Musibah tabrakan 2 kereta di Stasiun Bekasi Timur diduga dipicu oleh adanya satu unit taksi yang tertemper kereta rel listrik (KRL) di Jalan Ampera, Kota Bekasi. Ternyata perlintasan yang merupakan lokasi kejadian nahas tersebut tak ada palang pintu resmi. Begini penampakannya.
Dilansir detikNews, Selasa (28/4/2026), jarak antara perlintasan tersebut dengan Stasiun Bekasi Timur kurang lebih 50 meter. Adapun lebar perlintasan itu kurang lebih 5 meter.
Terdapat rambu-rambu tanda peringatan adanya rel kereta api di sana, Namun, tidak ada palang pintu resmi atau palang otomatis. Padahal, lalu lalang kendaraan di perlintasan ini cukup ramai dan padat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
'Palang pintu' hanya terbuat dari bambu dan 'palang' itu pun hanya ada di satu sisi. Sementara sisi lainnya tidak ada.
Perlintasan kereta ini hanya dijaga warga. Ketika kereta hendak lewat, seseorang warga yang mengatur lalu lintas akan memperingatkan kendaraan yang mau melintas dengan cara berteriak.
Satu unit taksi tertemper KRL di perlintasan sebidang tak resmi di Jalan Ampera, Bekasi. Kecelakaan itu memicu KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur. (Isal/BeritaKlik) Foto: Satu unit taksi tertemper KRL di perlintasan sebidang tak resmi di Jalan Ampera, Bekasi. Kecelakaan itu memicu KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur. (Isal/BeritaKlik) |
Kemudian, warga tersebut menurunkan 'palang' dari bambu supaya kendaraan berhenti melintas. Ia juga sambil berteriak memperingatkan kendaraan dari arah sebaliknya untuk berhenti dan menunggu kereta melintas.
Warga sekitar, Tasmin (80), mengatakan sering terjadi kecelakaan kendaraan tertemper kereta di perlintasan Jalan Ampera tersebut.
"Dulu sering, (sempat pernah) sebulan sekali (kecelakaan). (Kecelakaan sering terjadi) dari 5 tahun lalu," ujar Tasmin.
Menurutnya, tak sedikit pengendara yang nekat menerobos perlintasan meski sudah diperingatkan untuk berhenti karena ada kereta yang hendak melintas.
"Kadang-kadang orang nyelong aja, banyak yang apes (karena) mesin (mobil) mati di tengah," imbuhnya.
Bukan hanya kasus tabrakan kereta, Tasmin menyebut tak jarang ada kasus bunuh diri di dekat perlintasan ini.
"Ada yang bunuh diri juga. Ada beberapa kali yang coba bunuh diri tapi udah dihalau bocah-bocah," ucap Tasmin.
Tasmin bercerita karena perlintasan tak punya palang, maka warga inisiatif beli bambu. Sebilah bambu itu digunakan sebagai palang darurat.
"(Perlintasan pakai bambu) Puluhan tahun, kalau rusak diganti," jelasnya.
Karena terlalu sering terjadi kecelakaan, warga sekitar bahu membahu berjaga. Tasmin menyebut ada sekitar 4 shift jaga setiap harinya.
"Jam 1 malam ada yang jaga 1 orang," ujar Tasmin.
Ia menyebut sudah banyak pejabat yang ke perlintasan ini berjanji untuk memperbaikinya. Terakhir, kata Tasmin, ada Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi yang berjanji membangun flyover.
"Gubernur (Jabar) sudah datang kemarin belum lama, tapi rencana dari jaman baheula, dari jaman Pak (Presiden) Harto (Soeharto)," tuturnya.
Meski rencana pembangunan sudah lama, tapi flyover tak kunjung terealisasikan. Ia berharap flyover bisa segera dibangun di perlintasan kereta Jalan Ampera agar tak ada lagi kasus kecelakaan serupa.
Diberitakan sebelumnya, kecelakaan tersebut terjadi pada Senin (27/4) malam. Total korban tewas akibat kecelakaan itu berjumlah 14 orang. Selain itu, ada 84 orang yang terluka.
Kecelakaan terjadi saat KRL yang ditabrak sedang berhenti karena ada KRL lain yang tertemper taksi di perlintasan di Stasiun Bekasi Timur. Tabrakan keras mengakibatkan gerbong khusus wanita yang berada di belakang robek ditembus oleh KA Argo Bromo Anggrek.
Proses evakuasi korban kecelakaan kereta telah selesai. Seluruh korban yang dievakuasi berjenis kelamin perempuan.
"100 persen yang kita evakuasi (korban) perempuan," kata Kabasarnas Mayjen TNI M Syafii.
Dia menjelaskan proses evakuasi selesai pada pukul 08.00 WIB tadi. Seluruh tim SAR juga telah dipulangkan.
Syafii menyatakan jika nantinya ada potongan tubuh korban yang ditemukan saat proses pembersihan bangkai kereta, pihaknya akan melakukan tindakan sesuai prosedur.
(par/apl)


Komentar Terbanyak
Apakah Gigitan Orong-orong Berbahaya? Cari Tahu Bekas dan Cara Mengobatinya
14 Orang Jadi Tersangka Baru Kasus Penyiksaan Anak Daycare Little Aresha Jogja
MBG Libur, Harga Ayam Hidup di Gunungkidul Anjlok Jadi Rp 17 Ribu/Kg