Serba-serbi SMA De Britto, Siswa Bebas Gondrong hingga Kelas Kandang Kuda

Round-Up

Serba-serbi SMA De Britto, Siswa Bebas Gondrong hingga Kelas Kandang Kuda

Tim detikJogja - detikJogja
Sabtu, 20 Jun 2026 05:00 WIB
Ratusan murid SMA Kolese De Britto saat melakukan long march merayakan kelulusan ke Tugu Jogja, Minggu (10/5/2026).
Ratusan murid SMA Kolese De Britto saat melakukan long march merayakan kelulusan ke Tugu Jogja, Minggu (10/5/2026). Foto: dok. Istimewa
Jogja -

Sebagai salah satu SMA favorit di Jogja, SMA Kolese De Britto selama ini dikenal sebagai sekolah bebas yang bertanggung jawab. Berikut serba-serbi tentang sekolah khusus cowok di Jalan Laksda Adisucipto No 161, Caturtunggal, Depok, Kabupaten Sleman, itu.

SMA ini terkenal akan kebebasannya. Di sekolah ini, detikers bisa menjumpai murid yang berambut gondrong dan mengenakan sepatu sandal. Ruang kelasnya juga tidak memiliki pintu dan jendela, sehingga kerap disebut 'kandang kuda'.

Sejarah SMA De Britto

Wakil Kepala Bidang Humas dan Jejaring SMA Kolese De Britto, Christophorus Danang Wahyu Prasetio, mengatakan SMA De Britto erat kaitannya dengan sekolah misi yang awalnya adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) Kanisius, yang berdiri pada 19 Agustus 1948.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Murid angkatan pertama adalah campuran putra-putri berjumlah 65 orang. Lokasi awalnya menumpang di ruang atas SMP Bruderan Kidul Loji.

"Itu kan tahun 1948 di Bintaran, yang waktu itu nama awalnya itu Kanisius, ya," katanya saat ditemui detikJogja, Senin (15/6/2026).

ADVERTISEMENT

"Tapi waktu itu terus terjadi agresi militer tahun 1949 itu, maka terus dipisah. De Britto itu yang untuk laki-laki, Stella Duce (Stece) itu yang perempuan. Nah, De Britto itu di bawah Romo Jesuit dan Stece itu di bawah Suster CB (Carolus Borromeus)," imbuhnya.

Pada 1953, SMA De Britto memiliki tempat baru dan mulai melakukan pembangunan di Demangan Baru, tepatnya Jalan Laksda Adisucipto No. 161. Hingga akhirnya SMA De Britto mulai melaksanakan kegiatan belajar mengajar tahun 1958.

"Maka untuk tahun 2028 itu kita genap 80 tahun atau bisa dikatakan dasawindu, itu kalau kita berbicara sejarah dari De Britto," ucapnya.

Suasana SMA Kolese De Britto di Demangan Baru, Caturtunggal, Depok, Sleman, Senin (15/6/2026).Suasana SMA Kolese De Britto di Demangan Baru, Caturtunggal, Depok, Sleman, Senin (15/6/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Visi Misi SMA De Britto

Danang menjelaskan soal visi misi SMA De Britto yang menjadi pembeda dengan SMA lain di Jogja. Menurutnya, Jesuit merupakan ordo kongregasi pastor-pastor yang memang memiliki keunggulan di bidang pendidikan.

"Maka kalau kita berbicara Jesuit di internasional itu kan sekolah-sekolah yang di bawah Jesuit itu pasti memiliki keunggulan. Maka kalau bisa dikatakan, kita di pendidikan Jesuit atau pendidikan Kolese De Britto itu pendidikan yang utuh. Menyeimbangkan antara olah pikir, olah rasa dan kehendak," kata dia.

SMA De Britto memiliki profil siswa yang kerap disebut dengan istilah 1L+5C. L adalah leadership atau pemimpin. Dan, pemimpin itu harus memiliki lima C yaitu competence, conscience, compassion, consistent, dan commitment.

"Maka sering disebut 1L+5C. Pemimpin yang memiliki 5C tadi, competence itu terkait dengan pengetahuan, conscience itu hati nurani, compassion itu bela rasa, commitment itu memiliki sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan, terus consistent itu ya berkata benar dari apa yang dipikirkan," ucapnya.

Ruang kelas berjuluk 'kandang kuda' di SMA De Britto Jogja. Foto diunggah Kamis (18/6/2026).Ruang kelas berjuluk 'kandang kuda' di SMA De Britto Jogja. Foto diunggah Kamis (18/6/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Bebas yang Bertanggung Jawab

Danang juga mengungkapkan bahwa SMA De Britto kerap disebut dengan sekolah bebas yang bertanggung jawab. Dia menjelaskan, hal itu berkaitan dengan era tahun 60-an yang merupakan masa peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru

"Dan ketika di Orde Baru itu kan, dalam tanda kutip, kan terlalu mengedepankan aturan yang ketat atau bisa dikatakan saklek gitu ya. Jadi, artinya pemimpin itu ya harus dihargai, pemimpin itu harus diikuti," katanya.

"Jadi, aturan-aturan yang dibuat pemerintah itu terkadang mengekang. De Britto membuat sesuatu yang berbeda dengan sekolah bebas bertanggung jawab," lanjut Danang.

Sekolah bebas bertanggung jawab, ungkap Danang, merupakan pemikiran dari romo-romo waktu itu. Di mana ketika orang itu dikekang, apalagi siswa, maka tidak akan muncul kreativitas hingga keberanian untuk menyampaikan ide dan gagasan.

"Maka terus dimunculkanlah sekolah bebas, tapi bebas yang bertanggung jawab. Artinya, bebas bertanggung jawab ini bukan bebas semau gue, bebas yang bukan tidak ada aturan," ujarnya.

"Tetap ada aturan, tetap mengedepankan nilai-nilai, tapi yang selalu ditekankan adalah berpikir sebelum berbuat. Jadi, sebelum mengambil keputusan, sebelum mengambil pilihan, pikirkan terlebih dahulu apa yang akan kamu lakukan. Itu yang dimaksud bebas bertanggung jawab," sambungnya.

Salah satu ekspresi kebebasan itu adalah soal penampilan.

"Pakai sandal boleh, tapi sandal yang di belakangnya ada pengaitnya itu. Mau rambut gondrong bebas, tapi rambut yang alami loh, tidak boleh diwarnai. Berarti kalau ada diwarnai ya konsekuensinya potong," ujar Danang.

Konsekuensi untuk Kesalahan

Danang menyebut pendidikan di SMA De Britto memerdekakan manusia dan humanis.

"Gimana siswa bisa berkembang dengan baik ketika tidak ada humanisme, maka di De Britto itu kita berbicara aturan tuh bukan mengekang, tapi aturan tuh untuk dilihat lebih jauh," ujarnya.

Danang mencontohkan, setiap kesalahan yang dilakukan siswa bukannya langsung terkena hukuman.

"Maka setiap kesalahan yang dilakukan anak itu modelnya bukan hukuman, tapi konsekuensi. Konsekuensi itu tujuannya adalah apa? Supaya anak itu bisa menyadari atas apa kesalahan yang dihadapi. Maka di De Britto enggak ada yang namanya skor seperti telat skornya sekian, berkelahi skornya sekian tidak ada," katanya.

Teknisnya, jika siswa melakukan kesalahan maka guru akan mengajaknya diskusi. Seperti halnya guru akan menanyakan alasan siswa terlambat datang ke sekolah.

"Jadi, lebih mencari sebetulnya apa sih di balik keputusan yang kamu buat itu? Maka mengajari anak untuk berpikir sebelum berbuat," ujarnya.

"Maka ada konsekuensi. Konsekuensi itu bukan untuk menjatuhkan, bukan untuk menghukum, enggak. Tapi untuk memberi pemikiran pada anak, mindset pada anak, bahwa apa yang kita lakukan itu harus selalu dipikirkan terlebih dahulu. Itu visi misinya seperti itu, Mas. Jadi, sekolah bebas yang bertanggung jawab," imbuh Danang.

Cetak Akademisi, Pengusaha, hingga Menteri

Danang mengatakan banyak lulusan yang menjadi akademisi, pengusaha, hingga pejabat negara dan partai politik. Untuk akademisi, Danang menyebut banyak lulusan De Britto yang menjadi dosen di Universitas Gadjah Mada (UGM) hingga Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY).

"Terus Rektor ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya itu juga alumni De Britto," ujarnya.

Sedangkan berbicara pengusaha lulusan De Britto, Danang menyebut seperti pendiri jaringan Apotek K-24 hingga pemilik dan pendiri Natasha Skin Clinic Center. Selain itu, pengusaha Quick Tractor juga merupakan alumni De Britto.

"Terus kalau kita berbicara masalah pejabat, Menteri PU Dody Hanggodo itu alumni De Britto. Terus kalau kita berbicara di politik, Sekjen PDI Perjuangan itu Mas Hasto Kristiyanto juga alumni De Britto," ucapnya.

Bahkan, Danang mengungkapkan cucu Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X juga merupakan alumni De Britto. Adapun dua cucu Sultan itu adalah Gustilantika Marrel Suryokusumo dan RM. Drasthya Wironegoro.

Ketahuan Nyontek Bisa Bablas!

SMA Kolese De Britto mengungkapkan bahwa memperbolehkan siswanya berambut gondrong, mengenakan seragam putih abu-abu hanya hari Senin hingga mengenakan sepatu sandal saat sekolah. Namun, De Britto tidak mentolerir siswa yang ketahuan mencontek dengan langsung memberikan surat peringatan (SP) 2.

Wakil Kepala Bidang Humas dan Jejaring SMA Kolese De Britto, Christophorus Danang Wahyu Prasetio, menjelaskan yang membedakan De Britto dengan SMA lainnya di Jogja adalah aturannya tidak saklek.

"Jadi aturan itu dibuat bukan untuk membatasi, tapi untuk mengajak anak-anak itu berpikir. Karena bagi kami gini, semakin banyak aturan menandakan di situ sama semakin banyak pelanggaran," katanya kepada detikJogja.

Danang menilai jika De Britto lebih kepada menantang siswa betul-betul mengadopsi 1L+5C, khususnya consistent (konsisten) dan commitment (komitmen).

"Kalau anak sudah membuat komitmen, maka dia akan konsisten dengan apa yang sudah dia ungkapkan. Misalnya mereka melanggar aturan kita tinggal membalikkan, loh komitmen seperti apa. Jadi bukan memvonis, tapi mengajak anak untuk memiliki pola pikir atau mindset yang baik tentang keputusannya tadi," ujarnya.

Semua itu, kata Danang, karena awal tahun 60-an sekolah lain ibaratnya taat pada pemerintah. Ketaatan itu antara lain seperti kewajiban mengenakan seragam.

"Nah, tahun 60-an itu De Britto kan sudah sekolah yang bebas, saat itu pakai sarung, boleh pakai sandal jepit, boleh pakai kaos oblong dan sebagainya, karena apa? Ya tadi, masa-masa orde baru tadi Pemerintah kan selalu memaksakan aturannya terhadap sekolah-sekolah toh, nah kita membuat terobosan yang berbeda tadi, maka membebaskan anak untuk berkreasi, bereksperimen," ucapnya.

Dengan kebebasan tersebut, Danang menyebut jika siswa menjadi lebih kritis dalam berpikir. Danang mengungkapkan, saat ini siswa di De Britto hanya wajib mengenakan seragam putih abu-abu hanya satu hari saja.

"Kalau sekarang pakai baju putih abu-abu hanya di hari Senin saja. Terus kalau dari hari Selasa sampai hari Jumat kita bebas, tapi bebasnya ya pakai kaus yang berkerah. Kalau celana ya bebas tapi yang penting tidak sobek-sobek," katanya.

De Britto juga memperbolehkan siswa mengenakan sepatu sandal saat bersekolah.

"Pakai sandal boleh, tapi sandal yang di belakangnya ada pengaitnya itu," ujarnya.

Sedangkan untuk rambut siswa yang gondrong, Danang menyebut De Britto juga memperbolehkan.

"Mau rambut gondrong bebas, tapi rambut yang alami loh, tidak boleh diwarnai. Berarti kalau ada diwarnai ya konsekuensinya potong," ucapnya.

Terkait apakah siswa yang boleh berambut gondrong merupakan siswa yang pintar, Danang menepis. Tapi menurutnya, kebanyakan siswa yang memiliki rambut gondrong biasanya malu jika tidak memiliki kemampuan lebih.

"Sebenarnya itu enggak juga sih, itu bagian ekspresi anak. Cuma terkadang gini, anak itu kalau enggak memiliki kemampuan lebih, kalau anak itu nggak punya kompetensi yang bisa ditawarkan, dia mau berperilaku yang beda dengan yang lain kan kalau orang Jawa istilahnya isin (malu), gitu loh," katanya.

"Nah, tapi ketika mereka memang punya kemampuan, punya potensi, itu bagian dari apa ya? eksperimen dia, ekspresi mereka, ya enggak masalah gitu. Tapi sebenarnya bukan masalah pintar, itu bagian ekspresi saja, kita menghargai ekspresi anak," lanjut Danang.

Dibalik semua kebebasan itu, Danang mengungkapkan bahwa De Britto sangat tidak mentolerir terhadap siswanya yang ketahuan mencontek.

"Jadi kalau kita, kalau dari aturan sekolah, ketika mencontek itu langsung SP 2, surat peringatan kedua. Untuk masalah mencontek itu memang kita tegas karena yang kita latih adalah kejujuran tadi," ujarnya.

