Gubernur Bali Wayan Koster mengeklaim tingkat pemilahan sampah di Bali telah mencapai 70 persen. Capaian itu disebut meningkat setelah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali membatasi pengiriman sampah organik ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung hanya dua kali dalam sepekan.
"Terus meningkat, karena sudah dibatasi hanya dua kali dalam seminggu untuk sampah organik dan sisanya itu adalah yang nonorganik," kata Koster ditemui seusai Apel Siaga Pemilahan Sampah di Lapangan Renon, Denpasar, Selasa (7/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah ini terus ditingkatkan dan sampai saat ini baru mencapai 70 persen maka kami terus pacu, pada akhirnya juga TPA Suwung harus ditutup," sambungnya.
Ia menilai gerakan memilah sampah dari rumah tangga menjadi kunci agar berbagai fasilitas pengolahan sampah, seperti Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), hingga Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), dapat beroperasi secara optimal.
"Jadi karena itu gerakan hari ini apel memilah sampah itu sangat penting untuk diteruskan kepada warga agar seperti itu makin semangat untuk memilah sampah di warga," jelasnya.
Koster juga memahami kondisi Badung dan Denpasar yang padat penduduk akan lebih ekstra dalam mengedukasi dan mendorong pemilahan sampah di rumah tangga, maupun hotel, resto dan kafe.
"Tidak semua bisa dikelola di sumber tapi paling tidak bisa dipilah. Sehingga nanti sampah yang sudah terpilih ini bisa dibawa nanti ke fasilitas pengelolaan sampah menjadi energi listrik yang akan dibangun di Bali," tandas Koster.
Wamen Hanif dan Koster Pimpin Apel Siaga Pilah Sampah
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq dan Gubernur Bali Wayan Koster memimpin apel siaga pilah sampah di Lapangan Renon, Denpasar, Selasa (7/7/2026).
Koster mengawali apel tersebut dengan menyampaikan pesan terkait pemilahan sampah di Bali. Di depan TNI/Polri, Dinas Lingkungan Hidup Badung dan Denpasar, siswa-siswi perwakilan dari Badung dan Denpasar, Koster mengatakan pentingnya gerakan pemilahan sampah terutama organik untuk diolah sendiri menjadi pupuk.
"Melalui apel siaga pilah sampah ini kita jadikan pemilahan sampah sebagai gerakan harian yang melekat di setiap rumah tangga di Bali," kata Koster.
Koster melanjutkan, jika dilakukan secara konsisten akan memberi manfaat yang besar terutama bagi alam Bali.
Sementara itu, Wamenko Hanif menambahkan jika sektor ketahanan pangan tidak lepas dari sistem pengelolaan sampah di suatu daerah.
Hanif melanjutkan, Bali merupakan wajah pariwisata yang harus dijaga keasrian alamnya. Oleh sebab itu, Bali tidak bisa lagi untuk ditoleransi terkait pengelolaan sampahnya yang masih open dumping.
"Mari segera kita bangun bergegas bangun untuk kemudian melakukan pilah sampah. Demikian pentingnya pilah sampah harus dilakukan di Bali terutama Denpasar dan Badung. Karena TPA Suwung benar-benar dalam kondisi kedaruratan," jelasnya.
(nor/nor)

