detikBali

Selat Hormuz Ditutup Lagi, Kapal Pertamina Tertahan di Teluk Persia

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026

Selat Hormuz Ditutup Lagi, Kapal Pertamina Tertahan di Teluk Persia


Anisa Indraini - detikBali

FILE PHOTO: A map showing the Strait of Hormuz is seen in this illustration taken June 22, 2025. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo
Selat Hormuz. (Foto: REUTERS/Dado Ruvic)
Denpasar -

Penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran langsung berdampak pada pelayaran Indonesia. Dua kapal milik Pertamina tertahan dan belum bisa melintas di jalur vital tersebut.

Iran menutup Selat Hormuz pada Sabtu (18/4) setelah sempat dibuka beberapa jam. Penutupan dilakukan karena Amerika Serikat (AS) dinilai melanggar janji dengan tetap melanjutkan blokade angkatan laut terhadap kapal dari dan ke pelabuhan Iran.

Pejabat Sementara Corporate Secretary PT Pertamina Internasional Shipping (PIS) Vega Pita mengatakan dua kapal Pertamina saat ini masih berada di kawasan Teluk Arab. Meski tertahan, kondisi kapal dipastikan aman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dua kapal di Teluk Arab, belum bisa (lewati Selat Hormuz). Kondisinya aman," kata Vega, dilansir dari detikFinance, Senin (10/4/2026).

ADVERTISEMENT

Data situs pelacak Vessel Finder hingga pekan lalu menunjukkan dua kapal tanker yang beroperasi untuk Pertamina masih berada di wilayah Teluk Persia. Kapal Pertamina Pride terdeteksi di lepas pantai Al Jubail, Arab Saudi. Sementara Kapal Gamsunoro berada di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab.

Vega menegaskan PIS terus memantau situasi dan bersiaga menghadapi perkembangan terbaru. Perusahaan juga menyiapkan rencana pelayaran (passage plan) agar kedua kapal bisa segera melintas setelah Selat Hormuz dibuka kembali.

"Kita tetap monitor dan siaga melakukan pemantauan secara intensif dan menyiapkan perencanaan pelayaran yang aman agar kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro dapat melintasi Selat Hormuz," tuturnya.

Persiapan dan Koordinasi

Dilansir dari Antara, PIS telah menyiapkan berbagai langkah, mulai dari penyusunan rute, identifikasi risiko, navigasi elektronik, hingga rencana kontingensi.

Koordinasi juga dilakukan dengan Kementerian Luar Negeri RI untuk membuka jalur komunikasi diplomatik dengan otoritas terkait. Selain itu, PIS berkoordinasi dengan perusahaan asuransi, manajemen kapal, pemilik kargo, serta otoritas setempat guna memastikan seluruh prosedur perizinan terpenuhi.

"Prioritas perusahaan tetap pada keselamatan awak kapal serta keamanan armada dan kargo," ucap Vega.




(dpw/dpw)










Hide Ads