Sejumlah busana adat dari Gianyar yang memiliki nilai, tradisi, dan perjalanan sejarah ditampilkan apik dalam Parade Busana Adat Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII 2026. Sejumlah busana itu ditampilkan oleh para model di Taman Budaya Art Center, Denpasar.
"Tidak sekadar menampilkan busana adat, tetapi juga menghadirkan narasi budaya yang hidup di tengah masyarakat," kata Ketua Tim Penggerak Pembina Kesejahteraan Keluarga (PKK) Gianyar, Ida Ayu Surya Adnyani, dalam keterangannya, Senin (22/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Busana adat pecalang menjadi yang pertama ditampilkan dalam parade. Busana itu memiliki atasan berwarna gelap dengan kain bermotif papan catur hitam putih khas Bali (poleng). Busana ini menggambarkan sosok penjaga keamanan adat Bali yang identik dengan kewibawaan dan pengabdian.
Pecalang itu dilengkapi keris yang terselip di pinggang. Keris itu bukan sekadar aksesori, melainkan sebagai simbol kehormatan.
"Udeng dan busana adat yang dikenakan menggambarkan kesiapsiagaan dalam menjaga ketertiban dan kesucian wilayah adat. Menghadirkan filosofi Rwa Bhineda," terang Adnyani.
Selain pecalang, duta dari Gianyar masih punya suguhan lain, yakni tradisi Nuuh dari Banjar Sebatu, Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang. Tradisi yang juga dikenal sebagai Mejarag Jaje Lempeng itu adalah ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil panen, sekaligus permohonan perlindungan dari berbagai gangguan yang mengancam keberlangsungan pertanian.
Adnyani mengatakan ada tokoh utama dalam tradisi itu, yakni tukang adur. Sosok itu tampil sederhana dengan kamen hitam, kampuh poleng, umpal, sumpang pucuk, serta ikat kepala dari janur. "Kesederhanaan itu justru menjadi kekuatan yang memperlihatkan kedekatan masyarakat Gianyar dengan alam dan tradisi leluhur yang diwariskan turun-temurun," katanya.
Selain dua itu, beberapa busana khas dan tradisi di Gianyar ditampilkan. Kemewahan ragam hias, keindahan tata rias, serta detail busana yang khas menampilkan kekayaan estetika yang tumbuh dan berkembang di Gianyar dipamerkan dalam panggung itu.
Menurut Adnyani, keikutsertaan Gianyar dalam parade busana Adat Bali merupakan bagian dari upaya pelestarian dan promosi budaya daerah kepada masyarakat luas. Selain itu,ini juga sebagai upaya mengajak penonton menyelami kekayaan tradisi yang hidup di setiap sudut Gianyar.
"Setiap busana yang ditampilkan tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mengandung filosofi, sejarah, dan identitas masyarakat Gianyar yang patut dijaga bersama," ucap Sekretaris I PKK Gianyar, Ida Ayu Diana Dewi Agung Mayun.
(hsa/hsa)

