Ribuan warga Gaza terhalang melaksanakan ibadah haji tiga tahun berturut-turut imbas pembatasan yang dilakukan Israel. Menurut penuturan salah satu pejabat Palestina, tahun ini 2.402 jemaah terdaftar masih belum bisa berangkat sementara 71 orang meninggal dunia pada masa tunggu.
Dilansir dari Palestine Chronicle pada Jumat (22/5/2026), warga Palestina menyebut tabungan dan persiapan bertahun-tahun lenyap seketika imbas perang dengan Israel. Ketika umat Islam dari seluruh dunia tiba di Arab Saudi untuk ibadah haji tahunan, banyak warga Palestina di Gaza tetap terjebak karena perang, pengepungan dan pengungsian yang tak berujung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penutupan perbatasan dan bencana kemanusiaan akibat perang menghalangi ribuan warga Palestina melaksanakan salah satu kewajiban untuk berhaji. Turut mengutip laporan Anadolu, seorang wanita Palestina bernama Suad Hajjaj menceritakan persiapannya selama bertahun-tahun untuk haji berakhir dengan berita kehilangan.
Sebelum perang, Hajjaj telah mendaftar untuk haji dengan suami, saudara laki-laki dan iparnya. Namun, kini sang suami tewas karena serangan Israel, saudara laki-lakinya hilang dan rumahnya hancur.
Hajjaj mengungsi di Stadion Yarmouk, sebelah timur Gaza. Tabungan keluarga yang ditujukan untuk ibadah haji lenyap di bawah reruntuhan bangunan. Dia melarikan diri bersama anak-anaknya setelah kehilangan segalanya.
Menurut penuturan Rami Abu Staitah, Direktur Jenderal Haji dan Umrah di Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Gaza, Palestina menerima kuota haji sebanyak 6.600 jemaah dari Arab Saudi. Gaza menerima sekitar 38 persen dari kuota tersebut.
Sebelumnya, Direktur Hubungan Masyarakat Kementerian yang bernama Amir Abu Al Amrain memperkirakan selama tiga tahun berturut-turut total jemaah Gaza yang gagal berangkat haji mencapai lebih dari 10.000 orang.
"Jumlah warga Palestina yang tidak dapat melaksanakan ibadah haji selama tiga tahun terakhir melebihi 10.000 orang, sementara kuota tahunan untuk Jalur Gaza sekitar 2.508 jamaah," ujarnya secara terpisah, dikutip dari situs The Palestinian Information Center.
Dia menekankan ibadah haji adalah hak asasi manusia dan agama yang mendasar. Ribuan warga Palestina di Gaza telah menyelesaikan prosedur haji bertahun-tahun yang lalu dan telah membayar biaya yang diperlukan, namun mereka tetap tidak bisa melakukan perjalanan.
Amir menyerukan kepada komunitas internasional, Arab Saudi, dan Mesir untuk segera turun tangan memastikan para jamaah haji di Gaza bisa melakukan perjalanan dan berupaya membuka perbatasan untuk tujuan kemanusiaan dan keagamaan.
Sebelum perang, para jemaah haji dari Gaza melakukan perjalanan melalui penyeberangan Rafah ke Mesir sebelum melanjutkan ke Kairo dan selanjutnya ke Arab Saudi. Proses tersebut membutuhkan koordinasi antara otoritas keagamaan Palestina dan pejabat Mesir serta Arab Saudi.
Namun, Israel menduduki dan menutup sisi Palestina dari penyeberangan Rafah pada Mei 2024, secara efektif memutus Gaza dari satu-satunya jalan keluar langsungnya ke dunia luar. Meski penyeberangan itu dibuka kembali, pembukaan ditujukan untuk kasus medis terbatas sehingga perjalanan sipil tetap sangat dibatasi.
Abu Staitah menuturkan upaya terus dilakukan dengan adanya aktor lokal atau internasional yang memfasilitasi perjalanan, namun upaya tersebut terus terhambat karena penutupan penyeberangan dan pembatasan yang ketat.
(aeb/inf)











































Komentar Terbanyak
Tega! Oknum KBIH Diduga Tipu 140 Jemaah Haji, Transaksi hingga Rp 1,4 M
Cegah Korupsi, MUI Usul MBG Pakai Dapur Pesantren dan Benahi Pejabat BGN
MUI Minta Pelaku LGBT Dihukum Lebih Berat dari Perzinaan