Menikmati secangkir kopi hangat di dalam kafe modern mungkin sudah biasa. Namun, lapak kopi satu ini menawarkan sensasi menyeruput kopi di atas pematang sawah ditemani aroma khas jerami pascapanen dan embusan angin pedesaan yang sejuk.
Bersanding Kopi namanya. Lapak kopi yang sedang hits ini berlokasi di Subak Bregiding, Desa Pangsan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali.
Saat detikBali berkunjung pada Sabtu (20/6/2026), para petani di persawahan Subak Bregiding baru saja menyelesaikan masa panen. Sisa-sisa batang padi yang telah dirabas masih terlihat sehingga menghadirkan nuansa eksotis khas pedesaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Biasanya, jika cuaca sedang cerah, pengunjung dapat menyaksikan deretan gunung yang berdiri megah di sisi utara. Mulai dari Gunung Batukaru hingga Gunung Agung di kejauhan.
Desa Pangsan sendiri memang telah ditetapkan sebagai desa wisata. Daya tarik utamanya adalah keasrian desa yang masih sangat terjaga dan keberlangsungan sistem pengairan tradisional Subak yang tetap eksis hingga kini.
Belakangan, kawasan Subak Bregiding menjadi lokasi favorit bagi warga maupun wisatawan untuk bersepeda dan jogging saat pagi atau sore hari. Melihat potensi yang menjanjikan ini, Agung Adi bersama kawan-kawannya membuka lapak kopi di tengah sawah yang kini dikenal dengan nama Bersanding Kopi.
"Awalnya melihat potensi tempat ini yang sering ramai dipakai jalur bersepeda dan jogging. Karena suasananya asri, kami pikir seru kalau bikin tempat nongkrong yang menyatu langsung dengan alam," ujar pemilik Bersanding Kopi, Agung Adi, kepada detikBali, Sabtu.
Konsep yang diusung Bersanding Kopi sangat sederhana. Agung Adi bersama rekan-rekannya memanfaatkan motor bebek tua Honda C70 untuk jualan kopi di atas pematang sawah.
Tidak ada bangunan mewah atau sekat dinding beton. Pengunjung dipersilakan duduk langsung di pematang sawah. Agung Adi juga telah menyediakan kursi-kursi lipat serta tikar agar pengunjung bisa bersantai dengan nyaman.
Menu minuman di sini mulai dari Rp 10 ribu. Dengan harga yang sangat terjangkau, pengunjung sudah bisa mendapatkan paket komplit: segelas minuman favorit, angin sepoi-sepoi, dan suasana tenang untuk melepas penat dari hiruk-pikuk perkotaan.
Agung Adi bersama empat temannya memilih buka dari sore pukul 16.00 Wita selama tiga jam saja karena lokasi baru ramai pada jam tersebut. Sejak hari pertama dibuka 4 April lalu, tempat nongkrong ini langsung dipadati oleh para pengunjung.
"Desa Pangsan ini sebenarnya yang bisa ditonjolkan. Kami punya sawah, masih alami, dan sedikit bangunan permanen di sini," tutur Gung Adi.
Tak hanya warga setempat, pengunjung lapak kopi di pematang sawah tersebut juga berasal dari berbagai daerah seperti Denpasar, Tabanan, hingga Gianyar. Salah satunya adalah Nanda yang rela datang dari Denpasar demi bisa merasakan suasana tenang.
"Di kota, cari tempat begini sudah jarang. Saya tahu dari medsos, jadi datang ke sini sengaja pengen coba, santai-santai," kata Nanda.
Reva setali tiga uang. Perempuan asal Denpasar ini awalnya datang untuk sekadar ngopi sembari menanti momen matahari tenggelam dengan latar persawahan. "Tapi sayang agak mendung," kata Reva.
(iws/iws)

