detikBali

Tradisi Ngelawang Barong di Manis Galungan, Anak-anak Raup Banyak Punia

Terpopuler Koleksi Pilihan

Tradisi Ngelawang Barong di Manis Galungan, Anak-anak Raup Banyak Punia


Fatih Kudus Jaelani - detikBali

Anak-anak dari kelompok kesenian Besan, Klungkung tengah melawang barong di monumen puputan Ida Dewa Agung Jambe, Klungkung, Bali, Kamis (18/6/2026). (Fatih Kudus Jaelani/detikBali).
Foto: Anak-anak dari kelompok kesenian Besan, Klungkung tengah melawang barong di monumen puputan Ida Dewa Agung Jambe, Klungkung, Bali, Kamis (18/6/2026). (Fatih Kudus Jaelani/detikBali).
Denpasar -

Suasana hari raya di Kabupaten Klungkung, Bali, kian semarak dengan kehadiran tradisi ngelawang. Anak-anak memainkan pementasan seni sakral yang dipusatkan di kawasan ikonik Tugu Monumen Puputan Ida Dewa Agung Jambe dan Alun-alun Ida Dewa Agung Jambe.

Pantauan di lokasi pada Kamis (18/6/2026) sore, beberapa kelompok (sekaa) kesenian anak-anak mulai memainkan barong. Beberapa warga berdatangan menyaksikan kelihaian mereka memainkan barong berkepala babi (bangkung dan bangkal).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah seorang pemain barong I Made Malvin Dani Suara yang kini tengah duduk di bangku kelas VI SDN 1 Semarapura Kangin mengatakan sudah ngelawang sejak hari raya Galungan kemarin. Mereka berasal dari kelompok kesenian (sekaa) Bangkal Siwa dari Desa Besang Kangin, Kecamatan Klungkung, Klungkung, Bali.

"Ini yang kami mainkan Barong Bangkal. Barong bangkal adalah babi jantan. Sedangkan barong bangkung babi betina. Lebih kecil ukurannya," terang Malvin pada detikBali.

ADVERTISEMENT

Tradisi ngelawang dengan memainkan barong sendiri sudah ia lakukan sejak dua tahun lalu. Kata Malvin, dia sudah main barong dari tiga kali Galungan dan Kuningan.

Tradisi ngelawang kali ini tidak hanya mulai dilakukan di hari Manis Galungan (sehari setelah Galungan), aksi ini sudah mencuri perhatian sejak Rabu (17/6/2026) malam, tepat pada Hari Raya Galungan.

"Kami mulai ngelawang dari malam Galungan kemarin untuk menghibur warga yang sedang berkumpul bersama keluarga. Respon masyarakat sangat luar biasa, makanya sore ini kami lanjut pusatkan di area monumen. Ada juga yang main di alun-alun," terang Malvin.

Dalam pertunjukannya, warga yang menonton terutama dari kalangan anak-anak tampak senang memberikan punia (uang sumbanhan) ke dalam mulut barong. Malvin mengatakan, sejak kemarin, cukup banyak yang memberikan mereka.

"Ada yang ngasih Rp 5 ribu, ada juga yang ngasih Rp 10 ribu," paparnya.

Seorang warga Klungkung I Nengah Sugiarta menerangkan, ngelawang merupakan rangkaian utama dari perayaan Galungan. Secara filosofis, barong yang menyerupai babi hutan ini dipercaya berfungsi sebagai penolak bala (bala patra). Kehadiran barong yang mengitari pusat kota Klungkung ini diharapkan mampu menetralisir energi negatif serta membawa keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

"Kalau dulu barong ini akan masuk ke rumah-rumah warga. Sesuai dari arti ngelawang yang berasal dari kata 'lawang' yang berarti pintu. Sekarang di beberapa desa masih ada yang masuk ke rumah-rumah. Tapi lebih banyak dipusatkan di monumen dan alun-alun kota," terangnya.




(nor/nor)










Hide Ads