detikBali

Kapuakan, Alat Pengusir Burung Warisan Leluhur yang Bertahan di Jatiluwih

Terpopuler Koleksi Pilihan

Kapuakan, Alat Pengusir Burung Warisan Leluhur yang Bertahan di Jatiluwih


I Dewa Made Krisna Pradipta - detikBali

Kapuakan, alat pengusir burung tradisional yang masih dilestarikan oleh I Made Swastika di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan.
Kapuakan, alat pengusir burung tradisional yang masih dilestarikan oleh I Made Swastika di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan. (Foto: Krisna Pradipta/detikBali)
Tabanan -

Di tengah perkembangan teknologi pertanian modern, alat-alat tradisional warisan leluhur masih bertahan di kawasan persawahan Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Salah satunya kapuakan, alat sederhana berbahan bambu yang sejak lama digunakan petani untuk mengusir burung pengganggu tanaman padi.

Salah seorang perajin kapuakan sekaligus petani di Jatiluwih, I Made Swastika, menuturkan kapuakan dibuat dari satu ruas bambu tali. Jenis bambu tersebut dipilih karena memiliki karakter lebih lentur dan tidak mudah patah dibandingkan bambu beruas tebal seperti bambu petung.

"Selain lebih lentur, bambu tali juga mampu menghasilkan suara yang lebih jelas saat digunakan, sehingga efektif untuk menghalau burung yang menyerang padi," ujar Swastika saat ditemui di sela-sela Festival Jatiluwih 2026, Sabtu (20/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Swastika, penggunaan kapuakan telah diwariskan secara turun-temurun oleh para orang tua sejak dahulu. Alat ini sempat sangat populer di kalangan petani pada era 1980 hingga 1990-an ketika sebagian besar aktivitas pertanian masih mengandalkan peralatan tradisional.

ADVERTISEMENT

"Dari dulu orang tua sudah memakai kapuakan untuk mengusir burung di sawah," ujarnya.

Burung biasanya mulai datang saat tanaman padi masih berada pada fase pertumbuhan awal. Pada masa tersebut, bulir padi menjadi sasaran empuk bagi burung.

Untuk mengusirnya, petani akan berjalan mengelilingi sawah sambil membawa dan membunyikan kapuakan. Alat itu menghasilkan suara cukup keras yang mampu membuat burung menjauh dari area persawahan.

Namun, seiring perkembangan zaman, penggunaan kapuakan kini semakin jarang ditemui. Swastika mengatakan banyak petani memilih cara yang lebih praktis, seperti memasang tali atau kantong plastik yang kemudian ditarik untuk menakuti burung.

Meski demikian, kapuakan belum sepenuhnya ditinggalkan. Di kawasan Jatiluwih masih ada sejumlah petani yang mempertahankan penggunaan alat tradisional tersebut sebagai bagian dari warisan budaya pertanian yang telah berlangsung sejak lama.

Bagi para petani, kapuakan bukan sekadar alat kerja. Alat ini juga menjadi simbol kearifan lokal yang lahir dari pemanfaatan bahan-bahan alami di sekitar lingkungan.

Terkait Festival Jatiluwih, I Made Swastika berharap kegiatan semacam itu mampu mengangkat kembali keberadaan alat-alat pertanian tradisional. Selain itu, festival juga dapat menjadi sarana memperkenalkan kapuakan kepada generasi muda.

"Saya berharap pemerintah turut berperan dalam upaya pelestarian berbagai tradisi pertanian warisan leluhur agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman," tegasnya.

Dengan tetap menjaga dan memperkenalkan alat-alat tradisional seperti kapuakan, nilai-nilai budaya pertanian Bali yang telah diwariskan selama puluhan tahun diharapkan dapat terus hidup dan menjadi bagian dari identitas masyarakat pedesaan.




(dpw/dpw)










Hide Ads