15 Tradisi Jelang Ramadan di Indonesia untuk Menyambut Bulan Puasa

15 Tradisi Jelang Ramadan di Indonesia untuk Menyambut Bulan Puasa

Tia Kamilla - detikHikmah
Kamis, 12 Feb 2026 14:00 WIB
Lantern that have moon symbol on top and small plate of dates fruit with dusk sky and city bokeh light background for the Muslim feast of the holy month of Ramadan Kareem.
Ilustrasi Ramadan Foto: Getty Images/iStockphoto/Baramyou0708
Jakarta -

Pemerintah akan menetapkan awal puasa 2026 secara resmi melalui sidang isbat pada 17 Februari 2026. Penetapan ini didasarkan pada hasil hisab dan laporan rukyatul hilal dari berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia.

Menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat Indonesia menjalankan berbagai tradisi unik sebagai persiapan menyambut puasa. Tujuan adanya tradisi-tradisi ini mulai dari mempererat silaturahmi, doa bersama, hingga ungkapan syukur atas rezeki dan nikmat yang diberikan.

15 Tradisi Jelang Ramadan di Indonesia

Berikut rangkuman 15 tradisi jelang Ramadan di Indonesia yang masih dilestarikan dan menjadi simbol semangat masyarakat menyambut bulan suci.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Assuro Maca

Mengutip jurnal berjudul Budaya Assuro Maca di Kabupaten Maroa, Kecamatan Lau karya Risky Rahim, tradisi assuro adalah membaca doa bersama yang dilakukan oleh masyarakat suku Bugis-Makassar yang masih dilestarikan secara turun-temurun.

Tradisi ini dilakukan dengan membaca doa bersama sambil menyantap hidangan seperti nasi, ayam, ikan dan lauk pauk lainnya yang diletakkan di atas nampan atau kappara'. Kegiatan ini biasanya dilakukan sehari sebelum puasa dimulai untuk mempererat silaturahmi dan bersyukur atas rezeki.

2. Baratan Jepara

Masyarakat Jepara menjalankan tradisi Baratan sebagai ritual permohonan keselamatan menjelang Ramadan. Mengutip publikasi ilmiah Tradisi Baratan di Kalinyamatan Jepara karya Diah Ayu Ning Tias, tradisi ini digelar pada malam Nisfu Syaban.

Acara diisi dengan kirab warga setempat, diikuti doa bersama agar memperoleh keselamatan, kelancaran, dan keberkahan selama berpuasa. Nilai gotong royong dan solidaritas tercermin dari persiapan perlengkapan kirab, seperti lampion, serta pelaksanaan doa bersama.

Baratan juga menjadi sarana memperkuat identitas budaya lokal dan menjaga kebersamaan warga menjelang Ramadan.

3. Dandangan di Kudus

Tradisi Dandangan digelar menjelang Ramadan berupa pasar malam di sekitar Menara Kudus dan jalan Sunan Kudus. Nama Dandangan berasal dari bunyi "ndang" bedug di kompleks Masjid Menara yang mengajak warga datang ke lokasi. Masyarakat mendengarkan pengumuman awal bulan Ramadan dari Sunan Kudus melalui tradisi ini.

4. Mattunu Solong

Di Sulawesi Barat, masyarakat menyalakan Mattunu Solong, cahaya dari buah kemiri dan bambu yang dipasang di pagar, halaman, hingga pintu. Tradisi ini bertujuan memohon keberkahan, kesehatan, dan umur panjang agar dapat menjalankan ibadah puasa dengan lancar.

5. Megibung di Bali

Di Bali, umat Islam melakukan tradisi megibung dengan memasak bersama dan makan dari satu wadah. Tradisi ini menekankan kebersamaan dan persaudaraan, biasanya dilakukan sebelum Ramadan dan pada malam ke-10, 20, dan 30 di wilayah tertentu.

6. Membuat Makanan Lemang atau Malamang

Di Sumatra Barat dan Aceh, masyarakat membuat lemang atau malamang sebelum Ramadan tiba. Tradisi ini bertujuan mempererat silaturahmi dan memupuk rasa kebersamaan dengan membagikan makanan ke tetangga dan kerabat.

7. Munggahan

Suku Sunda memiliki tradisi munggahan, yang berarti "naik" atau keluar dari kebiasaan sehari-hari, dilakukan jelang Ramadan. Kegiatan ini mencakup membersihkan diri, makan bersama, serta meminta maaf kepada orang tua, sahabat, dan saudara.

