detikBali

Iran Tagih AS, Aset Rp 107 Triliun di Qatar Harus Dicairkan

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026

Iran Tagih AS, Aset Rp 107 Triliun di Qatar Harus Dicairkan


Novi Christiastuti - detikBali

Iranian President Masoud Pezeshkian makes a statement during a meeting with the media following talks with Armenian Prime Minister Nikol Pashinyan in Yerevan, Armenia, August 19, 2025. Hayk Baghdasaryan/Photolure via REUTERS/ File Photo Purchase Licensing Rights
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Foto: Hayk Baghdasaryan/Photolure via REUTERS/ File Photo Purchase Licensing Rights)
Denpasar -

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menagih realisasi kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS) dengan meminta aset Teheran senilai US$ 6 miliar atau setara Rp 107,4 triliun yang dibekukan di Qatar segera dicairkan dan dikembalikan ke negaranya.

Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian saat negosiasi lanjutan Iran dan AS menghadapi tantangan baru akibat aksi saling serang yang kembali terjadi setelah kedua negara meneken nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perang.

Pezeshkian menjadi pejabat tertinggi Iran yang secara terbuka menyinggung pencairan aset yang disimpan di Qatar. Negara itu selama ini menjadi mediator utama dalam negosiasi antara Teheran dan Washington.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Berdasarkan rencana yang telah ditetapkan, aset Iran sebesar US$ 6 miliar, dari total US$ 12 miliar, yang ada di Qatar seharusnya dicairkan dan dikembalikan ke negara ini," kata Pezeshkian dalam pernyataannya, dilansir dari detikNews, Selasa (30/6/2026).

ADVERTISEMENT

Dia menambahkan bahwa langkah-langkah tindak lanjut yang diperlukan sedang dilakukan untuk pengembalian sisa dana tersebut.

Sejauh ini, para pejabat AS menyatakan belum ada aset Iran yang dicairkan.

Pezeshkian juga menyebut nota kesepahaman yang telah diteken Iran dan AS sebagai kemenangan besar bagi rakyat Iran. Dia menambahkan sanksi terkait minyak dan petrokimia telah dicabut sesuai dengan nota kesepahaman tersebut.

Dua pekan lalu, Iran dan AS meneken MoU untuk mengakhiri perang. Kesepakatan itu mencakup penghentian permusuhan di semua front, termasuk Lebanon, pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, serta pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pasokan energi global.

Namun, negosiasi lanjutan kedua negara kini menghadapi hambatan setelah ketegangan kembali meningkat akibat perselisihan terkait Selat Hormuz.

Iran melancarkan serangan rudal dan drone yang menargetkan Bahrain dan Kuwait, yang menampung aset militer AS, pada Minggu (28/6) waktu setempat. Teheran mengklaim serangan itu merupakan balasan atas gempuran terbaru Washington terhadap sejumlah target di wilayah selatan Iran.

Di sisi lain, AS menuduh Iran melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal kargo di Selat Hormuz. Washington mengklaim pasukannya melancarkan serangan untuk merespons agresi yang tidak beralasan oleh pasukan Iran terhadap pelayaran komersial.

Meski demikian, pihak mediator konflik telah membangun saluran komunikasi untuk meredakan ketegangan akibat berbagai insiden yang terjadi. Pembicaraan teknis antara Iran dan AS juga disebut akan terus berlanjut.




(dpw/dpw)










Hide Ads
LIVE