Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa hukum internasional tidak bisa menghentikan dirinya. Pernyataan itu muncul usai rentetan kebijakan luar negerinya menggemparkan dunia beberapa waktu terakhir.
Trump mengungkapkannya dalam wawancaranya bersama New York Times (NYT) yang dirilis Rabu (7/1) waktu setempat, dilansir kantor berita Anadolu dan Japan Times seperti dikutip detikNews Jumat (9/1/2026).
Sejak kembali berkuasa sebagai orang nomor satu AS pada 20 Januari 2025, Trump menelurkan serangkaian kebijakan luar negeri yang membuat dunia ketar-ketir. Mulai dari bergabung dengan Israel dalam mengebom fasilitas-fasilitas nuklir Iran saat kedua negara yang bermusuhan itu berperang tahun lalu, hingga menggempur Venezuela untuk menangkap Presiden Nicolas Maduro, serta ambisinya merebut Greenland dari Denmark, bahkan tidak mengesampingkan kekuatan militer.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump kemudian ditanya oleh NYT apakah ada batasan untuk kekuasaan global yang dimilikinya sebagai Presiden AS. Trump menjawab: "Iya, ada satu hal. Moralitas saya sendiri. Pikiran saya sendiri. Itu satu-satunya hal yang dapat menghentikan saya."
"Saya tidak membutuhkan hukum internasional," lanjut presiden berusia 79 tahun tersebut menegaskan.
Namun dia juga menambahkan bahwa: "Saya tidak berniat menyakiti orang-orang."
Trump sempat berkata "Iya, perlu" saat jurnalis NYT mendesaknya, apakah pemerintahannya perlu untuk mematuhi hukum internasional. Namun, dia kembali menegaskan bahwa dirinyalah yang akan menjadi penentu kapan batasan itu berlaku bagi Negeri Paman Sam.
"Itu tergantung pada definisi Anda tentang hukum internasional," katanya.
Pernyataan Trump itu, sebut NYT, terkesan mengabaikan hukum internasional dan batasan-batasan lainnya terhadap kemampuannya dalam menggunakan kekuatan militer untuk menyerang, menginvasi, atau memaksa negara-negara lainnya di seluruh dunia.
Penilaian yang diberikan Trump tentang kebebasannya dalam menggunakan instrumen kekuatan militer, ekonomi, atau politik apa pun untuk memperkuat supremasi AS, menurut NYT dalam laporannya, merupakan pengakuan paling blak-blakan tentang pandangan dunianya.
Intinya adalah konsep bahwa kekuatan nasional, bukan aturan hukum, perjanjian, dan konvensi, yang seharusnya menjadi faktor penentu ketika kekuatan-kekuatan saling berbenturan.
Trump Pakai Reputasinya yang Tidak Bisa Diprediksi
Trump mengungkapkan ada beberapa hambatan yang dialaminya di AS, terlebih saat dia berniat mengejar strategi maksimal untuk menghukum lembaga yang tidak disukainya, membalas dendam kepada para lawan politiknya, bahkan keputusannya mengerahkan Garda Nasional ke kota-kota besar AS yang dipimpin sosok yang menentangnya.
Suami Melania itu kemudian memperjelas bahwa dia sering menggunakan reputasinya sebagai sosok yang tidak bisa diprediksi. Termasuk, dia bersedia menggunakan opsi militer untuk memaksa negara lain tunduk kepada tuntutannya.
Ia lantas menyinggung soal keberhasilan serangan AS terhadap program nuklir Iran, membanggakan kecepatan dalam melumpuhkan pemerintahan Venezuela pada akhir pekan lalu, dan membahas soal rencananya menguasai Greenland yang menuai kritikan sekutu-sekutu NATO.
Ketika ditanya hal mana yang menjadi prioritas lebih tinggi, mendapatkan Greenland atau mempertahankan NATO, Trump menolak untuk menjawab secara langsung. Namun dia mengakui bahwa: "Itu mungkin sebuah pilihan."
(apu/dil)

Komentar Terbanyak
Serangan Balik Tiyo Eks BEM UGM Usai Dituding Dekat dengan Tokoh PDIP
Pak Dukuh Tanam Padi di Pekarangan Pakai 840 Galon Bekas, Segini Hasil Panennya
Apakah Gigitan Orong-orong Berbahaya? Cari Tahu Bekas dan Cara Mengobatinya