Harga air galon isi ulang di Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel), naik dari harga Rp 6.000 menjadi Rp 8.000. Kenaikan itu dipicu oleh melonjaknya harga bahan baku operasional, terutama komponen berbahan plastik.
"Sesuai dengan surat edaran yang beredar di masyarakat bahwa kenaikan harga isi ulang air galon itu naiknya Rp 2.000. Dari Rp 6.000 sebelumnya, sekarang jadi Rp 8.000," ujar Plt Ketua Asosiasi Depot Air Minum Isi Ulang Parepare (Asdamipa), Fahril Suaib kepada detikSulsel Selasa (2/6/2026).
Dia menjelaskan, para pengusaha depot sudah tidak bisa mempertahankan harga lama lantaran biaya operasional yang kian mencekik. Berbagai bahan pokok penunjang depot, seperti segel galon, tutup galon, hingga penyediaan galon kosong baru mengalami kenaikan harga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk segel itu naiknya Rp 3.000, kemarin dari Rp 11.000 sekarang jadi Rp 14.000. Tutup galon yang dari plastik juga naik Rp 5.000, dari Rp 90.000 jadi Rp 95.000. Yang paling parah galon kosong baru, naik Rp 7.000 per 100 pieces, dari Rp 21.000 jadi Rp 28.000," bebernya.
Menurutnya, kenaikan harga bahan baku berbahan plastik ini diduga kuat merupakan dampak dari konflik Timur Tengah. Kondisi itu merambah hingga ke operasional air galon.
"Mungkin termasuk mi ini konflik yang terjadi di Timur Tengah. Jadi harga-harga plastik naik, jadi berimbas ke operasional depot juga. Karena kita banyak pakai plastik," tuturnya.
Jika tetap bertahan di harga Rp 6.000, para pengusaha depot khawatir akan gulung tikar karena keuntungan menipis. Belum lagi untuk menutupi gaji karyawan dan tingginya tarif air PDAM.
"Sebenarnya sudah lama kita mau naikkan. Karena kalau bertahan di harga Rp 6 ribu itu tipis sekali untungnya," keluhnya.
Fahri menjelaskan, kebijakan kenaikan harga itu telah disepakati oleh sekitar 95 persen pengusaha depot air minum di Kota Parepare. Kenaikan harga itu diputuskan melalui pertemuan dengan 102 perusahaan depot air minum.
"Sekitar 95 persen pengusaha depot menyepakati dan menyetujui kenaikan tersebut. Kemarin kita undang pengusaha depot rapat di Cempae, alhamdulillah mereka setuju. Ada sekitar 102 atau 103 depot yang bertanda tangan setuju," ungkapnya.
Meski harga ke konsumen naik menjadi Rp 8.000, pihak depot mengaku tetap merangkul pelaku UMKM seperti warung dan kios kelontong agar tetap mendapat untung ideal. Pihak depot menjual ke kios dengan harga Rp 6.000 agar kios bisa menjualnya kembali ke masyarakat dengan harga Rp 8.000.
"Jadi kios-kios sekarang bisa untung Rp 2.000, dari yang dulunya cuma untung Rp 1.000. Kita ikut andil memajukan UMKM mereka," jelasnya.
Pihak pengusaha depot menyadari kebijakan itu pasti memicu respons beragam dari pelanggan. Namun, mereka optimistis masyarakat bisa memaklumi setelah diberikan penjelasan.
"Apalagi air galon ini kita antar sampai ke rumahnya orang dengan harga Rp 8.000 dan free ongkir. Kalau kita jelaskan baik-baik, masyarakat pasti menerima," katanya.
Para pengusaha depot berkomitmen penuh untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kebersihan air. Pihaknya pun berjanji akan lebih selektif dan tidak lagi mengedarkan galon yang bocor atau cacat.
"Harapan kita, kenaikan ini diimbangi dengan pelayanan dan kualitas air yang diperbaiki semua. Kami siap menerima komplain. Seperti galon-galon yang tempelan atau bocor, kita minimalisir. Kalau tidak layak pakai, kita stop dan jangan diedarkan lagi," pungkasnya.
Simak Video "Video: Puluhan Jemaah Umrah Asal Sulsel Terlantar di Makkah, Diduga Tertipu Travel"
[Gambas:Video 20detik]
(ata/sar)










































