7 Contoh Khotbah Kenaikan Yesus Kristus 2026 yang Menyentuh dan Penuh Makna

7 Contoh Khotbah Kenaikan Yesus Kristus 2026 yang Menyentuh dan Penuh Makna

Arum Sekar Pertiwi - detikJogja
Rabu, 13 Mei 2026 14:33 WIB
Ilustrasi Kenaikan Yesus Kristus
Ilustrasi Kenaikan Yesus Kristus (Foto: Jinu Joseph/Pexels)
Jogja -

Empat puluh hari setelah Minggu Paskah, umat Kristiani akan merayakan Hari Kenaikan Yesus Kristus. Hari penting ini menjadi peringatan terkait naiknya Yesus Kristus ke surga setelah kebangkitan-Nya. Salah satu cara untuk merayakan peristiwa penting ini adalah menyampaikan peristiwa ini melalui khotbah.

Dikutip dari artikel bertajuk Peran Khotbah dalam Menumbuhkan Iman Umat Beriman di Paroki St. Klemens Puruk Cahu oleh Mega, dkk., khotbah merupakan bentuk pewartaan para misionaris untuk memperkenalkan Kristus dan ajaran-ajaran-Nya kepada seluruh dunia yang beriman kepada-Nya. Khotbah biasanya bersumber dari Kitab Suci dan disesuaikan dengan situasi tertentu.

Dalam konteks Hari Kenaikan Yesus Kristus, khotbah bisa menjadi sarana untuk menyampaikan peristiwa kenaikan tersebut sekaligus hikmah yang bisa diambil darinya. Nah, bagi detikers yang membutuhkan referensi khotbah terkait Hari Kenaikan Yesus Kristus, simak 7 contoh khotbahnya yang dirangkum dari buku Homili Hari Minggu dan Hari Raya, Tahun A, B, dan C I: Masa Adven, Natal, Prapaskah, Paskah, dan Hari Raya oleh Dr. Hadrianus Tedjoworo, OSC, S.Ag. STL, laman Diocese of Aberdeen, Scotland, dan laman LA Catholics berikut ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

7 Contoh Khotbah Kenaikan Yesus Kristus 2026 yang Menyentuh dan Penuh Makna

Khotbah Kenaikan Yesus Kristus 2026 #1

  • Tema: "Memperhitungkan Lebih Banyak Orang"
  • Ayat Alkitab: Kisah 1:1-11, Efesus 1:17-23, Matius 28:16-20

Di suatu halaman rumah, terdapat pohon mangga yang tinggi, tetapi tidak jelas jenisnya. Umur pohon ini lebih dari 40 tahun dan masih berbuah lebat hingga kini. Awalnya, pohon ini jarang dipanjat karena buahnya akan jatuh sendiri. Namun, semenjak ada banyak kelelawar yang memakan buahnya, orang-orang pun memanjat buah ini. Ketika sampai di puncak pohon, terlihat pemandangan sekitar yang menampilkan banyak pohon lain di luar rumah. Si pemanjat pun baru menyadari bahwa tetangga juga memiliki kebun dan taman dengan isi yang sebelumnya tak terbayangkan.

ADVERTISEMENT

Di kehidupan ini, ada orang-orang yang belum pernah memanjat pohon seumur hidupnya. Mungkin, mereka perlu menyempatkan diri untuk sesekali memanjat pohon. Dengan demikian, mereka bisa melihat pemandangan yang unik dan mendapatkan sudut pandang yang berbeda. Di ketinggian, kita akan melihat secara lebih luas, lebih jauh. Kita tidak akan terpaku pada rumah kita sendiri, tetapi bisa merangkul dan memperhitungkan lebih banyak orang di rumah-rumah yang lain.

Matius adalah satu-satunya penginjil yang tidak mengisahkan atau merujuk peristiwa kenaikan Yesus ke surga, juga tidak menyebutkan keadaan fisik dan luka-luka Yesus setelah kebangkitan. Baginya, hal yang perlu ditekankan adalah ajaran Yesus. Oleh karena itu, dalam Injil yang kita dengar hari ini Yesus bersabda, itu saja. Namun, dari sabda-Nya itu sudah cukup jelas apa yang menjadi pesan puncak-Nya sebelum Yesus pergi dari antara para murid. Hal yang mengejutkan adalah tekanan pada kata "segala" hanya ada dalam lima ayat:segala kuasa, segala bangsa, segala yang Kuperintahkan, dan segala zaman. Keselamatan yang ditawarkan Yesus itu universal, bukan hanya bagi sekelompok orang. Hal itu harus dilakukan oleh para murid dengan satu cara: pergi!

"Pergilah" (poreuomai) sebetulnya adalah bentuk pasif bahasa Yunani yang membawa nuansa "dibimbing untuk maju dalam perjalanan"; sebuah perjalanan untuk menjadikan "segala bangsa" murid-murid Yesus. Perintah ini bukan perkara mempertobatkan orang lain menjadi Kristen begitu saja, melainkan tentang meluaskan Kerajaan Allah, komunitas baru Yesus, sehingga meliputi segala bangsa. Matius menempatkan "keluarga baru" Yesus sebagai bentuk kebersamaan yang menawarkan keselamatan ilahi bagi semua orang. "Aku menyertai kamu senantiasa" adalah gerakan Yesus "naik" untuk melingkupi lebih banyak orang dengan payung relasi kasih Allah Tritunggal.

Selama ini, mungkin kita terlalu pusing memikirkan masalah dan kepentingan keluarga kita. Kita hampir tidak pernah memandang lebih jauh dari halaman rumah kita sendiri dan merasa bahwa hidup kita, persoalan keluarga kita, adalah yang paling berat di dunia. Pertikaian antarkeluarga, antartetangga, atau bahkan antarkampung dan suku hampir pasti dipicu oleh pandangan yang sempit, pandangan yang hanya fokus dengan masalahnya sendiri.

Tampaknya peristiwa ketika para murid memandang Yesus terangkat ke surga dalam bacaan pertama (Kisah Para Rasul) tidak berlangsung cepat. Kejadian itu termasuk "berat" untuk dialami para murid. Bisa jadi mereka terlalu lama memandang ke atas, dan akan sakit leher kalau saja dua orang berpakaian putih tidak menegur mereka. Kenaikan Yesus ditafsirkan "dari bawah" dan itu akan melelahkan. Sebaliknya, kalau Roh Kudus diizinkan menggerakkan mereka, perintah untuk menjadi saksi-saksi Kristus akan membuka wawasan yang berbeda, tidak sempit dan terbatas lagi.

Kenangan akan peristiwa Yesus naik ke surga merupakan ajakan untuk membiarkan diri kita "digerakkan oleh Roh Kudus", naik ke tempat yang lebih tinggi, untuk belajar memperhitungkan lebih banyak orang lain di sekitar kita. Kalau terus-menerus sibuk dengan masalah sendiri, kita tidak akan mampu menjadi saksi-saksi Kristus. Menjadi saksi-Nya berarti memandang sedikit lebih jauh, melihat kesulitan orang lain, dan mengusahakan keselamatan mereka. Kita tidak dipanggil untuk menyelamatkan diri sendiri, tetapi untuk melibatkan dan merangkul tetangga-tetangga kita.

Itulah yang dimaksud dengan meluaskan Kerajaan Allah, meluaskan keluarga Kristiani. Kehidupan dan pelayanan Kristiani bukanlah soal "mempertobatkan" orang lain, melainkan melibatkan semakin banyak orang dalam kebersamaan kita yang membahagiakan. Namun, hal itu hanya mungkin kalau kita "pergi"; tidak hanya "diam" di dalam rumah.

Khotbah Kenaikan Yesus Kritus 2026 #2

  • Tema: "Kesendirian, Keheningan Surga"
  • Ayat Alkitab: Kisah 1:1-11, Efesus 1:17-23, Markus 16:15-20

Sejak munculnya media sosial, segala sesuatu dihubungkan dan segala perasaan diungkapkan. Status, profil, foto, profesi, masa lalu, relasi, dan segala informasi yang dahulu bersifat pribadi kini menjadi konsumsi publik. Semua orang bisa tahu kita baru saja makan di restoran mana dan apa yang kita makan. Terbentuk budaya serba ingin tahu apa yang dipakai, dibeli, dan dipamerkan oleh teman-teman kita. Apakah itu semua yang kita sebut sosial? Apakah semua keributan relasi dan ribuan foto bersama yang diunggah itu menunjukkan sifat sosial kita? Hanya sedikit yang bisa membedakan sifat sosial dan kecanduan.

Sebagian besar kebersamaan kita dengan orang lain menyenangkan, tetapi sebagian lagi membingungkan dan bahkan melelahkan. Para pelajar SMA yang baru lulus biasanya merayakan kebersamaan "terakhir" mereka dengan hura-hura. Sebentar lagi mereka akan duduk di bangku kuliah dan akan lebih banyak berjuang sendiri. Kebersamaan yang dirayakan itu membawa kesedihan karena terjadi di saat-saat akhir. Realitas hidup akan makin berat dah membuat mereka kesepian. Hal ini membuat mereka lari ke media sosial, tersenyum sendiri sambil menatap HP, berkomentar sana-sini agar tetap merasa ramai.

Bagian Injil yang kita dengar hari ini seakan-akan "memperbaiki" sikap dan tanggapan negatif para murid setelah kebangkitan Yesus, dalam pandangan Markus. Pengutusan Yesus terhadap para murid untuk memberitakan Injil dan membaptis lebih merupakan sebuah katekese yang dilakukan oleh Gereja Perdana. Meski demikian, teks ini tetap berwibawa karena menjelaskan maksud Yesus mendirikan gereja-Nya. Setelah kebangkitan, para murid ingat pada janji-janji Yesus saat masih bersama mereka dan tanda-tanda yang pernah dikatakan Yesus ternyata benar-benar terjadi pada "orang-orang yang percaya" itu.

Lalu, komunitas Markus menuliskan bagaimana Yesus terangkat ke surga dan "duduk di sebelah kanan Allah". Naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah (seperti yang dilihat oleh Stefanus; Kis. 7:56), dan kebangkitan menjadi gambaran atas satu peristiwa yang dialami oleh sosok yang sama: Yesus. Dalam Injil ini, kenaikan Yesus adalah tanda bahwa para murid harus pergi dan bekerja; tidak bisa ditanggapi dengan menunggu dan berkumpul saja. Mereka harus pergi dan kalau perlu berjalan sendiri tanpa kehadiran fisik Yesus lagi. Kemudian, "tanda-tanda" yang dulu dipandang sebagai mukjizat, kini menyertai perjalanan dan karya mereka.

Kebanyakan orang sepertinya tidak pernah siap untuk berjalan sendiri, seperti halnya terjadi di masa kita kini. Kita cenderung mencari teman karena sendirian itu membuat kita tidak percaya diri. Ketika berkumpul, kita merasa lebih yakin, lebih hebat, dan mungkin lebih nekat. Beberapa perilaku remaja yang merusak dan merugikan orang lain muncul justru saat mereka berkumpul bersama. Bahkan orang dewasa pun bisa melakukan tindakan-tindakan konyol saat berjalan dengan rekan-rekannya. Kadang-kadang kita juga tanpa sadar memutuskan dan bertindak keliru saat terpengaruh beberapa teman yang kita sangka baik. Tidak semua kebersamaan mendorong kepada keputusan yang benar. Dalam kehidupan iman, apa yang seharusnya menumbuhkan keyakinan diri dan kedewasaan bertindak dalam diri kita?

