Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja menggenjot pembangunan dan pemeliharaan talud sejumlah sungai. Anggaran yang disediakan untuk pekerjaan itu sekitar Rp 7,5 miliar.
Diketahui, Kota Jogja sedang dilanda hujan deras beberapa hari terakhir. Guna meminimalisir kejadian longsor dan talud jebol, Pemkot pun menggenjot perbaikan talud yang rawan ambrol.
Kejadian talud ambrol di kota Jogja sendiri sudah kerap terjadi. Salah satu yang terparah terjadi di talut di bantaran kali Buntung, Kricak, Tegalrejo, Sabtu (17/1) lalu. Talut sepanjang 10 meteran ambruk terkikis aliran sungai di bawahnya, hingga membuat balai RT di atas talud longsor dan memakan separuh bangunannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Curah hujan di kota Jogja pun belakangan terasa masih tinggi. Bahkan BPBD Kota Jogja berencana memperpanjang status siaga bencana hidrometeorologi hingga bulan Maret mendatang.
"Kita masih menunggu arahan dari BMKG. Kalau sudah keluar, nanti akan kami konsepkan perpanjangan. Memang rencananya akan diperpanjang di bulan Maret 2026," jelas Ketua Tim Kerja Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Jogja, Petrus Singgih Purnomo melalui keterangan tertulis, Senin (23/2/2026).
Dengan kondisi seperti ini, Pemkot Jogja pun terus berupaya memperkuat infrastruktur talud sungai sebagai langkah mitigasi resiko longsor dan kerusakan tebing akibat cuaca ekstrem.
Bukan tanpa alasan, Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase DPUPKP Kota Jogja Rahmawan Kurniadi menjelaskan sebagian talud di Kota Jogja masih menggunakan konstruksi lama yakni dengan mengandalkan pasangan batu kali.
Dikutip dari laman resmi Pemkot Jogja, berdasarkan Data Teknis Sungai dan Talud Kota Jogja Tahun 2025 milik Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Jogja, total panjang talud di tiga sungai utama mencapai 36.156 meter. Dari total tersebut, 25.040 meter (69,26%) dalam kondisi baik, sedangkan sisanya masih dalam kondisi membutuhkan penanganan bertahap.
"Masih lumayan banyak yang batu kali. Bahkan ada yang belum bertalud. Sekarang kita tingkatkan strukturnya menjadi lebih kuat, dengan pondasi beton ditanam sekitar 1,5 sampai 2 meter di bawah dasar sungai, lalu dindingnya cor beton bertulang," jelas Rahmawan.
Tahun ini, kata Rahmawan, pihaknya membagi pekerjaan talud ini menjadi dua pekerjaan, yakni pembuatan talud baru dan penanganan insidentil di daerah rawan bencana. Sejumlah titik rawan tersebut antara lain Ngampilan, Baciro, dan Gambiran.
"Kebanyakan yang rusak itu struktur lama, rata-rata masih batu kali. Kalau sudah lama dan terus tergerus arus, memang rawan," ujarnya.
Adapun untuk pembangunan talud baru tahun ini akan terfokus di Sungai Winongo melalui dua paket pekerjaan, wilayah Bener dan Pakuncen. Di wilayah Bener, sebagian besar kawasan belum memiliki talud permanen. Sedangkan di Pakuncen, talud lama ditingkatkan menjadi struktur beton bertulang agar lebih kokoh dan tahan terhadap arus deras.
"Untuk talud yang di Notoprajan yang melintasi Sungai Winongo sedang ditangani, jadi tim kita langsung turun untuk memperkuat struktur yang terdampak sebagai respons cepat terhadap kerusakan tebing," paparnya.
"Sementara untuk talud yang berada di wilayah Baciro dan Prenggan masih dalam tahap perencanaan perbaikan," urai Rahmawan.
Sementara untuk kejadian talud ambrol di wilayah Kricak yang melintasi Sungai Buntung, Januari lalu, penanganan dilakukan juga melibatkan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO).
"Kalau bronjong, ketika kawatnya sudah aus, kekuatannya hilang. Batu kali juga kalau tidak ada pondasi dan tulangan, lama-lama tergerus," jelas Rahmawan.
Lebih lanjut, Rahmawan menambahkan Pemkot mengalokasikan anggaran sekitar Rp 7,5 miliar untuk pembangunan dan pemeliharaan talud ini.
"Sekitar Rp 7,5 miliar untuk pembangunan dan pemeliharaan talud. Anggaran tersebut mencakup pembangunan baru, pemeliharaan rutin di tiga sungai, serta penanganan insidentil dengan alokasi sekitar Rp2 miliar," ujarnya.
"Penguatan talud dan pemeliharaan berkelanjutan ini harapannya resiko longsor tebing sungai dapat ditekan, sekaligus menjaga keselamatan pemukiman warga yang berada di bantaran sungai," sambungnya.
(dil/apl)

Komentar Terbanyak
Awal Mula Ide Mbah Suhan Bikin 'Sawah Rongsok' di Gunungkidul
Apakah Gigitan Orong-orong Berbahaya? Cari Tahu Bekas dan Cara Mengobatinya
14 Orang Jadi Tersangka Baru Kasus Penyiksaan Anak Daycare Little Aresha Jogja