Modus Sindikat Scamming Sleman: Jual Konten Porno Dibungkus Aplikasi Kencan

Modus Sindikat Scamming Sleman: Jual Konten Porno Dibungkus Aplikasi Kencan

Adji G Rinepta - detikJogja
Rabu, 07 Jan 2026 13:16 WIB
Anggota jaringan scamming internasional di Sleman saat rilis kasus di Polresta Jogja, Rabu (7/1/20260.
Anggota jaringan scamming internasional di Sleman saat rilis kasus di Polresta Jogja, Rabu (7/1/20260. (Foto: Adji G Rinepta/detikJogja)
Jogja -

Praktik love scam jaringan internasional yang bermarkas di Jalan Gito Gati, Sleman, berhasil diungkap oleh jajaran Polresta Jogja. Markas scamming ini bekerja menggunakan aplikasi kencan atau dating apps untuk menjual konten pornografi ke negara-negara luar.

Kasat Reskrim Polresta Jogja Kompol Riski Adrian mengungkapkan, markas scamming di Sleman ini menggunakan basis aplikasi bernama WOW yang server utamanya berada di China. Aplikasi ini berbasis chat yang ujung-ujungnya membagikan konten porno berbayar.

"Untuk kontennya, baik foto dan video porno itu, menurut keterangan para karyawan atau agen-agennya itu, sudah disiapkan oleh perusahaan karena mereka saat menggunakan device itu, baik itu HP dan laptop, sudah ada di dalam itu," ungkap Riski dalam jumpa pers di Mapolresta Jogja, Rabu (7/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para korban, yang disebut sebagai konsumen, menggunakan aplikasi ini seperti layaknya kencan melalui chat. Ratusan karyawan yang disebut agen, bertindak sebagai operator pembalas chat. Percakapan terus dilakukan hingga menjurus pada pornografi.

Selain sudah disiapkan dalam aplikasi WOW, konten porno juga sudah tersedia perangkat seperti ponsel dan laptop. Konten porno dari Aplikasi disediakan dari China, sedangkan konten yang ada di device disediakan oleh kantor di Sleman.

ADVERTISEMENT

"Dalam aplikasi itu telah disiapkan (konten porno), namun terbatas. Sehingga si perusahaan atau vendor yang ada di Indonesia memasukkan foto dan videonya sendiri secara manual. Download dari internet," paparnya.

Lebih lanjut Riski menjelaskan, konsumen atau korban dalam praktik love scamming ini berasal dari empat negara yaitu Amerika, Inggris, Kanada, dan Australia. Konten yang dibagikan pun disesuaikan dengan asal dan karakteristik konsumen.

Seluruh aktivitas dalam aplikasi dijalankan oleh China. Vendor yang berada di Sleman hanya tinggal mengikuti. Tiap agen dibuatkan satu email untuk masuk ke aplikasi.

"Jadi nanti pas mereka masuk ke aplikasi WOW tadi itu, mereka masukkan ID number-nya. Udah kirim ID number masing-masing, terus mereka kirim OTP. OTP itu dikirimkan ke email tadi itu. Baru nanti mereka masukkan OTP mereka, baru mereka terhubung," paparnya.

"(Setelah masuk aplikasi) sudah masuk ke dalam room. Room dengan di situ ada 15 orang, ada yang 10 orang, 5 orang. Jadi kalau pas kita tanya, room itu siapa yang menyediakan? Itu klien. Mereka nggak tahu-menahu yang di sini. Pokoknya mereka masuk, langsung tiba-tiba di situ ada chat room," sambungnya.

Setelah masuk dalam room chat, para agen ini tinggal 'melayani' konsumen untuk berinteraksi. Hingga akhirnya mengirimkan konten porno yang telah disediakan. Konsumen tidak bisa langsung membuka konten itu sebelum membeli koin.

"Iya (agen mengaku sebagai orang dalam konten porno), yang ngaku sebagai dia. Itulah scam-nya di situ. Iya, fake profile," ungkap Riski.

Untuk membuka konten porno yang telah dikirim, konsumen harus memberi gift. Rinciannya Gift Mawar sebesar 8 coin, Gift Mahkota 199 coin, Gift Tiara 699 coin, dan Gift Supercar 999 coin. Setiap 16 coin dalam aplikasi tersebut bernilai 5 USD.

Sedangkan para agen atau karyawan di Sleman, lanjut Riski, ditarget untuk mendapat 2 juta koin per bulan per sift atau 3-6 ribu coin setiap harinya per orang.

"Kegiatan ini sudah berlangsung hampir 1 tahun, adapun keuntungan yang didapat, ini kita dapat dari hasil pemeriksaan, untuk setiap shift memiliki target mengumpulkan minimal 2 juta koin per bulannya," urai Riski.

"Yang mana hitungannya per 16 koin itu dibayar sebesar $5. Jadi kalau dihitung secara kalkulasi per shift itu dapat menghasilkan sebesar Rp 10 miliar lebih per bulannya, satu shift. Sedangkan mereka dalam pelaksanaan pekerjaannya, mereka dibagi ke dalam tiga shift," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, jajaran Polresta Jogja berhasil mengungkap praktik scam jaringan internasional yang bermarkas di Jalan Gito Gati Sleman dan mengamankan puluhan orang, Senin (5/1). Dari hasil pemeriksaan, enam orang ditetapkan sebagai tersangka.

Kapolresta Jogja, Kombes Eva Guna Pandia, menjelaskan pengungkapan kasus ini berawal dari patroli siber yang dilakukan pihaknya. Patroli itu menemukan iklan lowongan kerja yang tak lazim. Lowongan itu mengharuskan calon karyawan bisa berbahasa Inggris dan paham soal aplikasi kencan atau dating apps.

Setelah ditelusuri, pada Senin (5/1), polisi kemudian melakukan penggerebekan di kantor bernama PT Altair Trans Service di Jalan Gito Gati.

"Diamankan bukti berupa 30 handphone, 50 laptop, CCTV, dan seperangkat Wi-Fi yang digunakan sebagai pidana love scamming. Selanjutnya setelah dilakukan operasi tangkap tangan di temukan sarana tindak pidana," jelas Pandia dalam press rilis di Mapolresta Jogja, Rabu (7/1/2026).




(aku/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads