Ramadan di perantauan selalu memiliki kesan dan cerita tersendiri. Apalagi di luar negeri. Tahun ini adalah tahun keempat aku Ramadan di Libya.
Suasana dan budaya yang sangat amat berbeda dibandingkan apa yang ada di Indonesia. Mulai dari sahur hingga malam harinya. Aku berada di sebuah kota yang disebut sebagai kota para penghafal Al-Qur'an, yaitu Zliten. Kota yang terletak di sebelah timur ibu kota Libya, Tripoli.
Tak ada orang yang berteriak membangunkan sahur lewat toa masjid, apalagi anak-anak muda yang berkeliling kampung untuk membangunkan sahur seperti di Indonesia. Aku sempat menanyakan hal ini kepada salah satu teman lokalku, apakah memang tidak ada yang membangunkan sahur di pagi hari? Dia menjawab, "Ada, tepatnya di salah satu kampung di kota ini."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Orang-orang berbondong-bondong menuju masjid setelah sahur, dilanjutkan dengan berzikir dan membaca Al-Qur'an di masjid hingga waktu syuruq, setelah itu mereka kembali ke rumah masing masing dan melanjutkan tidurnya.
Benar saja, suasana pagi hari di bulan Ramadan bagaikan kota tak berpenghuni, tak ada orang bahkan satupun mobil yang lalu-lalang di jalanan, toko-toko pun tak ada yang buka, hanya beberapa toko kelontong yang sudah buka, itu pun bisa dihitung jari.
Suasana ini berlangsung hingga jam 09.00 waktu Libya. Pada waktu tersebut semua orang sudah mulai melakukan aktivitasnya masing masing dari mulai pekerja kantoran, kuli bangunan hingga para mahasiswa Indonesia yang sudah memulai belajarnya di kelas.
Masjid kembali ramai dari mulai setelah salat Zuhur hingga menjelang waktu magrib. Ada yang membaca Al-Qur'an dengan duduk, ada juga para huffadz yang berputar-putar mengelilingi masjid sambil memurajaah hafalannya.
Suasana Ramadan 2026 di Zliten, Libya Foto: Dok Izzuddien Bilhaq |
Di sore hari, tepatnya setelah salat Asar, jalanan sangat ramai dipenuhi dengan orang-orang yang mengendarai mobil dengan urusan masing-masing. Tapi satu hal yang pasti, tak ada orang Libya yang tiba-tiba menjadi penjual makanan mendadak di pinggiran jalan layaknya di Indonesia, tidak ada yang menjual takjil berupa es cincau apalagi gorengan. Mereka biasanya keluar hanya untuk membeli ikan kaleng, roti, dan jus buah atau bahan bahan pokok yang disediakan di toko kelontong. Adapun makanan pokoknya, mereka membuatnya sendiri di rumah.
Tepat satu jam sebelum azan Magrib, semua orang menutup tokonya, mobil-mobil sudah tak ada yang melewati jalanan seperti halnya di pagi hari.
Menu buka puasa untuk para mahasiswa Indonesia sudah disediakan tepatnya 30 menit sebelum azan Magrib. Biasanya paket lengkap berupa nasi bumbu khas Libya berlaukkan ayam goreng ditambah susu UHT, 6 buah kurma, 1 botol air mineral berukuran 300 ml, dan bashisha/adonan pendamping kurma yang terbuat dari tepung, kacang almond, dan berbagai jenis kacang kacangan lainnya yang dihaluskan dan ditambah minyak zaitun.
Suasana kembali ramai menjelang salat Tarawih di Masjid Syaikh Abdussalam Al Asmar, Zliten, Libya. Jemaah memenuhi area masjid yang setiap malam Ramadan melaksanakan 10 rakaat salat Tarawih dan 3 rakaat witir sesuai praktik mazhab Maliki.
Menariknya, Tarawih di masjid ini dipimpin oleh 4 imam yang bergantian setiap 2 rakaat. Mereka membaca Al-Qur'an dengan Riwayat Qalun 'An Nafi', sekitar dua tsumun per rakaat. Setara kurang lebih 1,5 lembar mushaf. Dengan pola tersebut, setiap malam para imam dapat membaca sekitar 1 juz lebih 5 halaman.
Di luar masjid, tersedia teh panas daun mint khas Libya dalam gelas kecil yang disajikan sejak selesai salat Isya hingga berakhirnya Tarawih. Minuman ini jadi favorit jemaah, terutama bagi mereka yang ingin mengurangi kantuk sejenak sebelum Kembali melanjutkan salat.
Tradisi ini menghadirkan suasana Ramadan yang sangat khas, sekaligus memperlihatkan kekayaan budaya masyarakat Libya.
--
Izzuddien Bilhaq
Mahasiswa S1 Jurusan Ushuluddin
Alasmarya Islamic University, Zliten, Libya
Artikel ini merupakan kolaborasi detikHikmah dengan PPI Dunia. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)
(kri/kri)


Komentar Terbanyak
Kemenag Tanggapi Hoaks Bolehkan Korupsi Asal Sesuai Syariat
Iran Berencana Bentuk NATO Versi Islam, Ajak Saudi dan Turki
MUI Godok Naskah Akademik RUU Pidana LGBT