Mereka adalah petugas Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama Pada Jemaah Haji (PKP3JH), garda depan pelayanan kemanusiaan, terutama bagi jemaah lansia dan disabilitas.
Hal itu dirasakan Intan Putri Sartika, salah satu perawat yang ditugaskan di PKP3JH, saat mengikuti kelas tugas dan fungsi (tusi) dalam rangkaian Diklat PPIH Arab Saudi selama 20 hari. Menurut Intan, pembekalan yang diterimanya tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga menyentuh dimensi sosial dan spiritual.
"Di sini kami belajar yang pertama bahasa Arab sesuai tusi. Kedua, fokus sama tusi kita untuk Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama Pada Jemaah Haji di Arab Saudi nanti," ujar Intan saat ditemui di sela kegiatan kelas di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di kelas tersebut, lanjut Intan, para petugas disiapkan menghadapi berbagai kemungkinan yang kerap dialami jemaah lansia.
"Misalnya ada jemaah yang saat sedang tawaf di Makkah, di Madinah sampai di Arafah, mereka jatuh terlantar, pingsan, tidak sadarkan diri, nyasar. Kita tadi dijelaskan bagaimana cara pertolongan pertamanya," katanya.
Karena erat kaitannya dengan kelompok rentan, petugas PKP3JH digabungkan dengan petugas layanan lansia dan disabilitas. Melalui metode role play, Intan dan rekan-rekannya mempraktikkan langsung simulasi penanganan jemaah lansia, mulai dari situasi paling dasar hingga kondisi darurat.
Pelatihan tersebut tidak hanya menekankan aspek medis, tetapi juga melibatkan pendekatan sosial dan spiritual. Dari pembekalan itu, Intan baru mengetahui adanya tim khusus lansia dengan tugas yang lebih spesifik dan dapat berkolaborasi erat dengan Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI).
"Ternyata ada tupoksi dari tim lansia yang bisa menangani lebih spesifik kepada jemaah-jemaah," ujarnya.
Menurut Intan, keberadaan petugas PKP3JH menjadi sangat krusial di tengah kepadatan jemaah, terutama bagi lansia yang rentan kelelahan dan tersesat.
Intan Putri Sartika, salah satu perawat yang ditugaskan di PKP3JH. Foto: Rachmatunnisa |
"Begitu mereka tergeletak, kami garda terdepannya untuk membantu mereka agar tidak lebih parah, tidak nyasar, dan kembali ke kloter," ujar Intan.
Ia menilai, karakteristik jemaah haji Indonesia yang didominasi usia lanjut membuat peran tersebut semakin penting.
"Kita tahu antrean haji di Indonesia ini sangat panjang, dan jumlah jemaah haji di Indonesia ini relatif lebih banyak yang tua. Jadi memang sangat dibutuhkan tupoksi lansia yang harus lebih berkolaborasi kepada tim TKHI kloter kesehatan," katanya.
Dengan pembekalan yang lebih terarah dan kolaboratif, Intan berharap kualitas pelayanan haji ke depan semakin meningkat.
"Mudah-mudahan angka kematian jemaah haji di musim haji tahun ini menurun, lalu kesejahteraan jemaah haji ini akan terus meningkat dengan diterapkannya pelatihan-pelatihan seperti ini," harapnya.
Apa yang disebutkan Intan sejalan dengan pesan Alissa Wahid, Direktur Jaringan Gusdurian Indonesia, saat menyampaikan materi Haji Ramah Perempuan dan Lansia. Menurut Alissa, kondisi lansia membawa tantangan berlapis yang tidak bisa disamakan dengan jemaah muda.
"Karena kapasitas fisik menurun, maka kapasitas mentalnya juga menurun. Jangan heran nanti kalau ketemu mbah-mbah ditanya dari mana, nggak paham. Karena pemahamannya berkurang, pelupa, mudah tertekan," ujar Alissa.
Ia menegaskan bahwa jemaah lansia tidak hanya menghadapi keterbatasan fisik, tetapi juga tekanan psikologis karena berada di lingkungan yang sama sekali baru.
"Bayangkan dia mengalami hal ini yang 'normal' dalam kehidupan sehari-hari lansia, lalu dia pergi ke tempat baru dengan sudah banyak sekali stressornya," katanya.
Karena itu, kehadiran petugas yang sigap, sabar, dan proaktif menjadi sumber rasa aman bagi jemaah.
"Petugas haji adalah sumber rasa aman jemaah," tegas Alissa.
(lus/lus)

Intan Putri Sartika, salah satu perawat yang ditugaskan di PKP3JH. Foto: Rachmatunnisa
Komentar Terbanyak
MUI Minta Pelaku LGBT Dihukum Lebih Berat dari Perzinaan
DPR RI Dukung Desakan MUI Tindak Tegas Pelaku LGBT
Dukung MBG, Muhammadiyah Dorong Penguatan Tata Kelola