Langkah demi langkah menaiki anak tangga Jabal Nur terasa semakin berat menjelang puncak. Udara dini hari yang masih sejuk menemani perjalanan tim Media Center Haji (MCH) PPIH Arab Saudi menuju Gua Hira, pada Kamis (18/6/2026) dini hari.
Perjalanan sekitar satu setengah jam itu mengantarkan rombongan ke salah satu lokasi paling bersejarah dalam Islam. Di tempat inilah Rasulullah SAW menerima wahyu pertama dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril, sekaligus menjadi saksi kesetiaan Siti Khadijah RA dalam mendampingi perjuangan beliau.
Sepanjang pendakian, tim MCH berpapasan dengan ratusan peziarah dari berbagai negara. Ada yang datang dari Indonesia, Pakistan, India, Bangladesh, Turki hingga sejumlah negara Afrika. Mereka memiliki tujuan yang sama, mengenang jejak awal turunnya risalah Islam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski cukup menguras tenaga, perjalanan menuju Gua Hira saat ini sebenarnya jauh lebih mudah dibandingkan pada masa Rasulullah SAW. Jalur pendakian telah ditata dengan anak tangga yang relatif rapi. Di sejumlah titik tersedia tempat beristirahat, sementara para pedagang menjajakan air minum, makanan ringan, hingga suvenir bagi para peziarah.
Bayangkan lebih dari 14 abad lalu ketika semua fasilitas itu belum ada. Rasulullah SAW harus menempuh jalur berbatu dan terjal untuk berkhalwat di Gua Hira. Medan yang kini dapat dilalui sekitar satu hingga satu setengah jam tentu terasa jauh lebih berat pada masa tersebut.
Sesampainya di kawasan puncak Jabal Nur, Alhamdulillah tim MCH sempat melaksanakan salat Subuh berjamaah. Suasana khusyuk terasa ketika imam melantunkan Al-Alaq ayat 1-5 pada rakaat pertama, ayat yang diyakini sebagai wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW di Gua Hira.
Di tengah panorama Kota Makkah yang terlihat dari kejauhan, lantunan ayat tersebut menghadirkan suasana yang membuat banyak orang larut dalam perenungan.
Gua Hira sendiri berada di puncak Jabal Nur yang menjulang sekitar 634 meter di atas permukiman Makkah. Dari kawasan ini, Masjidil Haram dan Menara Zamzam tampak berdiri di tengah hamparan perbukitan batu.
Bagi umat Islam, Gua Hira bukan sekadar ruang sempit di lereng gunung. Di tempat inilah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama surat Al-Alaq ayat 1-5 pada 17 Ramadan sekitar tahun 610 M, saat beliau berusia 40 tahun. Peristiwa itu menjadi awal turunnya risalah Islam yang kemudian mengubah sejarah peradaban manusia.
Salah satu jemaah yang berhasil mencapai Gua Hira adalah Ali Mukti, jemaah asal Nganjuk, Jawa Timur. Menurutnya, niat yang kuat dan kesabaran menjadi kunci untuk menaklukkan pendakian menuju lokasi bersejarah yang terjal tersebut.
"Innamal a'malu binniyat dan selawat Shollu ala Sayyidina Muhammad," ujarnya.
Ali mengaku bersyukur dapat memasuki Gua Hira dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk salat sunnah serta memanjatkan doa.
Namun, Gua Hira tidak hanya menyimpan kisah turunnya wahyu pertama. Tempat ini juga mengingatkan pada sosok Khadijah RA, istri Rasulullah SAW yang selalu mendampingi perjuangan beliau.
Sebelum menerima wahyu, Rasulullah SAW kerap berkhalwat di Gua Hira untuk merenungkan berbagai persoalan kehidupan. Aktivitas itu dilakukan berulang kali dalam waktu yang tidak singkat. Di tengah proses tersebut, Khadijah selalu hadir memberikan dukungan.
Berbagai riwayat menyebutkan Khadijah harus bolak-balik mendaki Jabal Nur untuk mengantarkan makanan dan kebutuhan Rasulullah SAW. Tidak hanya menghadapi medan yang berat, ia juga harus menjalani semuanya di tengah situasi yang belum ramah terhadap dakwah Islam.
Mungkin karena itulah banyak peziarah yang tiba di Gua Hira tak kuasa menahan haru. Sebagian tampak menitikkan air mata saat membayangkan perjuangan Rasulullah SAW ketika menerima wahyu pertama dan memulai dakwah Islam. Sebagian lainnya larut dalam perenungan tentang besarnya pengorbanan Khadijah yang setia mendampingi Rasulullah pada masa-masa paling sulit.
Kesetiaan itulah yang membuat nama Khadijah selalu dikenang dalam sejarah Islam. Ia bukan hanya istri pertama Rasulullah SAW, tetapi juga sahabat, penyemangat, sekaligus pendukung utama perjuangan dakwah beliau.
Karena itu, perjalanan menuju Gua Hira bukan sekadar wisata religi. Di balik bebatuan Jabal Nur dan sempitnya gua yang menjadi saksi turunnya wahyu pertama, tersimpan pelajaran tentang keteguhan iman, pengorbanan, dan cinta yang mengiringi lahirnya risalah Islam.
Tempat ini menjadi pengingat bahwa perjalanan besar Rasulullah SAW tidak pernah dilalui seorang diri. Ada sosok Khadijah yang setia mendampingi setiap langkah perjuangan beliau, bahkan ketika jalan yang harus ditempuh begitu terjal.
(rns/inf)

Komentar Terbanyak
Liga Muslim Dunia Kecam Serangan Pemukim Israel terhadap Warga Palestina
Dukung MBG, Muhammadiyah Dorong Penguatan Tata Kelola
PBNU Umumkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada Rabu 17 Juni 2026