Terbongkar Dugaan Ponpes Cabul Malang yang Viral di Ceramah Ning Sisca

Round Up

Terbongkar Dugaan Ponpes Cabul Malang yang Viral di Ceramah Ning Sisca

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Senin, 15 Jun 2026 05:00 WIB
Gus Thuba bersama Yakuza Maneges laporkan dugaan pelecehan kiai di Malang
Gus Thuba bersama Yakuza Maneges laporkan dugaan pelecehan kiai di Malang/Foto: Muhammad Aminudin/detikJatim
Malang -

Ucapan penceramah asal Malang, Ning Sisca Farisa Dhona, yang sempat viral karena menyinggung maraknya dugaan pencabulan berkedok pondok pesantren di Malang kini menjadi sorotan.

Pasalnya, tak lama setelah video ceramah tersebut ramai diperbincangkan, organisasi Yakuza Maneges membongkar dugaan pelecehan seksual terhadap santri di sebuah pondok pesantren di Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang.

Kasus yang dilaporkan ke Polres Malang itu menyeret seorang pimpinan pondok pesantren berinisial TJT. Sejauh ini, sedikitnya empat korban telah memberikan keterangan kepada tim pendamping hukum, sementara sebagian korban disebut masih berstatus santri aktif dan berusia di bawah umur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Laporan resmi disampaikan Yakuza Maneges ke Polres Malang pada Sabtu (13/6/2026). Rombongan dipimpin langsung oleh Thuba Topo Broto Maneges atau yang akrab disapa Gus Thuba. Mereka mendatangi Satuan Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (Satres PPA) serta Satuan Reserse Perlindungan Pekerja dan Orang Rentan (Satres PPO) Polres Malang.

ADVERTISEMENT

Kedatangan rombongan diterima langsung oleh Kasatres PPA dan PPO Polres Malang AKP Yulistiana Sri Iriana. Tak lama setelah itu, petugas terlihat membawa terduga pelaku menuju ruang penyidikan Satres PPA untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Tim Hukum Yakuza Maneges, M Zakki menjelaskan, pengungkapan kasus tersebut berawal dari laporan yang disampaikan keluarga korban. Setelah menerima aduan, pihaknya melakukan pendampingan hukum sebelum membawa perkara itu ke ranah kepolisian.

"Yakuza Maneges Malang Raya awalnya mendapatkan aduan dari keluarga korban berkaitan dengan dugaan pelecehan seksual menimpa santri oleh oknum kiai di Bululawang, Kabupaten Malang," tegas Zakki kepada wartawan di Polres Malang, Sabtu petang.

Menurut Zakki, korban merupakan santri yang pernah maupun masih menempuh pendidikan di pondok pesantren tersebut. Sebagian korban disebut masih aktif menjadi santri dan rata-rata berusia di bawah umur.

"Korban ini rata-rata santri dan di bawah umur. Kebetulan korban ini sudah ada beberapa yang keluar, tidak lagi menjadi santri. Kami juga menemukan ada yang saat ini masih aktif menjadi santri dan rata-rata di bawah umur," bebernya.

Berdasarkan pendataan sementara, sudah ada tiga hingga empat korban yang memberikan keterangan kepada tim pendamping hukum. Karena melibatkan anak-anak, Zakki menilai kasus tersebut harus mendapat perhatian serius.

"Ini harus menjadi perhatian serius, karena korban anak-anak di bawah umur," tuturnya.

Yakuza Maneges juga mengungkap dugaan bahwa praktik kekerasan seksual tersebut telah berlangsung dalam kurun waktu yang sangat panjang. Bahkan, terdapat pengakuan korban yang menyebut peristiwa serupa telah terjadi sejak puluhan tahun lalu.

"Ada perbuatan yang bahasanya itu disetubuhi, tapi 20 tahun yang lalu. Jadi perkara di lembaga ini dari pengasuh ini sudah melakukan dari 25 tahun yang lalu," ungkap Zakki kepada wartawan.

Menurutnya, selama ini para korban tidak berani mengungkap kejadian yang dialami karena adanya relasi kuasa antara pengasuh pondok dan para santri.

"Cuma baru ter-blow up sekarang. Karena selama ini tidak ada yang berani speak up," tegasnya.

Zakki menyebut, sedikitnya empat korban yang saat ini didampingi Yakuza Maneges mengaku mengalami berbagai bentuk pelecehan. Mulai dari tindakan fisik yang tidak pantas hingga dugaan perbuatan asusila lainnya.

"Yang sekarang kami bawa sebagai korban mengaku telah dilecehkan, misalnya diraba, atau disuruh melakukan perbuatan mesum demi kepuasan pelaku," tuturnya.

Ia menilai, perkara tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa karena korbannya merupakan anak-anak.

"Karena korbannya adalah anak, ini termasuk extraordinary crime. Kita harus mengawal ini," tegasnya.

Dalam penjelasannya, Zakki menyebut pelaku diduga memanfaatkan posisi dan pengaruhnya sebagai pimpinan pondok pesantren untuk memperdaya para korban. Bahkan, menurut keterangan yang diterima pihak pendamping, terdapat dugaan pemberian uang agar korban tidak menceritakan kejadian yang dialaminya.

"Biasanya santri itu harus tunduk kepada kiai. Kemudian ada juga pemberian uang untuk korban agar tidak speak up," katanya.

Meski demikian, pihak Yakuza Maneges menegaskan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah dan menyerahkan proses pembuktian kepada aparat penegak hukum.

"Kami tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah. Tapi kami tidak sembrono, tim kami tidak sembrono melaporkan seseorang," pungkasnya.

Zakki juga menegaskan bahwa laporan yang diajukan ke kepolisian telah disertai sejumlah bukti awal sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

"Kami tidak sembrono, tim Yakuza Manages tidak sembrono, untuk melaporkan seseorang kalau tidak pegang bukti. Sesuai Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang TPKS 1 korban dan 1 alat bukti itu sudah cukup," pungkasnya.

Sebelumnya, penceramah asal Malang, Ning Sisca Farisa Dhona, sempat menyinggung maraknya dugaan pelecehan seksual yang berlindung di balik institusi keagamaan. Dalam sebuah video ceramah yang viral di media sosial, Ning Sisca menyebut Malang berpotensi menjadi lokasi terbongkarnya kasus serupa seperti yang sebelumnya terjadi di sejumlah daerah lain.

"Sebentar lagi menunggu kasus-kasus di Malang. Karena di Malang pun sendiri ada apa banyak?" tanya Ning Sisca dalam video ceramah di TikTok yang dilihat detikJatim, Senin (1/6/2026).

Pernyataan itu disambut jamaah yang hadir dengan jawaban "banyak". Ning Sisca kemudian mengingatkan agar tindakan yang berlindung di balik simbol agama tidak ditutupi demi alasan apa pun.

"Ning Sisca kok berani berbicara? Lho, nyuwun sewu, batang ojo sampek ditutup-tutupi. Barang lek sing ala, opo maneh sing bertopeng agama, embel-embele agomo, demi oleh barokah, barokah, barokah, tapi lek kelakuane ora bener yo awak dewe ora oleh bela. Sekalipun itu saudara kita," tegasnya dalam potongan video tersebut.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Berkunjung ke Batu Flower dan Berfoto di Coban Rais, Malang"
[Gambas:Video 20detik]
(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads