- Sejarah Valentine Day 14 Februari 1. Berawal dari Festival Lupercalia hingga Legenda Santo Valentine 2. Siapakah Sosok Santo Valentine yang Sebenarnya? 3. Geoffrey Chaucer Mencetuskan Valentine Modern 4. Munculnya Tradisi Surat Cinta Valentine 5. Valentine di Era Industri 6. Vinegar Valentines 7. Valentine Kini Identik dengan Cokelat, Bunga, dan Simbol Cupid
- FAQ Dari mana asal usul Hari Valentine? Kenapa Hari Valentine identik dengan cokelat? Siapa yang mengasih cokelat di Hari Valentine?
Setiap tanggal 14 Februari, masyarakat di berbagai belahan dunia merayakan Hari Valentine sebagai momen berbagi kasih sayang. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa tradisi ini punya sejarah panjang yang berlapis, mulai dari ritual kuno hingga pengaruh sastra abad pertengahan. Evolusi inilah yang membentuk Valentine seperti yang kita kenal sekarang.
Jejak sejarahnya bergerak dari festival Lupercalia di Roma, legenda para martir bernama Valentine, hingga peran Geoffrey Chaucer yang menghubungkan tanggal ini dengan cinta romantis. Tradisi bertukar surat cinta, kartu dekoratif, hingga hadiah simbolis kemudian berkembang seiring perubahan zaman.
Dalam perjalanan panjang tersebut, Valentine bergeser dari ritual keagamaan menjadi perayaan kasih sayang yang bersifat universal. Yuk, simak sejarah lengkapnya, detikers!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Poin utamanya:
- Sejarah Valentine bermula dari festival Lupercalia dan legenda para martir bernama Valentine.
- Chaucer dan tradisi sastra abad pertengahan mengubah 14 Februari menjadi simbol cinta romantis.
- Cokelat, bunga, dan kartu menjadi simbol modern Valentine berkat perkembangan industri dan budaya populer.
Sejarah Valentine Day 14 Februari
Sejarah Hari Kasih Sayang atau Valentine Day bermula sejak ratusan tahun lalu. History Extra dan Country Living Magazine mencatat sejarah hari ini dimulai pada abad ke-5. Bagaimana cerita lengkapnya? Mari kita simak!
1. Berawal dari Festival Lupercalia hingga Legenda Santo Valentine
Banyak sejarawan melacak akar sejarah Hari Valentine kembali ke Roma Kuno. Antara tanggal 13 hingga 15 Februari, orang Romawi merayakan festival Lupercalia. Ini adalah festival kesuburan yang didedikasikan untuk Faunus, dewa pertanian Romawi, serta pendiri Roma, Romulus dan Remus.
Meskipun jatuh di waktu yang sama, Lupercalia jauh dari kesan romantis. Tradisi ini melibatkan pengorbanan hewan. Para pria Romawi akan menggunakan kulit hewan tersebut untuk mencambuk wanita secara lembut. Praktik ini dipercaya dapat meningkatkan kesuburan bagi para wanita tersebut.
Baru pada akhir abad ke-5, Paus Gelasius I menetapkan 14 Februari sebagai Hari Santo Valentine. Langkah ini diduga kuat sebagai upaya gereja untuk mengkristenkan tradisi pagan Lupercalia. Namun, sosok Santo Valentine sendiri masih menjadi misteri yang diperdebatkan hingga hari ini.
2. Siapakah Sosok Santo Valentine yang Sebenarnya?
Gereja Katolik mengakui setidaknya dua orang suci bernama Valentine yang mati martir pada tanggal 14 Februari, meski di tahun yang berbeda. Salah satunya adalah Santo Valentine dari Terni, seorang uskup yang dieksekusi sekitar tahun 197 Masehi. Legenda menyebutkan ia diam-diam menikahkan tentara Romawi yang dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II. Keberaniannya membela cinta inilah yang membuat namanya dikaitkan dengan kasih sayang.
Legenda lain mengisahkan seorang martir yang jatuh cinta pada putri sipir penjara saat ia sedang mendekam di balik jeruji besi. Sebelum dieksekusi, ia konon menulis surat cinta pertama yang ditandatangani dengan kalimat 'From your Valentine'.
Dikutip dari History Extra, meski kisah-kisah ini sangat menyentuh dan populer, kebenarannya secara historis masih sulit dibuktikan. Begitu sedikit informasi yang akurat mengenai sosok ini sehingga Gereja Katolik secara resmi menghapus perayaan ini dari kalender umum mereka pada tahun 1969.
3. Geoffrey Chaucer Mencetuskan Valentine Modern
Lantas, bagaimana hari peringatan kematian seorang martir berubah menjadi perayaan cinta romantis? Jawaban besarnya ada pada sastra abad pertengahan. Seorang penyair Inggris ternama, Geoffrey Chaucer, dianggap sebagai orang pertama yang menghubungkan Hari Valentine dengan cinta romantis melalui puisinya pada abad ke-14.
Dalam karyanya yang berjudul The Parliament of Fowls, Chaucer menuliskan bahwa pada Hari Santo Valentine, setiap burung datang ke sana untuk memilih pasangannya. Pada masa itu, pertengahan Februari dianggap sebagai awal musim kawin burung di Inggris, yang juga dipandang sebagai pertanda datangnya musim semi. Hubungan antara burung yang mencari pasangan dan Hari Valentine inilah yang kemudian memopulerkan gagasan tentang mencari pasangan romantis pada tanggal 14 Februari.
Pengaruh Chaucer kemudian diperkuat oleh sastrawan besar lainnya seperti William Shakespeare. Dalam naskah Hamlet, tokoh Ophelia menyebutkan tentang keinginan menjadi 'Valentine' bagi seseorang di pagi hari tanggal 14 Februari. Melalui pengaruh literasi inilah, konsep Hari Valentine perlahan bergeser dari ritual religius menjadi perayaan kasih sayang yang sekuler.
4. Munculnya Tradisi Surat Cinta Valentine
Tradisi bertukar pesan cinta dimulai secara tertulis pada abad ke-15. Surat cinta Valentine tertua yang masih ada hingga saat ini ditulis oleh Charles, Duke of Orleans, pada tahun 1415. Ia menulis surat dalam bahasa Prancis untuk istrinya saat ia ditawan di Menara London setelah Pertempuran Agincourt.
Di Inggris, surat Valentine tertua dalam bahasa Inggris yang tercatat berasal dari tahun 1477. Surat tersebut dikirim oleh Margery Brews kepada tunangannya, John Paston, di mana ia memanggilnya sebagai 'right well-beloved Valentine'. Pada awalnya, pesan-pesan ini dibuat secara manual dengan hiasan tangan yang rumit, menggunakan simbol-simbol seperti simpul cinta atau bunga.
Memasuki abad ke-18 di Inggris, kartu Valentine mulai diproduksi secara massal meskipun masih terbatas. Bagi mereka yang tidak pandai merangkai kata, tersedia buku panduan khusus yang berisi kumpulan puisi untuk membantu merayu kekasih. Kartu-kartu ini sering kali diselipkan secara diam-diam di bawah pintu atau diikat pada pengetuk pintu rumah sang pujaan hati.
5. Valentine di Era Industri
Revolusi Industri pada abad ke-19 mengubah segalanya. Dengan kemajuan teknologi cetak, kartu Valentine menjadi semakin populer dan mudah didapat. Di Inggris, pengenalan sistem pos murah yang dikenal sebagai Uniform Penny Post pada tahun 1840 memicu lonjakan pengiriman kartu secara drastis. Ribuan kartu berhiaskan renda, pita, dan manik-manik beredar di London setiap tahunnya.
Di Amerika Serikat, sosok Esther Howland dikenal sebagai "Ibu Valentine Amerika". Pada pertengahan abad ke-19, ia memopulerkan kartu bergaya Inggris dengan proses perakitan massal yang membuat kartu mewah menjadi terjangkau bagi banyak orang. Kepopuleran ini kemudian dilirik oleh perusahaan besar seperti Hallmark yang mulai memproduksi kartu Valentine resmi pada tahun 1913.
6. Vinegar Valentines
Tidak semua kartu Valentine di masa lalu bersifat romantis. Pada era Victoria, terdapat tradisi unik bernama Vinegar Valentines atau kartu cuka. Kartu-kartu ini justru didesain untuk menghina atau mengejek orang lain. Mengutip koleksi di Museum of London, kartu-kartu ini biasanya memiliki karikatur yang mengejek profesi pria atau penampilan fisik wanita.
Beberapa kartu bahkan dikirim secara anonim untuk mengejek kebiasaan mabuk atau sifat menyebalkan seseorang. Karena sifatnya yang menghina, sangat sedikit contoh kartu ini yang bertahan hingga sekarang. Namun, fenomena ini menunjukkan bahwa di masa lalu, 14 Februari juga menjadi ajang untuk mengekspresikan ketidaksukaan dengan cara yang humoris sekaligus pedas.
7. Valentine Kini Identik dengan Cokelat, Bunga, dan Simbol Cupid
Simbol-simbol yang kita lihat saat ini juga memiliki sejarahnya sendiri. Sosok Cupid, bayi bersayap yang membawa busur dan panah, sebenarnya berasal dari mitologi Romawi sebagai putra Venus, dewi cinta. Panahnya dipercaya dapat membuat siapa pun jatuh cinta seketika.
Dalam hal hadiah, Richard Cadbury menjadi pionir dalam dunia cokelat dengan menciptakan kotak berbentuk hati pertama pada tahun 1868. Sementara itu, permen berbentuk hati yang populer di Amerika, Conversation Hearts, mulai mendapatkan bentuk hatinya pada tahun 1902. Saat ini, berkat kampanye pemasaran yang masif, Hari Valentine telah berkembang menjadi industri miliaran dolar yang tidak hanya merayakan cinta antar kekasih, tetapi juga kasih sayang secara umum kepada teman dan keluarga.
Sejarah panjang Valentine Day menunjukkan bagaimana tradisi kuno dapat berubah menjadi perayaan cinta yang mendunia. Semoga bermanfaat, detikers!
FAQ
Dari mana asal usul Hari Valentine?
Hari Valentine bermula dari festival Lupercalia di Roma Kuno, lalu dikaitkan dengan legenda para martir bernama Valentine pada abad ke-5. Tradisi cinta romantis baru muncul pada abad ke-14 setelah Geoffrey Chaucer menulis karya yang menghubungkan 14 Februari dengan pemilihan pasangan burung, yang kemudian diadopsi manusia sebagai simbol cinta.
Kenapa Hari Valentine identik dengan cokelat?
Cokelat mulai populer pada abad ke-19 ketika Richard Cadbury menciptakan kotak cokelat berbentuk hati yang dijual khusus untuk Valentine. Sejak itu, cokelat dianggap hadiah simbolis karena mudah diberikan, rasanya disukai banyak orang, dan dipromosikan besar-besaran oleh industri makanan.
Siapa yang mengasih cokelat di Hari Valentine?
Pemberi cokelat tidak memiliki aturan khusus. Biasanya cokelat diberikan oleh pasangan, teman, atau keluarga sebagai tanda kasih sayang. Di beberapa negara, seperti Jepang, perempuan yang lebih sering memberi cokelat, tetapi di negara lain praktiknya lebih bebas dan saling bertukar hadiah.
(sto/ams)

Komentar Terbanyak
Pak Dukuh Tanam Padi di Pekarangan Pakai 840 Galon Bekas, Segini Hasil Panennya
Apakah Gigitan Orong-orong Berbahaya? Cari Tahu Bekas dan Cara Mengobatinya
14 Orang Jadi Tersangka Baru Kasus Penyiksaan Anak Daycare Little Aresha Jogja