Prosesi adat yang dijalani Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Lampung berujung sindiran dari PDIP. Setelah viral menginjak kepala kerbau dalam rangkaian upacara adat, Jokowi dinilai belum 'naik kelas' karena masih menerima penobatan adat di daerah meski pernah menjadi kepala negara.
Video Jokowi menginjak kepala kerbau saat kunjungan ke Lampung sebelumnya ramai beredar di media sosial. Dalam rekaman yang viral, kepala kerbau terlihat diletakkan di atas karpet merah sebelum diinjak Jokowi sebagai bagian dari prosesi adat.
Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira mengaku tidak memahami adat istiadat masyarakat Lampung yang dikaitkan dengan prosesi menginjak kepala kerbau tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak memahami adat istiadat dan budaya masyarakat Lampung, apalagi sampai dikaitkan dengan menginjak kepala kerbau," kata Andreas kepada wartawan, dilansir dari detikNews, Senin (29/6/2026).
Andreas juga menanggapi anggapan yang mengaitkan prosesi itu dengan simbol penghinaan terhadap PDIP. Menurutnya, lambang PDIP bukanlah kerbau.
"Tapi kalau seandainya menginjak kepala kerbau itu, oleh yang menginjak, mau dimaknai sebagai simbolisasi menghina PDI Perjuangan, ha-ha-ha.... Maaf, lambang PDI Perjuangan bukan kepala kerbau. Lambang PDI Perjuangan itu banteng moncong putih," ucap dia.
Tak berhenti di situ, Andreas turut mengkritik penobatan adat yang diterima Jokowi. Menurutnya, tidak lazim seorang mantan presiden yang pernah menjadi simbol pemersatu bangsa menerima gelar sebagai kepala adat atau raja di suatu daerah.
"Juga menurut saya tidak biasa dan tidak pantas seseorang yang sudah pernah menjadi presiden yang merupakan simbol pemersatu bangsa, kemudian datang ke daerah untuk dinobatkan sebagai raja, atau sebagai kepala adat atau kepala suku dari sekelompok masyarakat," imbuhnya.
Andreas bahkan menyebut mantan presiden seharusnya memperoleh pengakuan yang lebih tinggi, seperti gelar akademik dari luar negeri. Dia menilai Jokowi masih berkutat pada level lokal.
"Harus naik kelas dong, kelasnya harus beda dong. Masa sih, mantan presiden mainannya masih lokal-lokalan, masih mau cari dukungan suarakah?" imbuh dia.
PSI: PDIP Justru Menghina Adat Lampung
Pernyataan Andreas kemudian dibalas PSI. Ketua DPP PSI Bestari Barus menilai komentar PDIP justru merendahkan adat dan budaya masyarakat Lampung.
"Saya kira itu menghinakan adat budaya gitu loh. Itu kan menghina prosesi adat budaya Lampung. Tapi mudah-mudahan masyarakat Lampung menyikapinya dengan bijak lah dan semakin mengetahui betapa mereka sedang berhadapan dengan orang-orang yang tidak paham adat Lampung tapi ngomong-ngomong adat Lampung," kata Bestari kepada wartawan, Senin (29/6/2026).
Bestari menjelaskan prosesi injak kepala kerbau yang dijalani Jokowi merupakan tradisi adat yang diberikan sebagai bentuk penghormatan oleh pimpinan adat di Lampung.
"Iya itu adalah sebuah prosesi adat istiadat Lampung dari beberapa kerajaan itu ya, kerajaan adat itu mereka memberikan penghargaan kepada Pak Jokowi dengan ritual yang memang telah dilaksanakan sebelum adanya PDIP di republik ini," ucap Bestari.
Bestari juga mempertanyakan pernyataan Andreas yang seolah menetapkan standar bagi seorang tokoh nasional.
"Karena apa? Karena dia coba membuat standar ya, mencoba membuat standar begini loh berpartai, kalau orang yang apa namanya, tokoh harus begini loh. Lah emang dia siapa gitu kok menentukan arah langkah orang gitu," ucap dia.
Lebih jauh, Bestari meminta PDIP tidak terus mengomentari Jokowi jika memang tidak menyukainya. Dia juga menyinggung posisi politik PDIP saat ini.
"Kalau nggak suka ya sudah hindarin saja. Kalau kemudian luka, kecewa, dan merasa terdegradasi oleh ditinggalkan Pak Jokowi, ya berbenah dululah diri. Ini ngaku kadang-kadang oposisi, kadang-kadang tidak oposisi. Orang nggak jelas jenis kelaminnya mau gimana sih," ujar dia.
Di akhir pernyataannya, Bestari meminta Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengingatkan kader-kader partainya agar menghormati adat dan budaya daerah.
"Mulai hari ini semoga Bu Megawati bisa menasihati anak buahnya untuk lebih menghormati budaya masyarakat Indonesia di mana pun berada gitu. Masukkan dalam kurikulum sekolah partai di PDIP gitu," tutur dia.
(dpw/dpw)

