Kenapa Penderita Diabetes Harus Diamputasi? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya

Kenapa Penderita Diabetes Harus Diamputasi? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya

Ulvia Nur Azizah - detikJogja
Minggu, 11 Jan 2026 15:43 WIB
The Stethoscope as a Symbol of Diabetes Awareness and Management
Ilustrasi diabetes. Foto: Getty Images/Mohamad Faizal Bin Ramli
Jogja -

Amputasi pada penderita diabetes sering memunculkan pertanyaan besar. Banyak orang mengira tindakan ini terjadi mendadak, padahal prosesnya biasanya panjang dan berawal dari masalah yang tampak ringan.

Diabetes yang tidak terkontrol dapat memicu kerusakan saraf dan gangguan aliran darah, terutama di kaki. Luka kecil yang tidak terasa nyeri bisa berkembang menjadi infeksi serius tanpa disadari. Dari sinilah risiko amputasi perlahan terbentuk, sering kali tanpa tanda yang jelas di awal.

Pemahaman tentang penyebab dan tanda peringatan menjadi kunci agar kondisi ini tidak berakhir fatal. Mari simak penjelasan berikut untuk membantu melihat gambaran utuh sebelum terlambat mengambil langkah pencegahan. Jadi, jangan lewatkan pembahasannya, detikers!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Poin utamanya:

  • Amputasi pada diabetes umumnya dipicu neuropati dan gangguan sirkulasi darah.
  • Luka kaki yang tidak terasa dan sulit sembuh menjadi awal komplikasi serius.
  • Risiko amputasi dapat ditekan dengan kontrol gula darah dan perawatan kaki rutin.

ADVERTISEMENT

Kenapa Penderita Diabetes Harus Diamputasi?

Amputasi pada penderita diabetes bukan terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini umumnya merupakan ujung dari rangkaian komplikasi jangka panjang yang tidak terkontrol, terutama akibat kadar gula darah yang tinggi. Jika tidak ditangani dengan baik, kerusakan pada saraf dan pembuluh darah dapat berkembang hingga menyebabkan luka parah yang tidak bisa diselamatkan lagi.

Diabetes menjadi penyebab utama amputasi tungkai bawah di banyak negara. Namun, sebagian besar kasus sebenarnya bisa dicegah dengan perawatan dan pemantauan yang tepat. Berikut ini adalah alasan kenapa penderita diabetes harus diamputasi.

1. Kerusakan Saraf Membuat Luka Tak Terasa

Salah satu penyebab utama amputasi pada penderita diabetes adalah neuropati perifer, yaitu kerusakan saraf akibat kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang. Seperti dijelaskan oleh Healthline, kondisi ini membuat penderita mati rasa di kaki dan jari kaki.

Akibatnya, luka kecil seperti lecet, goresan, atau lepuh sering kali tidak terasa sakit. Karena tidak disadari, penderita tetap menekan area tersebut saat berjalan, sehingga luka membesar, terinfeksi, dan semakin sulit sembuh. Dalam kondisi tertentu, kerusakan jaringan bisa menjadi permanen dan berujung pada amputasi.

2. Aliran Darah yang Buruk Memperlambat Penyembuhan

Selain saraf, pembuluh darah juga sangat terdampak oleh diabetes. Dikutip dari Healthline, diabetes yang tidak ditangani dapat menyebabkan peripheral artery disease (PAD), yaitu penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan lemak.

Ketika aliran darah ke kaki dan tungkai berkurang, proses penyembuhan luka menjadi sangat lambat. Tubuh juga kesulitan melawan infeksi. Dalam kondisi terburuk, jaringan bisa mati atau mengalami gangren, dan infeksi dapat menyebar hingga ke tulang. Jika ini terjadi, amputasi sering kali menjadi satu-satunya pilihan untuk menyelamatkan nyawa.

3. Luka Kaki Diabetes yang Tidak Pernah Sembuh

Masalah kaki merupakan tanda peringatan penting pada penderita diabetes. Berdasarkan penjelasan PBMC, diabetes dapat membuat kaki menjadi merah, mati rasa, bengkak, hingga muncul luka yang tidak kunjung sembuh. Jika kerusakan sudah terlalu parah, dokter terpaksa melakukan amputasi pada tungkai bawah.

Namun, PBMC juga menegaskan bahwa hingga 85 persen amputasi akibat diabetes dapat dicegah hanya dengan pemeriksaan kaki secara rutin oleh dokter spesialis kaki atau Doctor of Podiatric Medicine (DPM). Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi tanda-tanda awal sebelum kondisi memburuk.

