detikBali

Imbas Perang, Qatar Hentikan Produksi LNG-Arab Saudi Tutup Kilang Minyak

Terpopuler Koleksi Pilihan

Imbas Perang, Qatar Hentikan Produksi LNG-Arab Saudi Tutup Kilang Minyak


Herdi Alif Al Hikam - detikBali

Workers evacuate area around Saudi Aramcos Ras Tanura oil refinery as smoke rises following a reported Iranian drone strike, in Ras Tanura, Saudi Arabia, in this still image obtained from social media video released on March 2, 2026. Social Media/via REUTERS  THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. NO RESALES. NO ARCHIVES. NEWS USE ONLY. VERIFICATION: Reuters verified the location from the buildings, trees and the smoke stacks seen in the video, which matched satellite imagery of the area. The date was verified from an official statement from Aramco saying it had shut the facility down after a drone strike on March 2. No older versions of the videos were found posted online before March 2. Coordinates: 26.70322602981727, 50.090750650948635.
Para pekerja mengevakuasi area sekitar kilang minyak Ras Tanura milik Saudi Aramco saat asap terlihat membumbung menyusul dugaan serangan pesawat nirawak (drone) Iran. Foto: via REUTERS/Social Media
Denpasar -

Sejumlah perusahaan energi raksasa di Timur Tengah mulai menghentikan sementara operasinya menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan. Eskalasi terjadi setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.

Dilansir detikFinance, Qatar menghentikan produksi gas alam cair (LNG) pada Senin. Langkah tersebut berdampak signifikan, mengingat produksi LNG Qatar menyumbang sekitar 20 persen pasokan global dan berperan penting dalam memenuhi kebutuhan energi di Asia dan Eropa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

QatarEnergy yang 82% kliennya berasal dari Asia, menyatakan keadaan kahar atau force majeure pada pengiriman LNG setelah serangan pesawat tak berawak Iran terhadap fasilitas di kompleks Ras Laffan. Kompleks tersebut menampung unit pengolahan gas Qatar, unit pengolahan besar yang mendinginkan gas alam menjadi bentuk cair untuk diekspor melalui kapal.

Drone juga menghantam zona industri Mesaieed di selatan Qatar yang terletak jauh dari ladang gas tetapi merupakan rumah bagi fasilitas petrokimia dan manufaktur. Harga gas alam langsung melonjak 46% pada pukul 14.26 GMT.

ADVERTISEMENT

Sementara itu harga minyak naik hingga 13% di atas US$ 82 per barel, tertinggi sejak Januari 2025. Ini terjadi karena konflik antara Iran dan AS membuat Selat Hormuz ditutup.

Arab Saudi Tutup Kilang Minyak

Selain fasilitas produksi gas Qatar, Kilang Ras Tanura milik raksasa Saudi Aramco dengan kapasitas 550.000 barel per hari juga ditutup. Penangguhan operasi dilakukan sebagai tindakan pencegahan. Ras Tanura merupakan bagian dari kompleks energi di pantai Saudi yang juga berfungsi sebagai terminal ekspor penting untuk minyak mentah Saudi.

Di sisi lain, Kurdistan Irak yang mengekspor 200.000 barel minyak per hari juga menangguhkan operasinya. Perusahaan-perusahaan lain termasuk DNO, Gulf Keystone Petroleum, Dana Gas, dan HKN Energy juga telah menghentikan produksi di ladang mereka sebagai tindakan pencegahan, tanpa laporan kerusakan.

Di lepas pantai Israel, pemerintah Israel menginstruksikan Chevron untuk sementara menutup ladang gas raksasa Leviathan. Padahal mereka sedang dalam proses memperluas kapasitas produksi menjadi sekitar 21 miliar meter kubik per tahun sebagai bagian dari kesepakatan ekspor senilai US$ 35 miliar ke Mesir. Lebih jauh, ada Energean yang menutup kapal produksinya yang melayani ladang gas Israel yang lebih kecil.

Perlu diketahui juga, Iran yang jadi pemain utama dalam perang yang terjadi di Timur Tengah juga merupakan produsen terbesar ketiga di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Iran mampu memompa 4,5% dari pasokan minyak global. Produksi Iran sekitar 3,3 juta barel per hari dalam bentuk minyak mentah, ditambah 1,3 juta barel per hari kondensat dan cairan lainnya.

Baca selengkapnya di detikFinance




(nor/nor)










Hide Ads