Keterangan "selama empat puluh hari" dalam Kisah Para Rasul (Bacaan I), tentang Yesus yang menampakkan diri dan berbicara kepada para murid-Nya, melambangkan waktu yang lama. Angka ini pernah ditulis berkaitan dengan Musa di Gunung Sinai dan Yesus ketika berpuasa di padang gurun, serta Israel (dalam hitungan tahun) ketika mengembara di padang gurun. Namun, dilambangkan juga di sana suatu keadaan yang perlu dijalani sebagai tantangan. Para murid yang melihat Yesus terangkat ke surga, seperti halnya kita, mungkin tidak siap ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa mulai sekarang mereka harus berjuang sendiri. Saat menatap ke langit itulah mereka ditegur supaya menghimpun keyakinan diri dan keberanian untuk bersikap mandiri. Yesus naik ke surga, tetapi Roh Kudus akan terus bekerja bersama dengan mereka.

Kenaikan Yesus ke surga kita rayakan bukan untuk memahaminya secara rasional, tetapi agar kita "mengalaminya" sekarang ini. Kemandirian kita dalam hal iman ditantang. Konsistensi sikap kita sebagai murid-murid Kristus diuji bukan saat kita bersembunyi di balik kebersamaan, melainkan saat kita sendirian. Apakah kita orang yang bisa dipercaya? Apakah sikap dan tindakan kita cocok dengan ajaran Kristiani yang kita imani? Naiknya Yesus ke surga membawa keheningan dan kesendirian yang perlu kita alami. Di saat itulah kita bisa memutuskan untuk tetap melayani dengan sepenuh hati.

Hari ini kita diundang untuk bersikap konsisten dalam iman. Kita tidak perlu membuktikannya lewat media sosial ataupun hura-hura kebersamaan. Ada saatnya kita harus berani berjalan sendiri, berjuang dalam keheningan surga. Sesungguhnya kita tak pernah benar-benar sendirian. Roh Kudus berjalan di samping kita.

Khotbah Kenaikan Yesus Kritus 2026 #3

  • Tema: "Kasih Yesus Mendewasakan"
  • Ayat Alkitab: Kisah 1:1-11, Efesus 1:17-23, Markus 16:15-20

Dalam bahasa Jawa, terdapat istilah "mbok-mboken" yang sering dipakai untuk menggambarkan anak-anak (dan orang dewasa) yang terlalu "menempel" pada simbok atau ibunya, tidak mau lepas, dan sulit untuk mandiri. Anak-anak semacam ini biasanya sangat tergantung pada ibunya, sangat pilih-pilih orang, dan kurang mampu berinisiatif. Apakah semuanya itu tidak baik? Tidak juga. Keadaan ini sebenarnya tetap menunjukkan sebuah kedekatan, cinta, dan kesehatian. Namun, cinta semacam itu mungkin kurang mendewasakan. Sangat mungkin bahwa mentalitas mengandalkan dan menuntut tanggung jawab orang lain pun berasal dari sikap itu.

Akibat mentalitas itu dalam diri orang dewasa sebetulnya mudah diamati. Ada yang suka melemparkan tanggung jawab, misalnya dengan kata-kata, "Kok saya tidak dijemput? Apakah tidak ada orang yang bisa berinisiatif? Apakah semua orang begitu sibuk?" Intinya, sebenarnya kita sendiri bisa melakukannya atau berinisiatif dan bertanggung jawab, tetapi kita memilih untuk mempertanyakan tanggung jawab orang lain. Ada banyak kondisi yang bisa dibereskan sendiri tanpa harus menimbulkan keributan, tetapi kita yang sudah dewasa pun ternyata masih mau mengandalkan "simbok", entah siapa yang kita maksud dengan figur itu.

Serangkaian peristiwa setelah kebangkitan Yesus dalam Injil Markus sebenarnya menunjukkan situasi yang tidak sesuai dengan harapan. Berkali-kali Markus mencatat ketidakpercayaan dan kedegilan hati para murid ketika Yesus yang bangkit hadir di tengah-tengah mereka. Kalau saja bagian yang kita dengar hari ini tidak berada di akhir Injil Markus, kita akan dibiarkan merasa tidak enak karena seluruh Injil menjadi sebuah kisah kehidupan Yesus dan para murid yang berakhir dengan kekecewaan Yesus (Mrk. 16:14).

Oleh karena itu, bagian yang kita dengar hari ini sangat meneguhkan sekaligus perlu untuk mendewasakan para murid dan juga kita sekalian. Yesus naik ke surga adalah sebuah "keterpisahan" yang perlu. Mungkin ada yang mengatakan bahwa Yesus tidak benar-benar meninggalkan para murid karena Ia mengutus Roh-Nya dan memberi kuasa untuk bersaksi. Bagaimanapun juga, "kepergian" Yesus ini adalah sesuatu yang baik untuk membuat kita mulai bekerja sungguh-sungguh dan belajar mandiri. Meskipun kepergian-Nya itu mungkin memperlihatkan ketidaksiapan kita, bukankah hati kecil kita mengerti bahwa ini sebuah kepercayaan dari-Nya?

Orang baru akan berjuang, bertanggung jawab, dan mandiri kalau dia "ditinggalkan". Tentu saja kita akan jatuh-bangun. Mungkin berkali-kali kita akan gagal, merasa sendirian dan kesepian, merasa tidak kuat menjalani, merasa hampir frustrasi, dan merasa hampir gila. Benar, semua itu akan kita rasakan, tetapi semua itu hanya "perasaan". Kalau Tuhan sampai membiarkan kita berjuang sendiri, Ia tidak sungguh-sungguh meninggalkan kita. Ia hanya "menjaga jarak" agar kita tidak terlalu gampang berseru minta tolong kepada-Nya. Bukankah di saat kita terlalu gampang minta tolong, itu pertanda kita ini "lembek" dan mudah menyerah? Masih ingatkah kita dengan perkataan Paulus bahwa Allah tidak akan mencobai melampaui kekuatan kita (1Kor. 10:13)?

