detikBali

Respons Pelatih Mesir dan Iran soal Simbol LGBTQ+ Masuk Stadion

Terpopuler Koleksi Pilihan

Respons Pelatih Mesir dan Iran soal Simbol LGBTQ+ Masuk Stadion


Randy Prasatya - detikBali

MEXICO CITY, MEXICO - JUNE 11: Fireworks display during the Opening Ceremony ahead of the FIFA World Cup 2026 Group A match between Mexico and South Africa at Mexico City Stadium on June 11, 2026 in Mexico City, Mexico. (Photo by Carl Recine/Getty Images)
Ilustrasi Piala Dunia 2026. (Foto: Getty Images/Carl Recine)
Denpasar -

Timnas Mesir bakal menantang Iran pada matchday ketiga Grup G Piala Dunia 2026. Lantas, bagaimana respons pelatih kedua negara terkait simbol-simbol LGBTQ+ yang diizinkan masuk stadion dalam laga tersebut?

Dilansir dari detikSport, laga Mesir vs Iran akan digelar di Lumen Field, Seattle, Sabtu (27/6/2026) pagi WIB. Pertandingan ini bergulir di tengah perayaan Pride Month, acara komunitas LGBTQ+ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Queer, dan preferensi lain).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mesir dan Iran diketahui sudah mengeluhkan tentang acara LGBTQ+ yang terjadi di sekitar pertandingan kepada FIFA. Kedua pihak juga telah meminta agar acara tersebut dibatalkan.

"Saya tidak akan bicara apa pun yang dilarang di liga kami. Semua pikiran kami terfokus pada sepakbola, permainan yang indah, rakyat kami, kesuksesan kami," kata Pelatih Iran, Amir Ghalenoei.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, FIFA mengatakan bahwa bendera pelangi dan simbol lain yang mewakili orientasi seksual dan identitas gender, diizinkan berdasarkan Kode Etik Stadion Piala Dunia FIFA 2026. Simbol-simbol LGBTQ+ dapat dipajang di dalam stadion dengan alasan hak asasi manusia (HAM).

Saat sesi jumpa pers jelang pertandingan, pelatih Iran dan Mesir menolak menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait Pride Match. Mereka menegaskan bakal fokus ke pertandingan.

"Kami semua fokus pada sepakbola, hanya itu yang kami pikirkan dan FIFA tentu saja mengurus sisi organisasinya," kata Pelatih Mesir, Hossam Hassan.

Mesir dan Iran merupakan negara dengan mayoritas penduduk muslim yang tidak membenarkan keberadaan LGBTQ+. Bagi kedua negara tersebut, orientasi seksual dan identitas gender di luar norma heteroseksual bertentangan dengan ajaran agama Islam, hukum negara, dan tatanan tradisional.

Selain Mesir dan Iran, ada juga beberapa negara dengan populasi besar nonmuslim yang tidak membenarkan LGBTQ+. Termasuk di antaranya Rusia dan Hungaria.

Artikel ini telah tayang di detikSport. Baca selengkapnya di sini!




(iws/iws)











Hide Ads