Bos Sop Keluargata-Coto Dewi Tak Kapok Pakai Fasum Padahal Lapak Dibongkar

Makassar

Bos Sop Keluargata-Coto Dewi Tak Kapok Pakai Fasum Padahal Lapak Dibongkar

Tim detikSulsel - detikSulsel
Selasa, 16 Jun 2026 06:30 WIB
Kondisi warung Sop Keluargata di Sunu, Makassar, usai kembali dibongkar petugas.
Kondisi warung Sop Keluargata di Sunu, Makassar, usai kembali dibongkar petugas. Foto: (Sahrul Alim/detikSulsel)
Makassar -

Warung makan Sop Keluargata dan Coto Dewi di Jalan Sunu, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), dibongkar lagi setelah sebelumnya sudah ditertibkan karena berada di atas fasilitas umum (fasum). Pemilik warung getol tetap berjualan di atas fasum dengan dalih nasib karyawan.

Penertiban kedua ini dilakukan Pemerintah Kecamatan Bontoala, Senin (15/6). Eksekusi dilakukan pihak kecamatan setelah menerima laporan bahwa Sop Keluargata hingga Coto Dewi kembali berjualan di atas fasum.

"Jadi penertiban ini adalah penertiban tahap kedua, kemarin waktu tahap pertama sebenarnya kita anggap sudah selesai," ujar Camat Bontoala Fataullah kepada wartawan di lokasi, Senin (15/6).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fataullah mengatakan penertiban pertama sudah dilakukan pada Rabu (10/6). Namun saat tim penertiban meninggalkan lokasi, pengelola warung makan tersebut ternyata kembali berjualan di lokasi bekas bongkaran.

"Ketika sudah dibongkar kemarin Rabu, sorenya mereka bangun lagi dan mereka berjualan lagi," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Tak hanya itu, pengelola Sop Saudarata disebut sengaja memviralkan aksinya ini. Mereka membuat konten di media sosial seolah menantang untuk ditertibkan kembali.

"Kemudian mereka viralkan lagi di TikTok, media, kemudian sifatnya menantang lah. Akhirnya tim turun kembali melihat dan ternyata memang masih berjualan dan sifatnya melanggar. Akhirnya, karena dia sifatnya melanggar jadi kita tertibkan kembali," ungkap Fataullah.

Dia memastikan akan melanjutkan penggusuran untuk perdagangan yang melanggar di sepanjang jalan ini. Sebelumnya, pemerintah kecamatan dan kelurahan telah melakukan sosialisasi, teguran pertama dan kedua.

"Kita akan bergeser ke tempat lain yang sudah mendapatkan surat teguran. Khusus di Jalan Sunu itu sudah cukup sosialisasinya kepada yang melanggar," ungkapnya.

Fataullah menyebut pihak pedagang sebelumnya telah berjanji akan membongkar sendiri bangunannya. Namun faktanya, kata dia, kesepakatan saat pertemuan di kantor kecamatan itu tak dipenuhi.

"Kita sepakati itu hari batas waktu sampai 31 Mei untuk melakukan pembongkaran mandiri, itu permintaan mereka. Dia minta sendiri batas waktu itu, habis Idul Adha, mereka setuju," jelasnya.

"Akhirnya kami turun ternyata tidak ada yang melakukan pembongkaran, padahal kita sudah sepakat. Karena katanya mereka rujukannya ke Sop Keluargata, kalau Sop Keluargata bongkar mereka juga bongkar, kalau tidak, mereka juga tidak bongkar," lanjut Fataullah.

Bos Sop Keluargata dan Coto Dewi Tak Kapok Ditertibkan

Pemilik Sop Keluargata dan Coto Dewi, Muhammad Yusuf mengakui warungnya yang dibongkar di Sop Keluargata berada di atas drainase dan melewati roling jalan. Namun, dia mengaku punya karyawan yang butuh pekerjaan ini untuk sekadar makan dan memenuhi kebutuhan hidup.

"Pernah memang dibongkar, tapi saya punya karyawan juga butuh makan," kata Yusuf kepada detikSulsel di lokasi, Senin (15/6).

Yusuf mengaku sudah berjualan makanan khas Sulsel ini sejak 15 tahun lalu di pinggir jalan ini. Sejak saat itu, dia mengaku telah memberdayakan para janda di sekitar tempat tinggalnya.

"Kalau ini saya sudah ada 15 tahun. Dulu kecil-kecil, akhirnya banyak peminat dikembangkan usaha. Ini rata-rata saya pekerjakan orang-orang janda. Gajinya juga tidak seberapa," jelasnya.

"Sebenarnya kalau kita mau tata Makassar kan ada roling, supaya orang tidak membangun lewat dari roling. Inikan bukan permanen, ini darurat, tidak ada permanen, cuma kita pakai lahan untuk berjualan," dalihnya.

Setelah sebagian warungnya dibongkar, Yusuf berharap agar Pemerintah Kota Makassar berlaku adil. Dia menilai sejumlah pengusaha di kawasan tertentu juga melanggar tata ruang.

"Jadi kalau memang pemerintah mau artinya adil, coba yang di jalan Veteran, Sulawesi Somba Opu, jalan Timor, Nusantara, yang punya IMB perlihatkan, tata semua itu. Seumpamanya dia lewat dari roling bongkar juga," kata Yusuf.

Dia lantas merasa diganggu karena merupakan pedagang kecil di Jalan Sunu. Sementara di wilayah lain, dia menuding pengusaha besar tak tersentuh.

"Kalau saya tidak ada masalah, cuma yang kecil yang diganggu. Coba berani kalau di Jalan Nusantara, Sulawesi, Vetaran, buka IMB. Tolong diperlihatkan IMB, tata semua itu Makassar. Kalau seumpamanya lewat dari roling bongkar juga," tegasnya.

"Karena kita lihat yang monopoli itu orang-orang besar. Kalau saya tidak ada masalah, ada yang lebih kecil itu yang diganggu. Coba kalau berani di Jalan Sulawesi, Nusantara, Veteran," pungkas Yusuf.

Halaman 2 dari 3
(asm/asm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads