Kota Suci Madinah tidak hanya menyimpan pesona spiritual lewat Masjid Nabawi, tetapi juga warisan sejarah Islam yang begitu memukau. Salah satu destinasi yang kini menjadi daya tarik luar biasa bagi jemaah haji dan umrah adalah Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf.
Perkebunan ini bukan sekadar lahan hijau di tengah gurun, melainkan sebuah situs heritage yang menyimpan cerita kejayaan ekonomi sahabat Rasulullah SAW yang terkenal dengan kedermawanannya.
Saat menginjakkan kaki di kebun kurma ini, jemaah akan langsung disuguhi atmosfer masa lalu yang kental. Di area kebun, masih berdiri kokoh bangunan heritage bersejarah peninggalan era Turki Utsmani (Ottoman) yang diperkirakan telah berusia ribuan tahun. Bangunan kuno ini menjadi saksi bisu bagaimana kawasan ini dirawat dari generasi ke generasi. Di sinilah bangunan yang dulunya menjadi tempat majelis para sahabat bersama Abdurahman bin Auf, lengkap dengan tembok asli peninggalan masa lalu yang masih dipertahankan hingga kini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sistem Pengairan Tradisional dan Sumur Berusia 1.400 Tahun
Tidak hanya bangunan, sistem pengairan di kebun ini pun masih mempertahankan nilai tradisional (old way) tanpa melibatkan mesin modern. Salah satu daya tarik utamanya adalah jalur aliran air kuno yang dahulu digunakan oleh sahabat Abdurrahman bin Auf untuk mengairi perkebunannya. Alur air bersejarah ini sengaja dipertahankan keasliannya agar jemaah dapat melihat langsung bukti autentik manajemen pengairan zaman dahulu.
"Tembok dan jalur air masa lalu itu masih kami pertahankan, selain juga jalur air baru yang kami buat untuk mengaliri kebun kurma ini," kata owner Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf, Hasan Alkiwi saat ditemui di lokasi, Kamis (18/6).
Di balik suburnya kurma yang tumbuh, kebun ini juga menyimpan Sumur Abdurrahman bin Auf. Sumur yang dibangun 1.400 tahun lalu ini sampai saat ini masih mengeluarkan air dan tidak pernah kering. Informasinya, sumur yang kedalamannya mencapai 60 meter itu pernah didoakan oleh Nabi Muhammad SAW, sehingga berkahnya mengalir hingga detik ini.
Sumur bersejarah ini memiliki cerita menyentuh yang melegenda, di mana air atau hasil dari area ini di masa lalu dikaitkan dengan kisah mahar berharga yang diberikan Abdurrahman bin Auf kepada sang istri saat mereka menikah. Selain memberikan air sumur tersebut, mahar sahabat yang kaya raya itu berupa emas dan dirham.
Keberadaan sumur ini menjadi salah satu magnet utama bagi para peziarah yang ingin napak tilas kehidupan sang sahabat yang kaya raya namun bersahaja. Debit airnya cukup besar sehingga dapat mengairi pohon kurma yang luasnya mencapai 10 ribu meter persegi.
"Kualitas airnya pun bagus dan bisa langsung diminum, masih terjaga sangat baik sampai dengan saat ini," ungkap Hasan.
Rumah Bagi 350 Pohon Kurma Ajwa Kualitas Terbaik
Hasan Alkiwi, atau yang akrab disapa Abu Umar, menjelaskan bahwa perkebunan ini mengelola ratusan pohon kurma yang kini dalam kondisi produktif dan siap panen. Saat ini terdapat lebih dari 550 pohon kurma yang sudah memasuki musim berbuah dengan perkiraan umur pohon berkisar antara 20 hingga 30 tahun.
Dari total ratusan pohon tersebut, Kebun Abdurrahman bin Auf menjadi rumah bagi 350 pohon Kurma Ajwa, yang dikenal luas sebagai 'Kurma Nabi' dengan kualitas terbaik atau Ajwa Aliyah. Jemaah yang berkunjung ke sini dapat menikmati langsung kurma Ajwa segar yang dipetik langsung dari pohonnya.
Selain Kurma Ajwa, sisa lahan perkebunan ini ditanami oleh berbagai varian kurma premium lainnya yang tumbuh subur, di antaranya Kurma Rabiah, Kurma Safawi, Kurma Ambar, dan Kurma Sukari. Menariknya, perkebunan ini juga memberdayakan sekitar 30 pekerja asal Indonesia yang ikut merawat dan memelihara pohon-pohon kurma tersebut.
Bagi jemaah haji dan umrah, mengunjungi Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf memberikan pengalaman wisata religi yang lengkap.
Selain bisa berbelanja kurma kualitas terbaik langsung dari sumbernya, mereka juga bisa bersantai menikmati pemandangan asri, berfoto di bangunan peninggalan Ottoman, hingga mempelajari sejarah peradaban ekonomi Islam lewat jalur air kuno.
Kebun kurma ini dibuka secara umum untuk seluruh jemaah dari Indonesia maupun negara lainnya. Menariknya, pengelola juga menyediakan fasilitas yang sangat ramah terhadap lidah nusantara. Lokasinya pun sangat strategis, berada di daerah Hijam Alwali, Madinah. Akses menuju lokasi terbilang sangat mudah dijangkau.
Jika Anda sedang berada di Madinah untuk menunaikan ibadah haji atau umrah, pastikan Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf masuk ke dalam daftar ziarah Anda untuk merasakan sensasi memetik kurma langsung di tengah situs warisan dunia Islam.
(alj/inf)

Komentar Terbanyak
Liga Muslim Dunia Kecam Serangan Pemukim Israel terhadap Warga Palestina
Dukung MBG, Muhammadiyah Dorong Penguatan Tata Kelola
PBNU Umumkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada Rabu 17 Juni 2026