Antrean kendaraan dari arah timur Denpasar menuju Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, mengular hingga 16 kilometer Senin (16/3/2026). Bahkan pemudik terjebak 22 jam.
Kondisi ini membuat para pemudik harus berjuang ekstra. Salah satunya Dodi (54), pemudik asal Jembrana yang hendak menuju Jawa Barat. Dirinya mengaku terjebak kemacetan hingga puluhan jam sebelum akhirnya bisa menyentuh area pelabuhan.
"Parah sekali ini macetnya, tumben sampai begini. Saya berangkat dari Minggu (15/3/2026) jam 09.00 Wita, baru bisa masuk wilayah dalam pelabuhan Senin (16/3/2026) jam 07.00 Wita," tutur Dodi saat ditemui detikBali, Senin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dodi yang mudik memboyong keluarganya merasa iba dengan kondisi cucunya yang kelelahan akibat terlalu lama berada di dalam mobil. "Kasihan cucu saya kelelahan di dalam mobil. Semua kegiatan makan sampai tidur ya di mobil saja," imbuhnya.
Keluhkan Minimnya Toilet di Jalur Hutan
Selain durasi antrean yang mencekik, minimnya fasilitas sanitasi di sepanjang jalur mudik menjadi keluhan utama, terutama saat kendaraan melintasi kawasan Hutan Cekik.
Pemudik lainnya, Anna, menceritakan pengalamannya yang berangkat dari Kota Negara pada Senin dini hari pukul 00.30 Wita. Hingga pukul 13.00 Wita, dirinya bahkan belum masuk ke area pelabuhan dan masih tertahan di pengalihan arus pemukiman warga.
"Masuk Hutan Cekik itu jam 07.00 Wita, sekarang jam 13.00 Wita baru sampai di gang-gang pemukiman. Belum masuk pelabuhan juga," keluh Anna.
Sebagai pemudik perempuan, Anna merasa sangat kesulitan karena tidak adanya akses toilet di wilayah hutan. "Saya susah sekali akses toilet, terutama sebelum masuk Gilimanuk. Di hutan itu tidak ada toilet sama sekali. Sebagai wanita, sakit sekali kalau harus menahan buang air," cetusnya.
Nasib serupa dialami Andre. Dirinya mengaku sempat mengalami kejadian menjengkelkan saat terjebak macet di tengah hutan. Karena tidak ada fasilitas umum, Andre terpaksa harus buang air besar di area hutan.
Hingga berita ini ditulis, volume kendaraan terpantau masih padat merayap. Petugas kepolisian terus berupaya melakukan rekayasa lalu lintas dengan mengarahkan kendaraan kecil ke gang-gang pemukiman di wilayah Gilimanuk untuk memecah kepadatan di jalur utama.
Permasalahan yang memperparah kemacetan adanya bus pariwisata yang mengambil lajur kanan untuk menyalip antrean sehingga tertahan kendaraan yang bergerak dari arah berlawanan. Kondisi ini mengharuskan petugas dibantu pemudik untuk mengatur lalulintas.
"Terlebih lagi saat adanya truk yang mogok di tengah arus mudik juga memperparah antrean. Kita harus membantu mendorong truk agar bisa menepi dab arus kembali normal," tandas Andre.
(mud/mud)