8. Nyorog Betawi

Orang Betawi memiliki tradisi nyorog, yakni mengirimkan makanan kepada orang atau kerabat yang lebih tua sehari sebelum Ramadan. Tradisi ini melambangkan rasa hormat, mempererat silaturahmi, dan menanamkan nilai kebersamaan serta gotong royong.

9. Padusan

Di Yogyakarta dan Jawa Tengah, masyarakat melakukan padusan, mandi atau berendam di sumber mata air sebelum Ramadan. Tradisi ini bertujuan menyucikan diri lahir dan batin, menyiapkan tubuh dan hati untuk memasuki bulan suci.

10. Tabuh Bedug

Di Pulau Jawa, terutama di Jawa Tengah, bedug ditabuh sebagai penanda menyambut Ramadan. Tradisi ini biasanya dilakukan sehari sebelum puasa dimulai, mengiringi lantunan sholawat tanpa pengeras suara, seperti di Kudus.

11. Mandi Pangir atau Marpangir

Di Sumatera Utara, masyarakat melestarikan tradisi mandi pangir atau marpangir sebelum Ramadan tiba. Mengutip penelitian Ziarah Kubur, Marpangir, Mangan Fajar karya Muhammad Andre Syahbana Siregar, bahan mandi ini beragam, termasuk daun sereh, jeruk purut, pandan, nilam, mayang pinang, akar usar, akar sitanggis, dan jeruk purut. Mandi pangir diyakini membersihkan tubuh sekaligus hati dan pikiran agar lebih khusyuk dalam berpuasa.

12. Megengan di Jawa Timur

Menurut Pemerintah Kabupaten Trenggalek, istilah "megengan" berarti menahan, mengingatkan umat Islam bahwa bulan puasa segera tiba. Kegiatan ini mencakup ziarah ke makam leluhur, membersihkan makam, menabur bunga, serta pembacaan doa, Yasin, dan tahlil.

Megengan juga melibatkan kenduri atau selamatan, dengan memasak makanan untuk dibagikan ke keluarga dan tetangga. Tradisi ini diyakini membawa manfaat bagi yang hidup sekaligus menjadi doa bagi yang telah wafat.

13. Nyandran di Jawa Tengah

Di Jawa Tengah, tradisi Nyandran masih lekat dalam kehidupan masyarakat menjelang Ramadan. Mengutip dari laman Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, istilah Nyandran berasal dari kata Sanskerta sraddha, yang berarti keyakinan.

Nyandran awalnya sebagai penghormatan dan doa bagi leluhur, kemudian berkembang menjadi adat yang sarat nilai budaya.

Rangkaian tradisi meliputi besik, yaitu membersihkan makam leluhur secara gotong royong, kirab ke lokasi upacara, ujub, serta doa bersama yang dipimpin tokoh adat atau pemuka agama.

14. Perlon Unggahan di Banyumas

Mengutip dari Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun dan dilakukan sekitar seminggu sebelum puasa. Kegiatan utama adalah ziarah ke makam leluhur tanpa alas kaki sambil membawa nasi ambeng, sebagai simbol ketulusan dan penghormatan.

Setelah prosesi ziarah dan doa bersama, warga makan bersama dengan hidangan tradisional seperti nasi bungkus, serundeng, dan sayur berkuah. Makanan ini diyakini membawa keberkahan dan menjadi doa agar ibadah puasa berjalan lancar.

15. Pisowan di Banyumas

Masyarakat Banyumas melakukan Pisowanan sebagai persiapan Ramadan dengan mengunjungi makam orang tua atau leluhur. Kegiatan ini bertujuan memohon doa dan keberkahan sebelum bulan puasa.

Setelah ziarah, masyarakat biasanya mengadakan kenduri atau makan bersama. Makanan dibagikan kepada keluarga dan warga sekitar sebagai bentuk rasa syukur. Pisowanan menekankan nilai hormat kepada leluhur, kebersamaan, dan silaturahmi yang dijaga hingga kini.

Itu dia 15 tradisi jelang Ramadan di Indonesia yang unik dan penuh makna, mencerminkan kekayaan budaya, nilai religius, dan semangat kebersamaan masyarakat menyambut bulan suci.




(inf/inf)
Berita Terkait