Kronologi Cekcok Ajudan Danrem Jogja Maraton Tanpa BIB Berujung Minta Maaf

Round-Up

Kronologi Cekcok Ajudan Danrem Jogja Maraton Tanpa BIB Berujung Minta Maaf

Tim detikJogja - detikJogja
Selasa, 23 Jun 2026 07:00 WIB
Marathon running race, people feet on city road
Ilustrasi. Foto: Getty Images/Pavel1964
Jogja -

Video cekcok yang melibatkan Danrem 072/Pamungkas, Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono dengan marshal di salah satu event maraton di Jogja ramai di media sosial. Terungkap, cekcok dipicu saat marshal menarik ajudan karena tidak mengenakan nomor BIB saat lari di trek maraton. Berikut kronologinya.

Kejadian cekcok tersebut menjadi perbincangan usai viral di media sosial. Video tersebut salah satunya diunggah di X.

"Di event Mandiri Jogja Maraton 2026 ada orang tanpa nomor bib diminta keluar lintasan oleh petugas panitia. ga lama ada pelari yang maksa orang tadi untuk masuk lintasan lagi. respek buat panitianya," tulis unggahan salah satu akun X yang mengunggah video tersebut, @txtruangpodcast, dilihat detikJogja, Senin (22/6).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam video berdurasi 25 detik tersebut memperlihatkan seorang yang disebut ajudan dari Danrem, yang tengah memegang ponsel ditarik keluar oleh marshal dari trek lari. Aksi marshal tersebut dilakukan karena ajudan itu tidak mengenakan BIB atau nomor dada.

Tak berselang lama, muncul Danrem yang tengah berlari, menarik paksa ajudannya itu untuk turut lari kembali. Sontak aksi tarik menarik antara marshal dan Danrem pun terjadi. Danrem pun sempat menuding marshal usai kembali menarik keluar si ajudan.

ADVERTISEMENT

Terkait dengan kejadian itu, Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 072/Pamungkas, Mayor Inf Suwito, membeberkan mengenai kronologi kejadian tersebut. Suwito menyebut, kejadian itu hanya salah paham saja.

"Terjadi kesalahan pahaman aja, dan sudah saling memaafkan," jelas Suwito saat dihubungi detikJogja, Senin (22/6/2026).

Awal Mula Kejadian

Suwito menjelaskan, saat itu Yuniar datang bersama keluarga dan ajudan menggunakan empat tiket. Seluruh rombongan telah terdaftar resmi dalam event tersebut.

"Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono bersama istri, satu orang anak, serta satu ajudan, mengikuti kegiatan tersebut sebagai peserta menggunakan empat tiket umum yang dimilikinya dan telah terdaftar secara resmi sebagaimana peserta lainnya," terang Suwito.

Hanya saja, nomor yang terpasang di ajudan disebut terlepas dan jatuh saat pelaksanaan. Suwito melanjutkan, usai kejadian, pihak penyelenggara, event organizer, dan Danrem 072/Pamungkas telah melakukan komunikasi serta klarifikasi secara langsung.

"Berdasarkan penjelasan yang diperoleh, ajudan yang mendampingi Danrem juga mengikuti kegiatan sejak awal dengan menggunakan nomor peserta (BIB). Namun dalam pelaksanaannya diduga nomor peserta tersebut terlepas saat berada di lintasan yang cukup padat sehingga menimbulkan kesalahpahaman saat pemeriksaan oleh petugas," urainya.

Diselesaikan Kekeluargaan

Suwito menyampaikan, terkait kejadian itu seluruh pihak memahami bahwa murni merupakan persoalan teknis di lapangan dan telah diselesaikan dengan baik.

"Kami mengapresiasi profesionalisme panitia dan petugas yang menjalankan tugas sesuai prosedur untuk menjaga ketertiban kegiatan, sekaligus menghargai langkah cepat penyelenggara dalam melakukan klarifikasi sehingga tidak terjadi kesalahpahaman yang berkepanjangan di ruang publik," ujarnya.

"Pada prinsipnya, hubungan antara Korem 072/Pamungkas dan penyelenggara kegiatan tetap berjalan dengan baik. Kami berharap masyarakat dapat melihat peristiwa ini secara proporsional dan tidak mengaitkannya dengan hal-hal lain yang tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya," sambungnya.

Permintaan Maaf Ajudan Danrem

Usai beredarnya video tersebut, Ajudan Danrem 072/Pamungkas, Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono yang terlibat insiden tarik-menarik di event maraton di Jogja, Minggu (21/6), menyampaikan permohonan maaf.

Permintaan maaf ini direkam dalam sebuah video yang dibagikan Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 072/Pamungkas Mayor Inf Suwito kepada detikJogja. Dalam video tersebut terlihat ajudan Danrem bernama Serda Ainul Yaqin bersama marshal yang menariknya.

"Itu statmentnya mas, terjadi kesalahan pahaman aja, dan sudah saling memaafkan," jelas Suwito saat dihubungi detikJogja, Senin (22/6), sembari mengirim video permintaan maaf Serda Ainul Yaqin.

Berikut pernyataan permintaan maaf Serda Ainul Yaqin:

"Saya ingin menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian saya saat mengikuti lari dengan menggunakan jersey namun tidak menggunakan BIB, Saya menyadari bahwa tindakan tersebut merupakan kesalahan dan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.Dengan tulus saya memohon maaf kepada penyelenggara, seluruh petugas, dan relawan, serta seluruh peserta yang terdampak oleh kejadian ini. Saya bertanggung jawab penuh atas kekeliruan dan menjadikannya sebagai pembelajaran ke depan. Terimakasih atas kritik dan masukan yang diberikan," terang Serda Ainul Yaqin.

Kemudian marshal yang berada dalam video viral tersebut juga terlihat di sebelah Ainul Yaqin. Dia juga meminta maaf kemudian keduanya berpelukan.

"Saya juga memohon maaf atas tindakan saya yang berlebihan, dan saya juga mengganggap masalah ini telah selesai, terimakasih," sahut marshal yang terlibat insiden tarik-menarik dengan Serda Ainul Yaqin.

TNI AD Angkat Bicara

Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI Donny Pramono mengatakan peristiwa penghentian ajudan oleh panitia penyelenggara merupakan sebuah kesalahpahaman.

"Dapat kami jelaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan kesalahpahaman yang terjadi di lapangan antara petugas pengawas lintasan dengan ajudan Danrem 072/Pamungkas saat kegiatan berlangsung," kata dalam keterangannya di Jakarta, seperti dilansir Antara yang dikutip detikNews, Senin (22/6/2026).

Donny menyebut Danrem Pamungkas mengikuti event lari itu bersama istri, satu orang anak, dan ajudannya. Donny menyebut keempatnya terdaftar sebagai peserta dan memegang tiket resmi dari penyelenggara ajang marathon tersebut.

Oleh karena itu, mereka berempat mendapatkan Bib atau nomor identitas peserta yang wajib ditempelkan di badan selama ajang maraton berlangsung. Namun, Bib milik ajudan disebut terjatuh di tengah jalur ketika perlombaan masih berlangsung.

"Dalam pelaksanaannya diduga nomor peserta tersebut terlepas saat berada di lintasan yang cukup padat sehingga menimbulkan kesalahpahaman saat pemeriksaan oleh petugas," ungkap Donny.

Hal itu membuat panitia memberhentikan ajudan yang sedang berlari sembari merekam Yuniar dalam perlombaan tersebut. Peristiwa itulah yang terekam di media sosial, yang memperlihatkan Yuniar bersitegang dengan salah seorang marshal.

"Setelah kejadian tersebut, pihak penyelenggara, event organizer, dan Danrem 072/Pamungkas telah melakukan komunikasi serta klarifikasi secara langsung. Seluruh pihak memahami bahwa kejadian tersebut murni merupakan persoalan teknis di lapangan dan telah diselesaikan dengan baik," ujar Donny.

Di sisi lain, TNI AD mengapresiasi kerja panitia karena bekerja profesional dalam menjaga ketertiban acara. Pihaknya pun meminta masyarakat untuk memahami kejadian itu dengan bijak.

"Kami berharap masyarakat dapat melihat peristiwa ini secara proporsional dan tidak mengaitkannya dengan hal-hal lain yang tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya," ucap Donny.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Heboh Pernikahan Anak di Lombok Berujung Ortu Pengantin Dipolisikan"
[Gambas:Video 20detik]
(apl/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads