TKP Senopati Sepi Usai Bus Dilarang Parkir, Walkot Hasto: Maksimalkan Nonbus

TKP Senopati Sepi Usai Bus Dilarang Parkir, Walkot Hasto: Maksimalkan Nonbus

Adji G Rinepta - detikJogja
Kamis, 09 Apr 2026 17:12 WIB
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo saat ditemui di Balai Kota Jogja, Kamis (9/4/2026).
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo saat ditemui di Balai Kota Jogja, Kamis (9/4/2026). Foto: Adji Ganda Rinepta/detikJogja.
Jogja -

Tempat Khusus Parkir (TKP) Senopati, Gondomanan, Kota Jogja, sepi usai kebijakan bus pariwisata dilarang parkir diberlakukan. Terkait itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo pun menyiapkan siasat guna membuat TKP Senopati ramai meski tanpa bus pariwisata yang datang.

Hasto mengatakan, dampak kebijakan ini mirip dengan kebijakan larangan bus wisata masuk kawasan Alun-alun Utara yang sudah diterapkan jauh sebelumnya. Dengan respons yang tepat, lambat laun Alun-alun Utara bisa ramai kembali.

Di samping itu, kata Hasto, TKP Senopati juga tidak serta merta mati lantaran minibus dan mobil pribadi masih diperkenankan parkir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"kita memaksimalkan Elf (minibus) itu, kendaraan-kendaraan nonbus itu dimaksimalkan di situ (TKP Senopati). Nah sambil jalan kita pengin meramaikan di situ juga, misalkan seperti Alun-alun Utara sekarang ada joglo lawas itu," ujar Hasto saat ditemui di Balai Kota Jogja, Kamis (9/4/2026).

"Dulu kan di situ (Alun-alun Utara) juga bus-bus masuk situ, dulu juga agak heboh, terus ada joglo lawas akhirnya ramai juga. Ini solusinya seperti yang lama juga, kita bisa meramaikan dengan cara yang lain," sambungnya.

ADVERTISEMENT

Hasto bilang, cara yang sama bisa diterapkan di TKP Senopati, bahkan bisa lebih baik.

"Kan lebih cocok to di situ (Senopati) untuk nongkrong, dekat Malioboro, daripada di Alun-alun Utara lebih strategis di situ. Meskipun saya tidak akan membuat bangunan permanen ya, tapi artistik bisa untuk nongkrong," ujarnya.

"Jadi tempat yang elegan, di situ keren lho, nanti ada musik, daripada jadi tempat kumuh, orang pada turun dari bus buang sampah di situ," imbuh Hasto.

Dengan cara itu, Hasto yakin keluhan warga TKP Senopati soal sepinya pengunjung akan teratasi. Namun jika para pedagang di Senopati masih sangsi, Hasto juga telah menyiapkan siasat lain untuk menjadi pilihan para pedagang.

Hasto telah mencarikan lapak-lapak di dua tempat parkir bus yang ada saat ini yakni TKP Ngabean dan TKP Menara Kopi yang dihuni warga eks TKP Abu Bakar Ali. Dua TKP ini memang diproyeksikan bisa menampung bus yang biasa memilih parkir di TKP Senopati.

"Terus juga minta space ke Ngabean dan Menara Kopi untuk pedagang yang ada di Senopati, kalau yang merasa di Senopati kurang laris itu kita bisa berikan space di sana. Saya dapat 73, dari Ngabaen dapat 40 sekian, dari Menara kopi 30 sekian," ujar Hasto.

"Saya tidak akan campur tangan membaginya, monggo lah teman-teman dari Senopati itu mau baginya gimana. Tugas saya mengarahkan sebanyak-banyak bus masuk di Ngabean dan Menara kopi supaya mereka laris," lanjutnya.

Namun Hasto hanya menjadikan langkah relokasi tersebut sebagai pilihan para pedagang. Ia menegaskan para pedagang masih boleh menempati TKP Senopati.

"Saya belum ada angka pasti (jumlah pedagang di Senopati), mungkin 150-200 sama yang mengasong. Ya boleh dong, sangat boleh (berdagang di Senopati), dan saya juga berusaha meramaikan Senopati dengan mengarahkan Elf, kendaraan kecil ke situ sambil kita lihat perkembangannya seperti apa," jelasnya.

Sebelumnya, para warga TKP Senopati sendiri mengeluhkan pendapatan yang turun drastis akibat kebijakan larangan parkir bus wisata. Namun kata Hasto, kebijakan ini harus diambil karena ketentuan dari mandat penetapan Sumbu Filosofi Jogja.

"Sumbu Filosofi kan sudah tegas kebijakannya, bahwa arahan untuk mengkondisikan Sumbu Filosofi itu tidak ada parkir-parkir di core zone, termasuk Senopati. Oleh karena itu kami taat," ujar Hasto.

Terkait dampak yang dirasakan para warga TKP Senopati, Hasto bilang, Pemkot Jogja juga merasakannya. Yakni dengan potensi merosotnya pendapatan daerah dari destinasi wisata Taman Pintar.

Diketahui, Taman Pintar yang berada tepat di sebelah utara TKP Senopati menjadi jujukan wisata favorit studi tour dari sekolah-sekolah. Untuk itu, kata Hasto, pihak Taman Pintar juga harus putar otak menyikapi kebijakan Bus dilarang parkir di TKP Senopati.

"Sebenarnya yang berkorban bukan cuma dia (warga TKP Senopati), kami di Balai Kota juga berkorban, karena Taman Pintar itu kan omzetnya setahun bisa Rp 16 Miliar, kalau tidak ada bus ke situ bisa turun," ujar Hasto.

"Ya ini lah, Taman Pintar harus berkreasi untuk membuat shuttle, jadi kalau orang-orang yang mau ke Taman Pintar ditangkap di (TKP) Ngabean atau Menara Kopi terus dibawa pakai bus kecil lah," sambungnya.




(apl/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads