Bagi jemaah haji, nama Ajyad tentu sudah tidak asing. Para jemaah haji mengenal kawasan yang berada di sisi selatan Masjidil Haram ini sebagai tempat salah satu terminal bus shalawat, terutama bagi mereka yang bermukim di wilayah Misfalah.
Di balik kesibukan kawasan tersebut, tak banyak yang menyadari bahwa Ajyad menyimpan jejak penting dalam sejarah Islam. Jauh sebelum dipenuhi hotel-hotel menjulang tinggi dan menjadi pusat mobilitas jemaah, kawasan ini merupakan tempat Nabi Muhammad SAW menggembala kambing saat masih kecil.
Saat menjelaskan sejumlah jejak sejarah di sekitar kawasan Masjidil Haram, penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram asal Indonesia, Ahmad Musyaddad, menyebutkan bahwa Ajyad telah dikenal sebagai kawasan permukiman sejak sebelum Islam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dahulu, wilayah ini dikenal dengan nama Al-Ajiyadain, yakni dua Ajyad, Ajyad Besar dan Ajyad Kecil yang berada di sekitar Jabal Abu Qubais. Menurut Musyaddad, di kawasan inilah Rasulullah SAW ditempa Allah SWT melalui profesi yang mungkin dipandang sederhana oleh sebagian orang, yakni menggembala kambing.
Ia mengutip hadis riwayat Imam Ahmad yang menyebut Nabi Musa AS, Nabi Daud AS, hingga Nabi Muhammad SAW sama-sama pernah menjadi penggembala kambing sebelum diangkat menjadi rasul.
"Aku diutus oleh Allah menjadi seorang rasul dan aku pernah menjadi penggembala kambing di kawasan Ajyad," ujar Musyaddad mengutip sabda Rasulullah SAW.
مُوسَى بُعِثَ وَهُوَ رَاعِي غَنَمٍ، وَدَاوُدُ بُعِثَ وَهُوَ رَاعِي غَنَمٍ، وَبُعِثْتُ وَأَنَا أَرْعَى غَنَمًا لِأَهْلِي بِأَجْيَادٍ
Artinya: "Musa diutus (menjadi rasul) dan ia adalah seorang pengembala kambing. Daud diutus dan ia adalah seorang pengembala kambing. Dan saya diutus (menjadi rasul) sementara saya (sebelumnya) menggembala kambing keluargaku di Ajyad (daerah pegunungan di Makkah)." (HR. Ahmad)
Rasulullah SAW mulai menggembala sejak berusia sekitar delapan tahun. Menurut Musyaddad, profesi tersebut bukan pekerjaan kaleng-kaleng, tak sekadar untuk mencari nafkah, melainkan proses pendidikan yang Allah SWT pilih untuk membentuk karakter para nabi.
"Di sinilah madrasah Nabi SAW. Di sinilah beliau dididik, bukan dengan kertas, bukan dengan pensil, bukan dengan papan tulis, tetapi dengan satu instrumen bernama penggembala kambing," tuturnya.
Dari padang penggembalaan itulah Rasulullah SAW belajar hidup mandiri, melatih kesabaran, membangun kepekaan terhadap makhluk yang dipimpinnya, serta mengasah kemampuan mengambil keputusan dalam berbagai situasi.
Musyaddad mengatakan, dalam hadis lain Rasulullah SAW bahkan menegaskan tidak ada seorang nabi pun yang diutus Allah SWT kecuali pernah menjadi penggembala kambing.
مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ، فَقَالَ أَحْصَابُهُ: وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيْطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ
"Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali ia pernah menggembala kambing." Para sahabat bertanya, "Apakah engkau juga demikian, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Iya, dahulu aku menggembalakannya untuk penduduk Mekah dengan upah beberapa qirath." (HR. Imam Ahmad)
Hal itu menunjukkan bahwa menggembala bukanlah profesi yang bisa dipandang sebelah mata. Justru pekerjaan tersebut menjadi 'sekolah kehidupan' yang mempersiapkan para nabi memikul amanah besar sebagai pemimpin umat.
Sejumlah ulama, lanjut Musyaddad, juga melihat adanya hubungan erat antara menggembala dan kepemimpinan. Seorang penggembala bertanggung jawab memastikan seluruh kambingnya memperoleh makanan dan terlindungi dari ancaman.
Ia tidak akan membiarkan seekor pun kambing kelaparan ataupun terpisah dari kelompoknya hingga menjadi mangsa binatang buas.
"Pelajaran ini sudah didapatkan Nabi SAW sejak usia delapan tahun. Sehingga beliau tumbuh menjadi sosok pemimpin yang otentik. Kepemimpinannya memang sudah disiapkan oleh Allah SWT," ujarnya.
Musyaddad menambahkan, bahkan teori kepemimpinan modern juga mengenal dua unsur utama seorang pemimpin, yakni menghadirkan kesejahteraan (prosperity) dan keamanan (security). Menurutnya, dua nilai tersebut telah dipraktikkan seorang penggembala dalam menjaga ternaknya jauh sebelum dikenal dalam teori-teori kepemimpinan masa kini.
Selain menjadi tempat Rasulullah SAW menggembala, nama Ajyad juga memiliki sejarah tersendiri. Dalam sejumlah literatur, Ajyad merupakan bentuk jamak dari kata jawad yang berarti kuda-kuda tangkas atau kuda perang.
Kawasan itu dahulu menjadi tempat kaum Quraisy menambatkan kuda-kuda perang mereka. Bahkan, dalam beberapa riwayat disebutkan Nabi Ismail AS pernah menerima kuda-kuda tangkas di kawasan tersebut. Karena itu, hingga kini nama kawasan ini kadang ditulis sebagai Ajyad, kadang pula Jiyad.
Kini, wajah Ajyad telah berubah sepenuhnya. Perbukitan yang dahulu menjadi tempat Rasulullah SAW menggembala kambing berganti menjadi kawasan hotel, pusat perbelanjaan, serta salah satu terminal bus shalawat yang tak pernah sepi dari aktivitas jemaah.
Di balik hiruk-pikuk itu, Ajyad menyimpan pelajaran yang tak lekang oleh waktu. Di tempat inilah Allah SWT menempa seorang penggembala menjadi pemimpin terbesar dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW.
(rns/inf)

Komentar Terbanyak
Iran Berencana Bentuk NATO Versi Islam, Ajak Saudi dan Turki
Tukang Tambal Ban Rela Utang demi Haji, Kini Dilunasi Pemerintah-UEA
MUI Godok Naskah Akademik RUU Pidana LGBT