Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi merespons ultimatum yang dikeluarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Araghchi menyatakan Teheran sedang merancang kesepakatan nuklir yang siap dalam dua hari ke depan.
"Langkah selanjutnya bagi saya adalah mempresentasikan rancangan kesepakatan yang mungkin kepada rekan-rekan saya di AS. Saya percaya bahwa dalam dua atau tiga hari ke depan, itu akan siap, dan setelah konfirmasi akhir oleh atasan saya, itu akan diserahkan kepada Steve Witkoff," kata Araghchi dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan secara daring, dilansir detikNews dari AFP, Jumat (20/2/2026).
Aragachi menilai pernyataan Trump bukan merupakan ancaman. Menurutnya Iran dan AS masih dalam pembicaraan untuk mencapai kesepakatan soal nuklir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yah, saya harus mengatakan bahwa pertama-tama, tidak ada ultimatum. Kami hanya berbicara satu sama lain tentang bagaimana kami dapat mencapai kesepakatan yang cepat. Dan kesepakatan yang cepat adalah sesuatu yang diminati kedua belah pihak," kata Araghchi.
Diketahui, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa waktu 10 hingga 15 hari sudah cukup baginya untuk memutuskan apakah akan melancarkan serangan terhadap Iran.
"Kita akan mendapatkan kesepakatan, atau itu akan menjadi hal yang tidak menguntungkan bagi mereka," ujar Trump kepada para jurnalis di dalam pesawat Air Force One, Kamis (19/2).
Ia kembali menekankan bahwa Iran harus dicegah untuk memiliki senjata nuklir. Sebab hal itu dinilai bisa mengancam stabilitas kawasan.
Iran sendiri telah berulang kali menyatakan bahwa program nuklirnya semata-mata ditujukan untuk kepentingan sipil.
Trump juga memperingatkan bahwa "hal-hal buruk" akan terjadi jika tidak tercapai kesepakatan nuklir yang substansial.
(afn/afn)

Komentar Terbanyak
Pak Dukuh Tanam Padi di Pekarangan Pakai 840 Galon Bekas, Segini Hasil Panennya
Apakah Gigitan Orong-orong Berbahaya? Cari Tahu Bekas dan Cara Mengobatinya
14 Orang Jadi Tersangka Baru Kasus Penyiksaan Anak Daycare Little Aresha Jogja