DPRD meminta Asosiasi Pengusaha Depot Air Minum Isi Ulang (Asdamipa) Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel) meninjau ulang kenaikan harga air galon isi ulang yang kini Rp 8.000. Peninjauan ulang itu diharapkan menyesuaikan kemampuan warga.
"Lompatnya ini sampai Rp 3.000 (kalau dijual Rp 5.000). Jadi keuntungannya itu, kami merekomendasikan tadi ke mereka atas nama asosiasi supaya memikirkan masyarakat," kata Ketua Komisi III DPRD Parepare, Hamran Hamdani kepada wartawan usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Kantor DPRD Parepare, Senin (8/6/2026).
Menurut Hamran, komponen utama produksi seperti listrik, bahan bakar, hingga bahan baku air dari PDAM terpantau tidak mengalami kenaikan harga. Hanya saja, ada komponen penyaringan yang mengalami kenaikan harga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bahan bakar tidak naik, listrik tidak naik, air dari PDAM juga tidak naik harganya. Filternya? Kalau semua dirata-ratakan itu yang naik sekitar sampai Rp 1.000 dalam per galonnya," jelasnya.
DPRD Parepare menyarankan agar kenaikan dilakukan bertahap agar tidak mengejutkan konsumen. Dia meminta agar kenaikan bisa dimulai dari harga Rp 6.000.
"Kami contohkan umpamanya dari Rp 5.000 naik Rp 6.000, saya rasa masyarakat paham. Itu yang kami harapkan untuk sementara dulu," katanya.
Hamran akan mendorong dinas terkait untuk menyusun Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur Harga Eceran Tertinggi (HET). Selain harga, Perda itu juga diharapkan akan bisa mengatur tentang kualitas air.
"Kami merekomendasikan ke Perindag, dinas terkait, dan Dinas Kesehatan untuk segera menyusun ini untuk Perda, karena ini kita bisa berhak menentukan harga ecerannya," kata Hamran.
Sementara itu, Plt Ketua Asdamipa Parepare, Fahril Suaib menyambut baik masukan DPRD. Pihaknya berjanji akan membawa hasil RDP ini ke internal asosiasi untuk direvisi dan dimusyawarahkan kembali bersama para pengusaha depot.
"Ini menjadi PR kami supaya nanti di asosiasi bisa merevisi kembali bagaimana jalan keluarnya, nanti dimusyawarahkan kembali sama teman-teman asosiasi," tutur Fahrul.
Menurut Fahril, penyesuaian harga dari pihak depot dipicu oleh naiknya harga bahan baku plastik penunjang. Selain itu, kenaikan harga air galon itu juga mempertimbangkan rencana penyesuaian upah bagi para kurir pengantar galon.
"Bahan-bahan plastik sekarang naik, seperti segel, penutup galon. Dan ini juga ada jasa pengantaran ke rumah tangga, jadi pengantar galon bisa juga dikasih naik gajinya," bebernya.
Mengenai keputusan final penurunan harga ke depan, Fahril mengatakan hal tersebut masih bergantung pada dinamika di internal asosiasi. Harga finalnya akan diputuskan setelah musyawarah bersama anggota asosiasi.
"Ini nanti belum ditahu apa keputusannya. Berarti tergantung dari pengusaha galonnya, cocok tidak dengan pelanggannya. Kalau saya pribadi, ya tetap dengan Rp 8.000 karena konsumen saya bisa menerima dan saya jaga kualitasnya," pungkasnya.
Diketahui, para pengusaha depot sudah tidak bisa mempertahankan harga lama lantaran biaya operasional yang kian mencekik. Berbagai bahan pokok penunjang depot, seperti segel galon, tutup galon, hingga penyediaan galon kosong baru mengalami kenaikan harga.
"Untuk segel itu naiknya Rp 3.000, kemarin dari Rp 11.000 sekarang jadi Rp 14.000. Tutup galon yang dari plastik juga naik Rp 5.000, dari Rp 90.000 jadi Rp 95.000. Yang paling parah galon kosong baru, naik Rp 7.000 per 100 pieces, dari Rp 21.000 jadi Rp 28.000," ujar Fahril kepada detikSulsel Selasa (2/6).
Menurutnya, kenaikan harga bahan baku berbahan plastik ini diduga kuat merupakan dampak dari konflik Timur Tengah. Kondisi itu merambah hingga ke operasional air galon.
"Mungkin termasuk mi ini konflik yang terjadi di Timur Tengah. Jadi harga-harga plastik naik, jadi berimbas ke operasional depot juga. Karena kita banyak pakai plastik," tuturnya.
Jika tetap bertahan di harga Rp 6.000, para pengusaha depot khawatir akan gulung tikar karena keuntungan menipis. Belum lagi untuk menutupi gaji karyawan dan tingginya tarif air PDAM.
"Sebenarnya sudah lama kita mau naikkan. Karena kalau bertahan di harga Rp 6 ribu itu tipis sekali untungnya," keluhnya.
(asm/hsr)










































