Fakta-fakta Dugaan Ponpes Cabul yang Dibongkar Yakuza Maneges

Fakta-fakta Dugaan Ponpes Cabul yang Dibongkar Yakuza Maneges

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Senin, 15 Jun 2026 09:30 WIB
Gus Thuba bersama Yakuza Maneges laporkan dugaan pelecehan kiai di Malang
Gus Thuba bersama Yakuza Maneges laporkan dugaan pelecehan kiai di Malang/Foto: Muhammad Aminudin/detikJatim
Malang -

Ucapan penceramah asal Malang, Ning Sisca Farisa Dhona, yang sempat viral karena menyinggung maraknya dugaan pelecehan seksual berkedok institusi keagamaan, kembali menjadi perhatian publik.

Tak lama setelah potongan ceramah itu ramai diperbincangkan di media sosial, muncul laporan dugaan pelecehan seksual terhadap santri di sebuah pondok pesantren di Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang.

Kasus tersebut kini ditangani Polres Malang setelah organisasi Yakuza Maneges melaporkan seorang pimpinan pondok pesantren berinisial TJT. Sejumlah korban telah memberikan keterangan kepada tim pendamping hukum, sementara dugaan praktik serupa disebut telah berlangsung selama puluhan tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut fakta-fakta yang terungkap:

1. Kasus Berawal dari Aduan Keluarga Korban

Pengungkapan kasus dugaan pelecehan seksual ini bermula dari laporan yang disampaikan keluarga korban kepada Yakuza Maneges Malang Raya. Setelah menerima aduan tersebut, tim pendamping hukum melakukan penelusuran dan pendampingan sebelum akhirnya membawa perkara itu ke ranah kepolisian untuk diproses lebih lanjut.

ADVERTISEMENT

"Yakuza Maneges Malang Raya awalnya mendapatkan aduan dari keluarga korban berkaitan dengan dugaan pelecehan seksual menimpa santri oleh oknum kiai di Bululawang, Kabupaten Malang," tegas Tim Hukum Yakuza Maneges, M Zakki kepada wartawan di Polres Malang, Sabtu (13/6/2026) petang.

2. Korban Didominasi Santri-Sebagian Masih di Bawah Umur

Berdasarkan hasil pendampingan sementara, korban yang melapor merupakan santri yang pernah maupun masih menempuh pendidikan di pondok pesantren tersebut. Sebagian korban disebut masih aktif sebagai santri dan mayoritas berusia di bawah umur sehingga kasus ini dinilai membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.

"Korban ini rata-rata santri dan di bawah umur. Kebetulan korban ini sudah ada beberapa yang keluar, tidak lagi menjadi santri. Kami juga menemukan ada yang saat ini masih aktif menjadi santri dan rata-rata di bawah umur," bebernya.

Selain itu, Zakki menegaskan pentingnya pengawalan terhadap perkara tersebut mengingat para korban merupakan anak-anak yang masuk kategori kelompok rentan.

"Ini harus menjadi perhatian serius, karena korban anak-anak di bawah umur," tuturnya.

3. Empat Korban Sudah Memberikan Keterangan

Sejauh ini, sedikitnya tiga hingga empat korban telah memberikan keterangan kepada tim pendamping hukum Yakuza Maneges. Keterangan para korban menjadi bagian dari bukti awal yang kemudian disampaikan kepada aparat penegak hukum saat laporan resmi diajukan ke Polres Malang.

"Yang sekarang kami bawa sebagai korban mengaku telah dilecehkan, misalnya diraba, atau disuruh melakukan perbuatan mesum demi kepuasan pelaku," tuturnya.

Menurut Zakki, kasus tersebut layak mendapat perhatian khusus karena menyangkut dugaan kekerasan seksual terhadap anak yang memiliki dampak jangka panjang bagi korban.

"Karena korbannya adalah anak, ini termasuk extraordinary crime. Kita harus mengawal ini," tegasnya.

4. Diduga Sudah Terjadi Puluhan Tahun

Yakuza Maneges mengungkap adanya pengakuan korban yang menyebut dugaan praktik kekerasan seksual di lingkungan pondok pesantren tersebut telah berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang. Bahkan terdapat keterangan yang mengarah pada dugaan peristiwa serupa yang terjadi sekitar dua dekade lalu sehingga membuka kemungkinan adanya korban lain yang belum berani melapor.

"Ada perbuatan yang bahasanya itu disetubuhi, tapi 20 tahun yang lalu. Jadi perkara di lembaga ini dari pengasuh ini sudah melakukan dari 25 tahun yang lalu," ungkap Zakki kepada wartawan.

Menurutnya, kasus tersebut baru mencuat sekarang karena selama ini korban diduga tidak berani bersuara akibat relasi kuasa yang kuat antara pengasuh pondok dan para santri.

"Cuma baru ter-blow up sekarang. Karena selama ini tidak ada yang berani speak up," tegasnya.

5. Diduga Memanfaatkan Relasi Kuasa dan Memberi Uang Korban

Tim pendamping hukum menduga pelaku memanfaatkan posisi serta pengaruhnya sebagai pimpinan pondok pesantren untuk mengendalikan para korban. Selain itu, terdapat keterangan yang menyebut adanya dugaan pemberian uang kepada korban agar tidak menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada pihak lain.

"Biasanya santri itu harus tunduk kepada kiai. Kemudian ada juga pemberian uang untuk korban agar tidak speak up," katanya.

Meski demikian, Yakuza Maneges menegaskan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah dan menyerahkan proses pembuktian kepada aparat kepolisian yang kini menangani perkara tersebut.

"Kami tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah. Tapi kami tidak sembrono, tim kami tidak sembrono melaporkan seseorang," pungkasnya.

Zakki juga memastikan laporan yang diajukan telah disertai bukti awal sebagaimana diatur dalam ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

"Kami tidak sembrono, tim Yakuza Manages tidak sembrono, untuk melaporkan seseorang kalau tidak pegang bukti. Sesuai Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang TPKS 1 korban dan 1 alat bukti itu sudah cukup," pungkasnya.

6. Ceramah Viral Ning Sisca Kembali Jadi Sorotan

Sebelum kasus ini mencuat, penceramah asal Malang Ning Sisca Farisa Dhona sempat menjadi perbincangan publik setelah potongan ceramahnya viral di media sosial. Dalam ceramah tersebut, ia menyinggung dugaan adanya kasus-kasus pelecehan seksual yang berlindung di balik simbol agama dan menyebut Malang berpotensi menjadi daerah berikutnya yang mengungkap kasus serupa.

"Sebentar lagi menunggu kasus-kasus di Malang. Karena di Malang pun sendiri ada apa banyak?" tanya Ning Sisca dalam video ceramah yang viral.

Ning Sisca juga mengingatkan agar masyarakat tidak menutupi perbuatan yang dinilainya salah hanya karena pelaku membawa simbol atau atribut keagamaan.

"Ning Sisca kok berani berbicara? Lho, nyuwun sewu, batang ojo sampek ditutup-tutupi. Barang lek sing ala, opo maneh sing bertopeng agama, embel-embele agomo, demi oleh barokah, barokah, barokah, tapi lek kelakuane ora bener yo awak dewe ora oleh bela. Sekalipun itu saudara kita," tegasnya dalam potongan video tersebut.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Bejatnya Seorang Pendidik, Cabuli 13 Murid di Indramayu"
[Gambas:Video 20detik]
(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads