detikBali

Kapal Singapura Ditembak di Selat Hormuz, PBB Tunda Evakuasi 11.000 Pelaut

Terpopuler Koleksi Pilihan

Kapal Singapura Ditembak di Selat Hormuz, PBB Tunda Evakuasi 11.000 Pelaut


Ignacio Geordi Oswaldo - detikBali

Vessels at the Strait of Hormuz, as seen from Musandam, Oman, June 18, 2026. REUTERS/Stringer
Aktivitas kapal di Selat Hormuz. (Foto: REUTERS/Stringer)
Denpasar -

Serangan terhadap sebuah kapal kontainer di Selat Hormuz memaksa Organisasi Maritim Internasional (IMO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghentikan sementara operasi evakuasi sekitar 600 kapal dan 11.000 pelaut yang masih tertahan di kawasan Teluk. Penundaan dilakukan setelah muncul kekhawatiran jalur pelayaran tidak lagi aman di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.

Melansir detikFinance, Jumat (26/6/2026), laporan serangan pertama kali diterima oleh United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO). Kapal tersebut dilaporkan terkena proyektil di sisi kanan lambungnya sekitar 14 kilometer atau 7,5 mil laut di tenggara Pelabuhan Dahit, Oman.

Sumber keamanan maritim mengatakan bahwa kapal tersebut diduga menjadi sasaran drone. Namun, hingga kini belum diketahui pihak yang berada di balik serangan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam laporan keamanan maritim, kapal yang diserang diidentifikasi sebagai kapal kontainer berbendera Singapura, Ever Lovely. Kapal itu diperkirakan berlayar sendiri karena tidak berada dalam skema evakuasi IMO.

ADVERTISEMENT

Laporan serangan muncul hanya beberapa jam setelah Iran memerintahkan kapal-kapal untuk tidak melintasi Selat Hormuz tanpa izin dari Teheran.

"Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memerintahkan dua kapal berbendera Panama untuk mengubah haluan pada Kamis pagi," jelas Al Jazeera menurut keterangan perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey.

Setelah insiden tersebut, Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA) yang dibentuk Iran untuk mengelola Selat Hormuz menyatakan kapal yang melintas di luar jalur yang telah ditentukan tidak akan mendapat jaminan keamanan.

"Konsekuensi yang timbul akibat melewati jalur yang tidak sah menjadi tanggung jawab pemilik, operator, dan komandan kapal," tambah PGSA pada X.

Sejak Selasa (23/6), IMO menjalankan inisiatif untuk mengevakuasi sekitar 600 kapal dan 11.000 pelaut yang terdampar akibat penutupan Selat Hormuz selama perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.

Evakuasi dilakukan melalui dua jalur, yakni perairan Iran dan perairan Oman yang berada di bawah pengawasan AS.

Namun, menyusul laporan serangan terhadap kapal berbendera Singapura itu, Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez memutuskan menunda sementara pelaksanaan evakuasi hingga keselamatan pelayaran dipastikan kembali.

"Saya telah memutuskan untuk menunda sementara pelaksanaan (rencana evakuasi) guna menegaskan kembali bahwa jaminan keselamatan yang diperlukan tetap berlaku untuk kapal-kapal dalam daftar evakuasi kami dan semua kapal di wilayah tersebut," kata Dominguez dalam sebuah pernyataan.

IMO menegaskan evakuasi kapal dan kargo akan kembali dilanjutkan setelah verifikasi keamanan navigasi selesai dan situasi di Selat Hormuz dinilai aman.

Artikel ini telah tayang di detikFinance. Baca selengkapnya di sini!




(dpw/dpw)










Hide Ads
LIVE