Gejala yang Tidak Boleh Diabaikan Penderita Diabetes

Penderita diabetes perlu memberi perhatian khusus pada perubahan yang terjadi pada kaki dan tungkai. Banyak kasus amputasi berawal dari gejala ringan yang tidak disadari atau dianggap sepele. Padahal, gejala tersebut bisa menjadi tanda awal kerusakan saraf atau gangguan aliran darah.

Dikutip dari Healthline dan rekomendasi Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penderita diabetes sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis jika mengalami kondisi berikut:

  1. Nyeri, rasa terbakar, kesemutan, atau mati rasa pada kaki dan tungkai bawah
  2. Perubahan ukuran atau bentuk kaki dan tungkai
  3. Infeksi jamur di sela-sela jari kaki
  4. Luka, lepuh, atau sayatan yang tidak terasa sakit
  5. Luka terbuka yang tidak kunjung sembuh
  6. Tukak yang sudah parah hingga tulang terlihat
  7. Pembengkakan, kemerahan, atau rasa hangat pada satu area kaki
  8. Bau tidak sedap dari luka atau kaki

Gejala-gejala tersebut sering berkaitan dengan neuropati perifer dan gangguan sirkulasi darah, dua komplikasi diabetes yang paling sering berujung pada amputasi bila tidak ditangani sejak dini. Selain itu, Mayo Clinic menegaskan bahwa sebagian besar amputasi kaki dan tungkai bawah pada penderita diabetes berawal dari luka atau tukak kaki yang tidak mendapatkan perawatan segera.

Cara Mencegah Amputasi pada Penderita Diabetes

Amputasi bukanlah konsekuensi yang tak terhindarkan bagi penderita diabetes. Dengan pengelolaan penyakit yang baik dan perawatan kaki yang tepat, risiko ini dapat ditekan secara signifikan. Mayo Clinic menyebutkan bahwa kunci pencegahan terletak pada kontrol diabetes yang konsisten serta deteksi dini masalah pada kaki. Berikut ini sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk mencegah kemungkinan amputasi.

1. Jaga Kadar Gula Tetap Stabil

Langkah paling mendasar adalah menjaga kadar gula darah tetap stabil. Dikutip dari Healthline, pengendalian gula darah membantu memperlambat kerusakan saraf dan pembuluh darah yang menjadi penyebab utama luka sulit sembuh. Pola makan seimbang, aktivitas fisik rutin, kepatuhan minum obat atau insulin, serta pengelolaan berat badan dan tekanan darah menjadi bagian penting dari upaya ini.

2. Jaga Kebersihan Kaki

Selain itu, perawatan kaki sehari-hari tidak boleh diabaikan. PBMC dan Mayo Clinic menekankan pentingnya memeriksa kaki setiap hari untuk mendeteksi luka, lecet, perubahan warna, atau area yang terasa mati rasa. Pemeriksaan rutin ini membantu masalah ditemukan sebelum berkembang menjadi infeksi berat.

Kebersihan kaki juga berperan besar dalam pencegahan. Mencuci kaki dengan air hangat, mengeringkannya secara menyeluruh terutama di sela jari, serta menjaga kelembapan kulit dengan pelembap di area yang tepat dapat mencegah kulit pecah dan infeksi. Namun, pelembap tidak dianjurkan di sela jari karena dapat memicu kelembapan berlebih.

3. Serahkan Perawatan pada Tenaga Medis

Mayo Clinic juga mengingatkan agar penderita diabetes tidak melakukan tindakan terhadap kapalan, mata ikan, atau kutil sendiri. Tindakan seperti memotong atau menggunakan obat kimia tanpa pengawasan medis berisiko melukai kulit dan memicu infeksi. Masalah kaki sebaiknya ditangani oleh tenaga kesehatan atau podiatrist.

4. Pilih Alas Kaki yang Tepat

Pemilihan alas kaki yang tepat menjadi langkah perlindungan tambahan. Sepatu yang pas, tertutup, dan menopang kaki dengan baik dapat mencegah cedera. Berjalan tanpa alas kaki, baik di dalam maupun luar rumah, sebaiknya dihindari karena meningkatkan risiko luka tanpa disadari.

5. Periksa Kaki Secara Berkala

Terakhir, pemeriksaan kaki secara berkala oleh tenaga medis sangat dianjurkan. Menurut PBMC, pemeriksaan rutin oleh dokter atau podiatrist dapat secara signifikan menurunkan risiko amputasi, karena masalah dapat ditangani sebelum mencapai tahap yang membahayakan.

Risiko amputasi pada diabetes bukan sesuatu yang tak terhindarkan. Dengan kewaspadaan sejak dini dan perawatan yang konsisten, banyak komplikasi berat sebenarnya bisa dicegah sebelum berkembang lebih jauh. Semoga bermanfaat!




(par/par)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads