Respons Iran Usai Diultimatum Donald Trump soal Kesepakatan Nuklir

Internasional

Respons Iran Usai Diultimatum Donald Trump soal Kesepakatan Nuklir

Eva Safitri - detikJogja
Jumat, 20 Feb 2026 22:25 WIB
Iranian Foreign Minister Abbas Araghchi attends a joint press conference with his Iraqi counterpart Fuad Hussein, in Tehran on January 18, 2026. (AFP)
Menlu Iran Abbas Araghchi. Foto: dok. AFP
Jogja -

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi merespons ultimatum yang dikeluarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Araghchi menyatakan Teheran sedang merancang kesepakatan nuklir yang siap dalam dua hari ke depan.

"Langkah selanjutnya bagi saya adalah mempresentasikan rancangan kesepakatan yang mungkin kepada rekan-rekan saya di AS. Saya percaya bahwa dalam dua atau tiga hari ke depan, itu akan siap, dan setelah konfirmasi akhir oleh atasan saya, itu akan diserahkan kepada Steve Witkoff," kata Araghchi dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan secara daring, dilansir detikNews dari AFP, Jumat (20/2/2026).

Aragachi menilai pernyataan Trump bukan merupakan ancaman. Menurutnya Iran dan AS masih dalam pembicaraan untuk mencapai kesepakatan soal nuklir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yah, saya harus mengatakan bahwa pertama-tama, tidak ada ultimatum. Kami hanya berbicara satu sama lain tentang bagaimana kami dapat mencapai kesepakatan yang cepat. Dan kesepakatan yang cepat adalah sesuatu yang diminati kedua belah pihak," kata Araghchi.

ADVERTISEMENT

Diketahui, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa waktu 10 hingga 15 hari sudah cukup baginya untuk memutuskan apakah akan melancarkan serangan terhadap Iran.

"Kita akan mendapatkan kesepakatan, atau itu akan menjadi hal yang tidak menguntungkan bagi mereka," ujar Trump kepada para jurnalis di dalam pesawat Air Force One, Kamis (19/2).

Ia kembali menekankan bahwa Iran harus dicegah untuk memiliki senjata nuklir. Sebab hal itu dinilai bisa mengancam stabilitas kawasan.

Iran sendiri telah berulang kali menyatakan bahwa program nuklirnya semata-mata ditujukan untuk kepentingan sipil.

Trump juga memperingatkan bahwa "hal-hal buruk" akan terjadi jika tidak tercapai kesepakatan nuklir yang substansial.




(afn/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads