detikBali
detikBali-Nusra Awards 2026

Sanggar Pradnya Swari, Merawat Asa Anak Disabilitas Lewat Harmoni Tari Bali

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026
detikBali-Nusra Awards 2026

Sanggar Pradnya Swari, Merawat Asa Anak Disabilitas Lewat Harmoni Tari Bali


I Putu Adi Budiastrawan - detikBali

Ni Kadek Astini (39) saat mengajarkan anak-anak didiknya menari Bali di Sanggar Tari Pradnya Swari di Lingkungan Menega, Kelurahan Dauh Waru, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana, Selasa (21/4/2026). (I Putu Adi Budiastrawan/detikBali).
Foto: Ni Kadek Astini (39) saat mengajarkan anak-anak didiknya menari Bali di Sanggar Tari Pradnya Swari di Lingkungan Menega, Kelurahan Dauh Waru, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana, Selasa (21/4/2026). (I Putu Adi Budiastrawan/detikBali).
Jembrana -

Sanggar Tari Pradnya Swari di Kelurahan Dauhwaru, Kecamatan Jembrana, Bali, hadir dengan misi yang berbeda dari sanggar seni pada umumnya. Sanggar milik Ni Kadek Astini (39) ini mendedikasikan diri menjadi jembatan kesetaraan bagi anak-anak disabilitas melalui seni tari Bali.

Berbeda dengan sanggar lain, Astini memberikan ruang spesial bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk ikut melenturkan jemari dan raga dalam balutan gerak tari tradisional Bali. Istimewanya, seluruh fasilitas ini diberikan secara cuma-cuma alias gratis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perjalanan Astini dimulai sejak tahun 2010. Kala itu, perempuan asal Gianyar ini baru saja menikah dan menetap di Jembrana. Melihat minimnya penari saat upacara piodalan di banjar, hatinya tergerak untuk mengajar anak-anak di lingkungan sekitarnya agar bisa ngayah (berbakti dengan tulus ikhlas) menari di pura.

"Awalnya gratis tahun 2012, muridnya cuma 4 sampai 10 orang di Dauhwaru, Kecamatan Jembrana. Tahun 2013 baru mulai bayar, per datang itu Rp 2.000 per orang," ungkap ibu tiga anak ini saat dikonfirmasi detikBali, Rabu (1/7/2026).

ADVERTISEMENT

Seiring waktu, sanggarnya berkembang pesat. Dari ujian pertama di Wantilan Pura Jagatnatha Jembrana yang hanya diikuti 40 siswa, kini Sanggar Pradnya Swari memiliki lebih dari 420 siswa yang tersebar dari Kecamatan Pekutatan hingga Melaya.

Titik balik perjuangan Astini merangkul anak berkebutuhan khusus terjadi pada tahun 2020. Dirinya melihat seorang anak tuna daksa yang merupakan saudara dari anggota sanggarnya tampak canggung saat melihat teman-temannya menari. Astini lantas mengajaknya bergabung.

Tak sekadar mengajak, Astini bahkan rela mendatangi langsung rumah anak-anak disabilitas untuk meyakinkan orang tua mereka. Ia memberikan fasilitas latihan, snack, hingga minuman gratis bagi mereka yang ingin belajar.

Tantangan terbesar muncul saat ia harus mengajar anak-anak tuna rungu tanpa bekal kemampuan bahasa isyarat. Namun, keterbatasan itu diatasi dengan kreativitas.

"Awalnya saya tidak bisa bahasa isyarat untuk tuna rungu, jadi kami pakai bahasa tubuh. Kami sepakati instruksi, kalau tangan saya ke kanan itu agem kanan. Ternyata mereka sangat cepat mengerti," kenang Astini.

Perjuangan tulus Astini membuahkan hasil manis. Pada 2022, sembilan penari disabilitas binaannya diboyong oleh Kementerian Sosial untuk tampil di Jakarta. Tidak hanya ibu kota, mereka juga sempat unjuk gigi di Makassar hingga berbagai kabupaten di Bali.

Salah satu momen yang paling berkesan adalah saat salah satu murid disabilitasnya, I Gusti Ayu Resya Iswara, viral di media sosial karena mengutarakan keinginannya untuk bertemu Megawati Soekarnoputri.

Video tersebut menarik perhatian ajudan Presiden ke-5 RI tersebut. Hingga akhirnya pada 2024, keinginan sang penari disabilitas terwujud untuk bertemu langsung dengan Megawati di Batubulan, Gianyar.

Meski telah mendulang sukses dan membawa dampak sosial yang besar, jalan Astini tidak selalu mulus. Ia sempat diterpa isu miring dan dituding mengambil keuntungan atau bantuan atas nama anak disabilitas. Dengan tegas, Astini menepis tuduhan tersebut.

"Kami hanya memfasilitasi tempat dan menjembatani. Tidak ada pemotongan, bahkan kami ikut ngayah," tegasnya.

Saat ini, sanggar mematok biaya SPP reguler sebesar Rp 60.000 per bulan untuk 12 kali pertemuan. Namun, Astini tetap berkomitmen menggratiskan biaya bagi mereka yang kurang mampu.

"Ada sekitar 30 orang yang kami gratiskan dalam setahun dengan bukti dari kepala lingkungan. Hasil SPP kami gunakan untuk pelatih dan kebutuhan sanggar. Tujuan kami hanya agar generasi muda bisa menari, agar gampang mencari talenta untuk ajang seperti PKB," tuturnya.

Kini, Astini tengah sibuk membina empat perwakilan Jembrana yang akan berlaga di ajang bergengsi Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026.

"Ada empat garapan untuk PKB, pertama acara pembukaan, membina tari makepung, membina tari pelegongan klasik, dan menggarap dari awal bersama teman untuk gong kebyar dewasa," pungkas Astini.

Kini, nama Sanggar Pradnya Swari tidak hanya dikenal di Bali. Astini bahkan mengajar secara daring untuk murid di Jakarta hingga WNI di Australia dan Jerman. Meski sempat batal mengirim penari ke Jerman karena kendala anggaran KBRI.




(nor/nor)










Hide Ads