Bangkai paus sperma sepanjang 17 meter yang terdampar di Pantai Desa Nusasari, Kecamatan Melaya, Jembrana, Bali, hingga kini belum dikubur. Tulang atau kerangka mamalia laut raksasa tersebut akan diboyong ke Medan, Sumatera Utara, untuk dijadikan koleksi museum.
Hal itu diketahui dari surat permohonan yang dilayangkan Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) melalui Rahmat International Wildlife Museum & Gallery kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Melalui surat bernomor 027/RR/MG/V/2026 itu, pengelola museum memohon hibah agar bangkai paus tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasat Polairud Polres Jembrana, AKP I Putu Suparta, mengungkapkan personelnya masih bersiaga di Pantai Nusasari. Polisi berjaga agar bagian tubuh bangkai paus sperma itu tidak hilang dicuri sebelum proses evakuasi tulang dilakukan.
"Sudah malam kedua kami di sini. Informasinya dari PKBSI akan mengambil tulangnya untuk di museum," ungkap Suparta saat ditemui detikBali di lokasi, Kamis (7/5/2026).
Suparta mengaku masih menunggu kedatangan tim PKBSI. Selain itu, petugas juga tengah mencari sekitar 20 orang tenaga tambahan untuk membantu proses pembersihan daging dari tulang paus sebelum kerangka tersebut diangkut dan sisa dagingnya dikubur.
"Saat ini air masih pasang, kemungkinan sore baru diproses," kata Suparta.
Diketahui, paus sperma ini ditemukan terdampar sejak Selasa (5/5). Sempat terlihat masih hidup sekitar pukul 14.00 Wita, paus malang itu akhirnya dinyatakan mati setelah air laut surut drastis dan tubuhnya kandas sepenuhnya di pesisir pantai.
Sementara itu, proses nekropsi (bedah bangkai) terhadap paus betina ini sempat terkendala cuaca hujan deras dan pasang surut air laut. Di tengah proses tersebut, tim medis menemukan adanya bekas perusakan pada bagian mulut paus.
Diduga, ada oknum yang mencoba mencuri gigi paus tersebut secara paksa. "Yang jelas, kami menemukan ada upaya-upaya mengambil gigi. Ada retakan dan bekas upaya pengambilan paksa," ujar relawan Jaringan Satwa Indonesia (JSI), Abdullatif Muhammad, Rabu (6/5).
Tim medis telah mengambil lebih dari 20 sampel organ untuk uji laboratorium dan DNA guna memastikan penyebab pasti kematian. Dugaan awal, paus tersebut mengalami crush syndrome atau gagal organ akibat tekanan gravitasi saat terdampar di daratan, serta kemungkinan kemasukan air pada lubang pernapasan (blow hole).
(iws/iws)