Danang mengungkapkan, bahwa ada beberapa anak yang sampai De Britto keluarkan dari sekolah. Pasalnya setelah mendapat SP 2 siswa tersebut tidak mengubah perilakunya.

"Untuk tahun ini kita sudah mengeluarkan beberapa anak, kelas 10 ada 10 anak, kelas 11 ada empat anak dan rata-rata itu terkait dengan pelanggaran ketidakjujuran tadi. Jadi dari SP 2 terus nanti kalau enggak ada perbaikan ya langsung SP 3 keluar, gitu," ucapnya.

Kelas 'Kandang Kuda'

Ruangan kelas sekolah biasanya identik dengan ruangan tertutup lengkap dengan pintu dan jendela. Namun, di SMA Kolese De Britto memiliki ruang kelas yang berbeda.

Pantauan detikJogja, tampak sebagian besar ruang kelas di De Britto tidak memiliki pintu dan jendela. Tampak hanya tembok dengan tinggi sekitar 1,5 meter sebagai dinding tembok luar kelas tersebut.

Sedangkan ruang kelasnya, khususnya bagian atap bukanlah eternit, tapi berupa anyaman bambu yang dicat putih. Setiap kelas memiliki satu unit komputer di meja guru, kipas angin, proyektor, papan tulis yang tergabung dengan layar proyektor hingga jam digital di pojokan papan tersebut.

Menurut Danang, sekolah De Britto masih mempertahankan bangunan aslinya. Sehingga ruang kelas siswa tidak memiliki pintu dan jendela.

"Kalau kita membicarakan kelas itu sebetulnya sebutannya kandang kuda. Karena apa? Karena tidak ada pintu, jendela dan dindingnya tidak sampai atas. Nah, itu bangunan sejak awal dan belum diubah," kata dia.

Danang mengaku ada filosofi di balik bentuk bangunan 'kandang kuda' tersebut.

"Ada filosofinya, kalau kita berbicara masalah lingkungan hidup, ketika kelas itu terbuka seperti itu, otomatis kan udara itu akan mengalir secara alami. Jadi bagaimana udara atau alam itu bisa menyatu dengan anak-anak," ujarnya.

Filosofi selanjutnya adalah terkait dengan kepekaan dan saling menghargai saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

"Nah, tapi kalau kita berbicara masalah kepekaan, itu adalah bisa saling berbagi dan menghargai antara kelas satu dan yang lain," ucapnya.

"Misalnya kelas sebelah ini ramai, sementara kelas sebelahnya itu baru ulangan, kira-kira mengganggu nggak? Kan mengganggu toh, Nah, karena itulah latihan tadi, pembentukan karakter yang dilihat dari bentuk bangunannya tadi," lanjut Danang.

Adapun jumlah kelas dengan istilah kandang kuda berjumlah 18 kelas dengan jumlah murid 33-35 untuk satu kelas. Mengingat untuk kelas 10, 11 dan 12 masing-masing memiliki enam kelas. Namun, karena semakin banyaknya siswa membuat De Britto menambah masing-masing tiga kelas.

"Dulunya semua (kelas kandang kuda) Tapi terus karena kelasnya terbatas, dulu kan hanya enam kelas. Sementara kita sekarang menjadi sembilan kelas. Nah, maka kelas-kelas yang tertutup itu sebenarnya dulu itu lab terus kita bongkar, kita jadikan kelas. Terus ini dulu ruang rapat, karena kelasnya kurang, kita bongkar menjadi kelas," katanya.

Di sisi lain, Danang menceritakan De Britto pernah akan membongkar kelas-kelas tersebut dan membangun kelas baru. Namun, rencana itu mendapat penolakan dari alumni De Britto.

"Karena itu bagian dari apa ya, memori mereka ketika sekolah di De Britto," ujarnya.

Terlebih, saat melakukan survei terhadap siswa terkait 'kandang kuda' itu juga tidak ada yang setuju jika bentuknya berubah.

"Dari alumni nggak boleh, terus ketika kemarin kita mencoba untuk survei anak-anak sekarang, anak-anak ini juga mereka nggak cocok (kalau diubah)," ucapnya.

Maka itu De Britto tetap mempertahankan bentuk kelas tersebut hingga saat ini.

"Makanya kita mau membuat gedung baru yang tidak mengubah ini, tapi di sebelah timur sana. Karena yang kita butuhkan bukan kelas yang ber-AC, tapi yang kita butuhkan adalah bagaimana kita itu bisa berbagi tadi, berbagi dengan alam dan berbagi terhadap sesama tadi," pungkasnya.

Halaman 2 dari 3
(dil/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads