Dinas Pertanian Gunungkidul Akan Kembangkan 'Padi Galon' Ala Pak Dukuh Wonosari

Dinas Pertanian Gunungkidul Akan Kembangkan 'Padi Galon' Ala Pak Dukuh Wonosari

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Senin, 06 Jul 2026 16:20 WIB
Gapoktan Genjahan Makmur di Genjahan, Ponjong yang telah mengaplikasikan penanaman padi di galon.
Gapoktan Genjahan Makmur di Genjahan, Ponjong yang telah mengaplikasikan penanaman padi di galon. Foto: Dok. Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul.
Gunungkidul -

Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul menyebut sudah menyosialisasikan penanaman padi menggunakan galon seperti Ngelorejo, Gari, Wonosari, Gunungkidul. Bahkan, di Genjahan Ponjong sudah ada yang menerapkan dan berhasil panen.

Sekretaris DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengaku penanaman padi dengan galon sudah kerap pihaknya sosialisasikan ke masyarakat. Menurutnya, penanaman model tersebut sudah dilakukan oleh warga Genjahan, Ponjong, Gunungkidul.

"Sudah kita kenalkan dan publikasikan. Di Genjahan, Ponjong juga ada yang menanam padi pakai galon sejak tahun lalu, bahkan mereka sudah panen juga," katanya saat dihubungi detikJogja, Senin (6/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Raharjo melanjutkan, penanaman padi menggunakan galon di Ponjong dilakukan oleh Gapoktan Genjahan Makmur. Sedangkan benih padi menggunakan jenis Inpari-24.

"Jadi kalau dari kami sudah mendukung dan menyosialiasikan penanaman padi di galon, tapi kembali lagi modalnya mandiri," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Menurut Raharjo, penanaman padi menggunakan galon terbilang mudah dan efisien. Mengingat masyarakat tidak perlu menyiram tanaman setiap hari.

"Memang menanam padi di galon itu tidak usah mencangkul atau membajak tanah. Selain itu, kemudahannya tidak perlu disiram air setiap hari, jadi disiram saja sampai tergenang dan kalau kering baru disiram air lagi," ucapnya.

Selain itu, tidak ada jenis padi khusus untuk menanam di galon. Untuk itu, Raharjo menilai menanam padi di galon bisa sebagai alternatif masyarakat untuk bercocok tanam.

"Bibitnya juga sama dengan padi yang lain," katanya.

Raharjo mengungkapkan bahwa penanaman padi di galon peruntukannya untuk masyarakat yang memiliki lahan tidak produktif atau lahannya minim. Namun, DPP masih memprioritaskan penanaman di lahan pertanian.

"Itu (tanam padi di galon) hanya alternatif, tidak bisa untuk prioritas (menggencarkan penanaman padi di galon). Karena dari Kementerian Pertanian inginnya ada penambahan luas tanam padi sawah," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Dukuh Ngelorejo, Gari, Wonosari, Gunungkidul memanfaatkan ratusan galon untuk menanam padi di pekarangan rumahnya. Semua itu untuk mengedukasi warga bahwa minimnya lahan dan keterbatasan dana bukan jadi penghalang untuk bertani.

Adalah Susanto (44), pria yang menjabat sebagai Dikuh Ngelorejo ini menceritakan bahwa awalnya memang sudah lama menggeluti dunia cocok tanam. Selanjutnya, Susanto melihat video Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih menanam menggunakan galon di rumah dinasnya.

"Waktu itu saya lihat bu Bupati, Mbak Endah dan sowan (berkunjung) ke rumah dinas Bupati. Ternyata menanam pakai galon dan saya terapkan saja," katanya kepada detikJogja, Senin (29/6).

Usai melihat tanaman menggunakan galin, pria yang kerap disapa Santo Mboso ini ingin menerapkannya di rumah. Mengingat Santo memiliki tanah kosong 10 meter persegi (m2) yang saat itu terbengkalai.

"Lalu saya mulai cari galon ke mana-mana, dari minta, beli hingga dikasih. Akhirnya saya dapat 1.200galondalam waktu empat bulan," ujarnya.

Calon-calon itu lalu Santo tata di lahan miliknya dan ternyata hanya mampu menampung 840galon. Setelah itu, Santo mencari tanah, baik dari membeli hingga meminta dari orang yang tanahnya tidak dipakai.

"Galon itu lalu diberi tanah dan benih padi Ciherang, padi sisa itu. Untuk mulai menanam padi di galon itu akhir bulan Maret 2026," ucapnya.

Sedangkan untuk pengairan tanaman padinya, Santo mengaku menyiraminya secara manual menggunakan selang air. Akan tetapi penyiraman tersebut berlangsung dalam beberapa tahap alias tidak setiap hari Santo lakukan.

"Sebulan pertama itu disiram satu kali. Lalu dua bulan seminggu dua kali, lalu tiga bulan seminggu sekali. Tapi seminggu terakhir sampai mau panen itu dikeringkan," katanya.




(apl/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads