September 2022. Insiden itu mengakibatkan 4 pekerja proyek jalan tewas.
Kala itu, para pelaku melakukan penyerangan hingga membantai korban menggunakan senjata tajam dan senjata api. Sekelompok OPM juga membakar fasilitas proyek di lokasi kejadian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kerusuhan tahun 2022 di Moskona Utara OPM ada bunuh karyawan pekerja jalan," ungkap Kepala Penerangan Koops TNI Papua, Letkol Inf Wirya kepada BeritaKlik, Jumat (20/3/2026).
Serangan OPM saat itu sempat memicu gelombang eksodus warga Maybrat untuk mengungsi ke tempat aman. Selang beberapa tahun, warga secara bertahap dipulangkan kembali ke rumah.
Kendati begitu, adapula sejumlah warga masih memilih bertahan di pengungsian. Pembantaian OPM pada 2022 silam masih menimbulkan trauma bagi masyarakat Maybrat, khususnya yang berbatasan dengan Teluk Bintuni.
"Bagian dari gangguan tahun 2022, yang masih berdampak sampai sekarang ketakutan di masyarakatnya," tambah Wirya.
Ketakutan warga akan teror OPM tidak kunjung mereda lantaran aksi pemalakan yang dilakukan para pelaku. Sejumlah warga mengaku kerap dimintai uang secara paksa.
"Dari masyarakatnya masih sering diganggu pemalakan Rp 200 ribu per KK oleh OPM, sehingga masyarakat banyak kabur ke hutan, dan ada juga yang masih di hutan untuk mengungsi," bebernya.
Aksi pemalakan OPM itu sudah dilaporkan ke pemerintah daerah (pemda) setempat dan diteruskan ke aparat keamanan untuk ditindaklanjuti. Warga dievakuasi keluar dari hutan untuk diungsikan ke lokasi lain yang lebih aman.
"Setelah pemalakan warga melaporkan ke pihak pemda dan pemda meminta bantuan ke satgas untuk membantu pengamanan dalam pelaksanaan evakuasi," ucap Wirya.
21 Warga Dievakuasi dari Hutan ke Pos TNI
Aparat gabungan TNI melakukan pendataan terahdap warga di Maybrat yang dievakuasi akibat gangguan OPM. (dok. Istimewa) |
Aparat gabungan TNI bersama pemerintah daerah mengevakuasi 21 warga di Dusun Topo, Kampung Ainesra, Distrik Aifat Timur Jauh, Maybrat, Selasa (17/3). Mereka selama ini bertahan di hutan perbatasan antara Maybrat dan Teluk Bintuni akibat gangguan OPM.
Proses evakuasi berlangsung lancar dan aman. Seluruh pengungsi yang berkumpul di titik penjemputan, dievakuasi tim Patroli Gabungan Koops TNI Papua menuju Pos Komando Taktis (Kotis) Koops TNI Papua.
Setibanya di Pos Kotis, para pengungsi menjalani pemeriksaan kesehatan oleh tim medis Koops TNI Papua. Para pengungsi lalu didata identitasnya guna memastikan dan kebutuhan masing-masing.
"Untuk sementara waktu, para pengungsi ditempatkan di lokasi penampungan di wilayah Distrik Aifat, sambil menunggu proses koordinasi lebih lanjut terkait pemulangan ke daerah asal, khususnya bagi warga dari Kabupaten Teluk Bintuni," imbuh Wirya.
Wirya kembali memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib, aman, dan lancar. Hal ini mencerminkan sinergi yang kuat antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menjamin keselamatan warga.
"Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah lanjutan melalui pemenuhan kebutuhan dasar, pembinaan, serta koordinasi lintas wilayah guna memastikan proses pemulangan berjalan aman, tertib, dan bermartabat," jelasnya.
(sar/sar)