Bacaan I menggambarkan bahwa Yesus tidak segera menurunkan Roh Kudus kepada para rasul. Ketika Ia terangkat disaksikan oleh mereka, dan awan menutupi-Nya dari pandangan mereka, Roh Kudus belum turun atas mereka. Perkataan malaikatlah yang menyadarkan mereka agar tidak terus-menerus melihat ke langit. Kalau begitu, Yesus memang tidak mau membuat segalanya tiba-tiba mudah bagi mereka. Mereka harus berjuang terlebih dahulu! Mereka harus bersaksi dan belajar bertanggung jawab lebih dulu, mengalami tidak dipercaya, ditolak, dianiaya, dan pada saat mereka sangka Tuhan itu begitu jauh, Roh Kudus akan turun di saat yang tepat! Tuhan tidak pernah terlambat dan sangat memahami kekuatan kita masing-masing.

Sebuah permenungan penting saat ini adalah apakah kita mau menjadi dewasa? Jawaban atas pertanyaan ini sangat luas implikasinya. Jawaban kita akan menentukan apakah kita mau memilih berinisiatif daripada mempertanyakan tanggung jawab orang lain, mencari jalan daripada menyalahkan siapa pun, belajar berjuang sedikit demi sedikit daripada frustrasi. Iman akan Yesus yang bangkit dan naik ke surga adalah iman yang akan sangat mendewasakan kita. Semangat yang sama juga akan kita gunakan untuk mendewasakan mereka yang kita kasihi.

Kalau saat ini kita "merasa" berjalan sendirian, sebenarnya tidak sungguh-sungguh demikian. Tuhan hanya "mengambil jarak" agar kita tidak terus-terusan "mbok-mboken". Cobalah dulu, berjuanglah dulu untuk mengatasinya, Ia pasti akan memberi jalan pada saat kita sungguh-sungguh memerlukannya.

Khotbah Kenaikan Yesus Kritus 2026 #4

  • Tema: "Tuhan Tak Bisa Ditahan Lagi"
  • Ayat Alkitab: Kisah 1:1-11, Efesus 1:17-23, Markus 16:15-20

Masih ingat dengan pengalaman pertama saat belajar naik sepeda? Setiap orang tentunya membutuhkan waktu belajar yang berbeda-beda. Ada yang cepat bisa, ada juga yang memerlukan waktu lama. Ada yang bisa menyeimbangkan diri dengan cepat, tetapi ada pula yang harus berkali-kali terjatuh. Saat seseorang membantu memegangi sepeda dan kita mulai mengayuhnya, muncul perasaan gembira dan bangga muncul. Namun, kita mulai panik ketika pegangan dilepaskan dan kita harus mengayuh sendirian. Kita takut tak mampu mengendalikan, takut akan terjatuh karena belum menguasai keadaan. Namun, adakah cara lain kecuali melepaskan pegangan? Tidak ada. Bantuan menciptakan ketergantungan. Bantuan dalam arti tertentu "menghambat" kita untuk maju dan "membatasi" diri kita sendiri.

Mungkin itulah penyebab sulitnya kita bertumbuh dalam banyak hal. Bukan hanya orang lain yang bisa menahan perkembangan kita, diri sendiri pun malah bisa menghalangi. Ada orang yang suka dibantu terus-menerus, suka ditarik-tarik dan dipertahankan oleh teman-temannya, sehingga tak pernah sungguh-sungguh maju hidupnya. Ini kedengaran aneh, tetapi nyata. Bagaimana kalau "kekhawatiran" yang mereka ungkapkan itu sebenarnya cara untuk mengikat kita pada sebuah tiang? Mungkin kita akan kehilangan sebuah masa depan yang jauh lebih cerah daripada yang pernah kita bayangkan. Berbagai kesempatan hebat dalam hidup kita kerap dimulai dengan mengucapkan selamat tinggal pada ikatan-ikatan itu.

Peristiwa kenaikan Yesus ke surga tidak dapat dilepaskan dari keseluruhan pengalaman kebangkitan. Bagi para penulis Injil, peristiwa kenaikan Yesus adalah penugasan sekaligus pelimpahan kuasa kepada para murid. Peristiwa itu bukan sebuah akhir maupun tujuan kesetiaan mereka sebagai murid. Yesus menunjukkan bahwa Ia tidak dapat lagi dihalang-halangi oleh apa pun juga, begitu pula seharusnya para murid! Yesus takkan menghalang-halangi mereka lagi karena mulai sekarang Roh Kudus akan menggerakkan mereka untuk melakukan hal-hal besar yang tak terbayangkan sebelumnya.

Yesus sudah mengalami segala macam usaha yang ditujukan untuk mengikat, menjatuhkan, menyalibkan, mematikan, dan menguburkan-Nya. Ia tetap tidak bisa dikuburkan karena dari kubur itu Ia bangkit dan bahkan membawa kehidupan ke tempat-tempat yang dikuasai maut. Yesus tidak bisa ditahan lagi! Dari kenyataan itulah kini Ia memberi kekuatan kepada murid-murid-Nya.

"Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Aku akan mengirim apa yang dijanjikan Bapa-Ku, dan kamu akan diperlengkapi kekuasaan dari tempat tinggi." (Lukas 24:48-49)

Yesus pergi, namun dengan janji bahwa pengikut-Nya pun takkan bisa dikalahkan oleh kekuatan jahat sebesar apa pun di dunia ini.

Kapan terakhir kali kita menyadari bahwa di balik semua hambatan dalam hidup kita, Tuhan selalu mempunyai rencana yang luar biasa? Kita sudah berkali-kali diikat oleh kekecewaan, kemarahan, hingga kesedihan. Semua itu ingin menahan hati kita, menghalangi mata kita untuk melihat bahwa hidup kita dimaksudkan jauh lebih indah, lebih membahagiakan daripada yang kita sangka saat ini. Sayangnya, kita malah sering kali bertahan dalam relasi, situasi, dan kebiasaan tertentu yang membuat kita tidak berkembang. Kita takut kehilangan relasi, takut mengucapkan selamat tinggal, takut berhenti dari kelekatan kita, dan hidup kita pun hanya seperti ini.

Dalam Kisah Para Rasul (Bacaan I), para rasul tenggelam dalam keterpukauan setelah menyaksikan Yesus terangkat dan awan menutupi-Nya. Dunia seperti berhenti. Mereka terpaku dan masih belum percaya bahwa sekarang mereka sendirian. Memang, Yesus meminta mereka menjadi saksi-Nya, tetapi bagaimanapun juga saat itu masih berat kaki mereka untuk beranjak. Kata-kata malaikat membangunkan mereka agar sadar dan melepaskan diri dari beban apa pun yang menahan mereka untuk bersaksi. Hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan dengan mengeluh dan meratapi setiap kehilangan. Semua kenangan indah memang mengharu biru perasaan, tetapi sama sekali tidak membantu untuk bertumbuh dalam iman dan kesaksian.

Apa yang sekarang ini terus menjerat diri kita dalam nostalgia? Apa yang membuat kita merasa tak mampu lebih dari keadaan kita sekarang? Pesan Yesus agar kita menjadi saksi bagi-Nya berarti kita harus berani melepaskan kelekatan kita pada kenangan-kenangan yang tak berguna. Memang, melakukan tidak segampang mengucapkan. Kenyataannya, kita sering merasa sayang untuk melepaskan sebuah keterikatan. Kita suka berandai-andai dan berharap bahwa masa lalu masih bisa terulang kembali. Bukankah dengan begitu kita takkan bisa mengayuh sepeda sendiri?

Kalau mau menjadi saksi Kristus, kita harus berani melangkah maju meskipun harus melangkah sendiri. Dengan berani memulai sesuatu yang baru, berinisiatif dari diri sendiri, melihat dan menerima apa yang Tuhan rencanakan atas hidup kita, kita akan menginspirasi orang-orang di sekitar kita dan sadar bahwa kita tidak sendirian lagi. Seperti halnya Tuhan telah naik dan tak dapat ditahan lagi, jangan biarkan kita ditahan oleh pikiran dan kelekatan dunia ini.

Khotbah Hari Kenaikan Yesus Kristus #5

  • Tema: "Mengatasi Waktu dan Sejarah"
  • Ayat Alkitab: Kisah 1:1-11, Efesus 1:17-23, Lukas 24:46-53

Hal yang paling sering dicari oleh orang-orang adalah waktu. Namun, banyak pula orang yang sering melewatkan waktu begitu saja. Waktu adalah barang mahal yang terkadang membuat kita tenggelam di dalamnya, bahkan bisa kehilangan sukacita dalam kehidupan. Kita terbiasa mengukur waktu dengan "jadwal" atau "target". Jadwal kita bisa padat atau senggang. Target kita pun bisa tercapai dan bisa gagal. Semua itu ditentukan oleh waktu yang kita "miliki". Saat terpenjara oleh ukuran waktu, kita menjadi seperti robot yang dikendalikan dan tak berdaya sedikit pun untuk mengubah keadaan. Waktu bisa membuat kita tertindas dan kehilangan diri kita sendiri.

Terkadang kehidupan beriman juga kita letakkan di bawah ukuran jadwal dan target. Berdoa dan membaca Kitab Suci dianggap sebagai semacam program kerja dan diberi waktu-waktu khusus. Keterlibatan dalam pertemuan lingkungan atau ibadat seakan-akan adalah target. Dengan begitu, kita menjadi tidak kreatif dan tidak menikmati lagi kebersamaan iman atau saat-saat teduh yang seharusnya bermakna. Apakah ini juga yang menjadi penyebab semakin sedikitnya pengalaman rohani dalam diri orang Kristiani di zaman ini?

Apakah disebabkan oleh tenggelamnya seseorang dalam program hidupnya sendiri dan tertindas oleh waktu yang diciptakannya?

Jumlah "empat puluh" muncul berkali-kali dalam Kitab Suci. Dalam Kisah Para Rasul (Bacaan I) dikisahkan bahwa selama "empat puluh hari" Yesus berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada para murid tentang Kerajaan Allah. Setelahnya, Yesus terangkat ke surga dengan disaksikan oleh mereka. Sementara itu, kenaikan Yesus ke surga dalam Injil Lukas tidak terlalu dibedakan dengan (hari) kebangkitan-Nya. Oleh karena itu, makna "empat puluh hari" lebih bersifat simbolis daripada soal ketepatan masa duniawi. Yesus naik ke surga adalah gambaran bahwa setelah bangkit, Ia mengatasi segala perbedaan waktu dan sejarah manusia. "Empat puluh hari" adalah waktunya Allah, tak terukur, melampaui pikiran dan bayangan kita.

Pesan penting Yesus sebelum kenaikan-Nya menegaskan misi para murid untuk memberitakan pertobatan dan pengampunan dosa kepada segala bangsa. Mereka akan "diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi". Misi ini tidak disampaikan sebagai suatu program, tetapi sebagai "cara" yang melampaui batas dan ukuran manusia. Para murid tidak lagi diikat oleh batasan suku dan tradisi tertentu karena kekuatan yang menyertai adalah dari Roh Kudus, dari tempat tinggi. Dalam kisah kenaikan Yesus, yang terpenting bukan "kapan", melainkan "bagaimana". Para murid pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita.

Sebuah iklan makanan instan menampakkan keadaan orang zaman ini yang selalu sibuk bekerja dari pagi hari hingga sarapan pun tidak sempat. Iklan ini menawarkan produk sebagai pengganti sarapan yang dapat disiapkan dalam beberapa detik saja. Bukankah hari-hari kita juga berlalu begitu cepat karena segala target yang bahkan tidak semua bisa tercapai, atau sebaliknya, karena kita buang dengan hal-hal yang tak berguna? Dalam semua itu, kita tidak berhasil melampaui waktu dan kesibukan. Sungguh ironis bahwa kita terperangkap di dalamnya, sehingga doa dan kebersamaan iman malah dianggap "mengganggu" dan melemahkan semangat. Bisa jadi alasan ini menyebabkan lemahnya komitmen kita untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan rohani. Kita juga cenderung mudah lupa untuk berdoa sebelum makan, sebelum bekerja, untuk bersyukur setelah sampai di tujuan, untuk merenung sejenak di tengah-tengah hari, atau sebelum tidur. Benarkah perilaku iman "mengganggu" waktu dan kehidupan kita?

Doa Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Efesus (Bacaan II) memohon kepada Bapa agar umat diberi "mata hati yang terang" sehingga menyadari betapa hebat kuasa Allah bagi orang yang percaya. Permohonan ini berawal dari karunia yang telah diterima oleh Paulus sendiri, yang menjadi harapan agar hal ini dialami oleh orang lain. Penyertaan ilahi dalam kekuasaan dari atas hanya dapat disadari dengan mata iman. Pada saat itu kita dapat "melihat" bagaimana Kristus berulang kali hadir dalam pengalaman kehidupan sehari-hari kita, mengubah waktu yang kita jalani menjadi bermakna dan pantas disyukuri. Berbicara dari hati ke hati dengan Kristus di tengah-tengah kesibukan yang paling padat membebaskan kita dari penjara "jadwal" dan mengangkat kita ke atas situasi duniawi yang melelahkan.

Dalam permenungan akan peristiwa Kenaikan Yesus ke surga ini, kebangkitan memperlihatkan sisi yang berbeda. Kehadiran Tuhan yang mengatasi berbagai program manusiawi kita terjadi selama "empat puluh hari". Artinya, dalam waktu yang lama dan bahkan setiap hari! Kita, setiap hari, diundang untuk naik (mengambil jarak), melampaui sekadar tugas dan rutinitas yang sepertinya sudah terlalu memenuhi tiap jengkal ruang dan saat pribadi kita. Gerakan ini adalah gerakan mengatasi, dan bukannya tenggelam, di berbagai peristiwa kehidupan.

Seperti Yesus, kita diangkat oleh Roh Kudus hingga mengatasi sejarah. Segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita memuat pengalaman rohani yang hanya dapat dilihat oleh orang-orang yang percaya.

Khotbah Kenaikan Yesus Kristus 2026 #6

"Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. " (Luk 24:51).

Kita mungkin merasa tidak nyaman dengan Kenaikan Tuhan: tubuh yang melayang ke langit, dibawa oleh awan. Namun, kita tidak perlu merasa demikian.

Ia "menjauh dari mereka", yaitu para murid. Menurut Santo Lukas, peristiwa ini terjadi di puncak Bukit Zaitun, sekitar empat puluh hari setelah Kebangkitan. Ia "menjauh dari mereka": ini adalah sisi manusiawi, fisik, dan terlihat dari peristiwa tersebut; sisi kita. Itu adalah tanda lahiriah dari sesuatu yang lebih penting. Itu berarti bahwa Ia bukan lagi seseorang yang dapat dilihat dan diperhatikan, didengar dan didengarkan, disentuh, diajak makan dan bepergian bersama. Ia "menjauh" dari persepsi indera para murid-Nya. Ia tidak lagi ada di sekitar mereka. Dan kita, para murid dua ribu tahun kemudian, berada dalam situasi yang sama. Apa pun hubungan kita dengan Kristus, itu berbeda dari interaksi normal yang kita miliki satu sama lain.

Namun, inilah hal yang aneh. Kita tidak menemukan orang-orang Kristen pertama meratapi ketidakhadiran. Kita tidak menemukan mereka merasa yatim piatu atau berduka. Kita tahu betapa hancurnya mereka karena kematian Kristus, tetapi bahkan tidak ada sedikit pun kesedihan yang mendalam di antara mereka. Sebaliknya, mereka tampak bersemangat dan fokus. Saat Ia pergi, mereka turun bukit dan masuk ke Bait Suci dengan penuh sukacita, menghabiskan waktu mereka di sana memuji Tuhan. Menurut Kisah Para Rasul, mereka kembali ke tempat tinggal mereka di ruang atas dan menghabiskan waktu mereka dalam doa. Petrus mengatur agar seseorang menggantikan Yudas di Dewan Para Rasul, dan Matias terpilih. Kegiatan Gereja terus berjalan. Jika kita melihat bagian lain dalam Perjanjian Baru, kita menemukan orang-orang Kristen dalam berbagai kesulitan, dari dalam komunitas mereka dan dari luar, tetapi kita tidak pernah menemukan ratapan atas ketidakhadiran Yesus.

"Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan. " (1 Petrus 1:8)

"Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepada-Nya, tidak ada suatupun yang Ia kecualikan, yang tidak takluk kepada-Nya. Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepada-Nya. Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia. " (Ibrani 2:8-9)

Jadi, meskipun telah naik ke surga, atau bahkan karena telah naik ke surga, kita tetap melihat-Nya. Orang-orang Kristen awalnya tidak berduka atas ketidakhadiran-Nya; mereka merayakan kehadiran-Nya, bahkan ketika mereka menderita, mungkin terutama ketika mereka menderita. Sejak masa Paskah pertama itu, mereka dikuatkan oleh sesuatu, oleh iman, harapan, dan kasih, seperti yang mereka katakan, oleh kuasa Allah, Roh Kudus, oleh perasaan bahwa Tuhan ada bersama mereka, begitu dekat sehingga setiap saat dapat membawa-Nya kembali.

Sikap Kristen mula-mula ini adalah fakta sejarah, dan itu sangat luar biasa. Sesuatu dialami oleh perempuan dan laki-laki, oleh orang Yahudi dan bukan Yahudi, oleh perwira tentara Romawi dan budak, oleh orang kaya dan miskin. Itu tidak membuat mereka menjadi fanatik. Sebaliknya, tampaknya hal itu telah menciptakan orang-orang yang bersyukur, murah hati, dan pada umumnya lembut. Ada cahaya di mata mereka dan kebaikan di tangan mereka.

Yesus "menjauh dari mereka" dan, dalam ruang yang ditinggalkan-Nya, seolah-olah, dimensi baru keberadaan manusia terbuka pada orang-orang yang ditinggalkan-Nya.

Jadi, apa yang terjadi dalam Kenaikan Kristus? Ada sisi lain darinya, sisi ilahi: Ia "diangkat ke surga," kata Santo Lukas. Artinya, dalam kodrat manusia-Nya, Ia memasuki kemuliaan ilahi secara permanen. Kedatangan-Nya yang semula dari Bapa kini disempurnakan oleh kenaikan-Nya, kembali-Nya, kepada Bapa. Sesuatu telah tercapai, mencapai puncaknya, diberi dimensi lain. Ia kembali kepada Bapa-Nya membawa segala sesuatu yang ada pada-Nya, tetapi sekarang dalam posisi untuk membagikannya tanpa batasan ruang dan waktu. Ia sekarang tidak terkekang, diuniversalkan. "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi," demikianlah firman-Nya (Mat. 28:18).

Dalam gambaran Alkitab, Raja Mesianik, yang sebelumnya tersembunyi atau dicemooh, kini telah menduduki tahta-Nya dan mengambil alih pemerintahan. Dia yang sejak awal hidup-Nya sebagai Imam kini telah disempurnakan oleh penderitaan dan memasuki Bait Suci di surga dengan karunia darah-Nya untuk merayakan Hari Pendamaian sekali untuk selamanya dan menjalankan permohonan yang kekal, efektif, dan menyeluruh bagi semua orang. Ia kini menerima Roh Kudus dari Bapa-Nya dan memiliki mandat untuk mencurahkannya kepada semua manusia. Ia telah menjadi, secara permanen, kepala surgawi dari tubuh-Nya di bumi.

Maka ketika Kristus "menarik diri", itu bukanlah ke masa lalu atau sekadar ke dalam ingatan. Ia "diangkat ke surga", kepada Bapa, untuk menjadi Ekaristi, seolah-olah, di tangan Bapa untuk dibagikan kepada seluruh dunia.

Inilah yang dirasakan oleh orang-orang Kristen mula-mula, dengan indra spiritual mereka yang baru. Hal itu membuat berduka menjadi tidak pantas. Dunia mereka telah berubah. Penderitaan yang tersisa bagi mereka, mereka "melihat" bahwa apa yang Yesus lakukan dan derita di kayu salib telah mengubah segalanya untuk selamanya. Anak Domba telah menang dan kemenangan itu milik mereka.

Mungkin sekarang ada lebih banyak umat Kristiani di sini daripada pada dua generasi pertama itu. Namun, jumlah yang sedikit tidak membuat mereka patah semangat, sekalipun kesetiaan Kristen mereka tidak memberi mereka keuntungan sosial atau ekonomi apa pun.

Mereka mendapati diri mereka dikucilkan oleh otoritas Yahudi dan dicurigai oleh kaum "kafir", kadang-kadang diganggu oleh otoritas Romawi. Namun, ini tidak membuat mereka patah semangat.

Komunitas Kristen mereka sendiri memiliki perselisihan internal, ketidaksepakatan, dan skandal. Namun, ini tidak membuat mereka patah semangat.

Bukan berarti mereka hidup dalam "kebahagiaan" permanen. Mereka juga tidak terhindar dari semua cobaan hidup biasa. Namun, Perjanjian Baru membuktikan sesuatu yang lain dalam hidup mereka, sesuatu yang menopang mereka dan memberi mereka semangat. Ada sesuatu yang, sejak Kenaikan dan Pentakosta, memenuhi mereka, menopang mereka, memberi mereka ketahanan yang tak tergoyahkan. Kita bisa menyebutnya dengan banyak cara. Namun, harapan saya sekarang adalah agar kita juga mengetahuinya.

Khotbah Kenaikan Yesus Kristus 2026 #7

  • Ayat Alkitab: Kisah Para Rasul 1:1-11; Mazmur 47:2-3, 6-9; Efesus 1:17-23; Matius 28:16-20; Kisah Para Rasul 1:12-14; 1 Korintus 1:10, 2:16.

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini kita bersatu dengan para murid pertama dalam menengadah ke surga, saat kita menyaksikan Kenaikan Yesus Kristus.

Ini adalah momen mulia dalam kehidupan Gereja. Di luar bintang-bintang di langit, di luar awan, Tuhan kita sekarang duduk di sebelah kanan Bapa dan di sinilah Ia memanggil kita.

Sebagaimana Allah membangkitkan Yesus dari kematian pada Minggu Paskah, sekarang Ia bangkit ke surga dalam kemanusiaan dan keilahian-Nya. Kebangkitan-Nya membuat kita memiliki harapan bahwa kita akan bangkit, bahwa suatu hari surga juga akan menjadi rumah kita.

Saat Ia naik ke surga, Yesus memberikan misi ini kepada Gereja-Nya di bumi, seperti yang kita dengar dalam Injil kita hari ini, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu." (Matius 28:19-20)

Yesus tidak datang untuk menciptakan sebuah institusi, tetapi untuk menciptakan sebuah keluarga, kerajaan Allah. Dari semua bangsa di dunia, Ia ingin menjadikan satu keluarga, kita semua anak-anak Raja, yang dibaptis dalam nama Tritunggal Mahakudus: Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Anda dan saya, saudara-saudari, masing-masing dari kita memiliki peran untuk membangun keluarga itu di bumi ini. Kita memiliki panggilan yang mulia!

Tidak peduli siapa Anda, Anda memiliki misi ini untuk pergi dan menjadikan murid. Anda memiliki misi ini untuk pergi dan membagikan kabar baik Yesus dan membawa keselamatan kepada orang lain.

Keselamatan datang dari mengenal Yesus. Segala sesuatu berubah ketika Yesus datang ke dalam hidup kita. Ia adalah terang, kebenaran, keindahan. Ia adalah satu-satunya jalan menuju kebahagiaan dan Ia ingin semua orang mengetahuinya.

Masing-masing dari kita dipanggil untuk menjadi murid misionaris. Itulah yang dimaksud Yesus hari ini ketika Ia berkata kepada murid-murid-Nya, "Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8)

Tentu saja, semua kebenaran indah ini terdengar berbeda hari ini, saat kita mendengar Firman Tuhan dalam keadaan dunia yang sedang penuh konflik dan tidak baik-baik saja. Namun, misi kita tetap sama meskipun keadaan kita berbeda.

Saya berdoa bersama Anda, kita semua berdoa bersama di Gereja, dan kita perlu memohon karunia iman yang kuat pada saat ini. Kristus telah bangkit dan kita akan bangkit!

Yesus pergi ke surga, tetapi Dia tidak meninggalkan kita sendirian di bumi. Dia pergi, tetapi Dia tidak meninggalkan kita.

Kita memiliki janji-Nya hari ini dalam Injil, "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20)

Dia senantiasa menyertai kita semua. Jadi, saudara-saudari, kita perlu mendekat kepada Yesus, kita perlu berpegang teguh kepada-Nya dan mengikuti-Nya.

Tidak peduli apa yang telah hilang dari kita, tidak ada yang akan pernah menjauhkan Allah dari kita. Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Jangan pernah menyerah pada kesedihan! Sekarang lebih dari sebelumnya, marilah kita memohon rahmat untuk menjadi saksi kasih Allah dalam hidup kita.

Dalam bacaan pertama hari ini, kita mendengar Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Janganlah meninggalkan Yerusalem, tetapi nantikanlah janji Bapa."

Ini adalah pesan bagi Gereja di setiap zaman. Dan ini terutama pesan bagi Gereja saat ini, di saat begitu banyak orang menderita.

Dan kita tahu apa yang dilakukan orang-orang Kristen pertama setelah Yesus diangkat ke surga. Mereka melakukan apa yang Yesus perintahkan kepada mereka. Mereka kembali ke Yerusalem bersama Maria, Ibu-Nya, dan mereka mengabdikan diri untuk berdoa bersama dan menantikan karunia Roh Kudus yang telah dijanjikan-Nya kepada mereka.

Beginilah cara Gereja selalu hidup. Beginilah cara kita perlu hidup saat ini. Dekat dengan Yesus, dekat dengan Maria, bersatu dalam Roh Kudus yang selalu ada untuk menolong kita.

Saudara-saudari, kita perlu tetap bersama. Kita perlu berdoa bersama, bersatu sebagai satu keluarga, satu tubuh.

Santo Paulus memberi tahu kita hari ini dalam bacaan kedua bahwa Gereja adalah tubuh Kristus di bumi dan bahwa Dia adalah kepala. Jika Kristus adalah kepala kita, itu berarti kita harus selalu berusaha untuk memiliki pikiran Kristus. Berpikir seperti Kristus dan bertindak seperti Kristus; melihat dunia seperti Dia melihat dunia, saling mengasihi seperti Dia mengasihi kita.

Gereja adalah sebuah keluarga dan saat ini kita perlu melakukan segala yang kita bisa untuk merawat saudara-saudari kita. Kita perlu mengasihi seperti Yesus Kristus, setiap orang dari kita. Kita perlu saling memberi makan dan saling melindungi. Kita perlu saling mendukung, saling membantu, dan menyembuhkan, dan saling menopang. Kita lebih kuat bersama, lebih baik bersama.

Jadi, saudara-saudari terkasih, hari ini kita menjadi saksi atas apa yang disebut Santo Paulus sebagai "kebesaran kuasa-Nya yang luar biasa bagi kita yang percaya."

Yesus turun dari surga untuk turut serta dalam kehidupan manusia kita, dalam semua penderitaan dan sukacita kita. Hari ini Ia naik ke surga agar kita dapat mengikuti-Nya. Setiap jalan kini menuju surga, jika kita berjalan bersama Yesus.

Dialah yang menyertai kita. Oleh karena itu, marilah kita terus berjalan bersama-Nya.

Dan minggu ini, sementara kita menantikan pemberian Roh Kudus pada Minggu Pentakosta, marilah kita memohon kepada Bunda Maria, Bunda Gereja, untuk memperoleh segala rahmat bagi kita.

Semoga ia membantu kita untuk melaksanakan misi yang dipercayakan kepada kita, untuk menjadi murid-Nya saat ini, hidup untuk kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa-jiwa.

Nah, itu dia 7 contoh khotbah Hari Kenaikan Yesus Kristus 2026 yang penuh makna dan menyentuh hati. Semoga membantu, ya!

Artikel ini ditulis oleh Arum Sekar Pertiwi peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik




(num/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads