Segini Modal Pak Dukuh Wonosari Sulap Galon Bekas Jadi Sawah

Segini Modal Pak Dukuh Wonosari Sulap Galon Bekas Jadi Sawah

Tim detikJogja - detikJogja
Kamis, 02 Jul 2026 07:02 WIB
Dukuh Ngelorejo, Gunungkidul, Susanto saat mencari galon untuk media tanam padi.
Dukuh Ngelorejo, Gunungkidul, Susanto saat mencari galon untuk media tanam padi. Foto: dok. pribadi/Susanto
Gunungkidul -

Pak Dukuh di Wonosari Gunungkidul menjadi sorotan usai mengubah lahan nganggur di rumahnya menjadi sawah dengan media tanam galon bekas. Menurutnya, hal itu menguntungkan karena tak perlu mengeluarkan banyak modal.

Pak Dukuh itu bernama Susanto (44). Dia merupakan Dukuh di Padukuhan Ngelorejo, Gari, Wonosari.

"Menanam padi pakai galon ini banyak keuntungannya, seperti perawatannya mudah karena tinggal disiram air saja. Nah, yang paling penting tidak perlu macul dan membajak tanah," katanya saat dihubungi detikJogja, Rabu (1/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Modal yang dikeluarkannya juga terbilang minim jika dibanding harus membeli atau menyewa sawah. Modalnya cukup galon bekas, tanah media tanam, bibit, hingga penghalang hama.

ADVERTISEMENT

Dia sendiri bisa mendapat harga galon berkisar Rp 1.000 jika beli di perorangan, sedangkan harga galon di tukang rongsok berkisar Rp 2.500 hingga Rp 3.000.

"Jadi saya punya lahan sekitar 10 m2 dengan estimasi 1.000 galon. Nah dengan kalkulasi misal beli sawah 10 m2 kan Rp 15-20 juta, tapi katakanlah beli galon Rp 2 juta, dan kepepetnya tanah beli Rp 1 juta kan sangat terjangkau itu," ujarnya.

Penampakan ratusan galon disulap jadi media tanam padi milik Dukuh Ngelorejo, Gari, Wonosari, Gunungkidul, Susanto.Penampakan ratusan galon disulap jadi media tanam padi milik Dukuh Ngelorejo, Gari, Wonosari, Gunungkidul, Susanto. Foto: dok. Dukuh Ngelorejo Susanto

Kemudian, dia juga membeli jaring untuk menjaga tanamannya dari burung pipit.

"Terus bisa dipantau langsung karena kan lokasinya ada di pekarangan. Jadi kalau ada serangan burung pipit bisa langsung digusah (dihalau)," ucapnya.

Menurutnya, hasil panen dari menanam padi terbilang bagus. Di mana dari hitungannya untuk satu galon berisi tanaman padi bisa menghasilkan gabah sekitar satu ons.

"Hasil panen untuk satu galon, satu galon itu rata-rata satu ons gabah. Jadi tinggal dikalikan saja berapa galon dikali satu ons," katanya.

Meski Santo akui tanaman padi di galon miliknya belum panen semua. Namun kembali lagi, Santo hanya ingin menunjukkan bahwa dengan biaya minim semua orang bisa menanam padi di pekarangan rumah.

Susanto bersama Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih saat memanen sebagian tanaman padi miliknya di Ngelorejo, Gari, Wonosari, Gunungkidul.Susanto bersama Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih saat memanen sebagian tanaman padi miliknya di Ngelorejo, Gari, Wonosari, Gunungkidul. Foto: dok. Dukuh Ngelorejo Susanto

"Kalau sekarang belum panen lagi, karena ada yang ditanam tidak bersamaan juga kan. Pokoknya yang penting warga jadi tahu kalau menanam padi atau lainnya tidak perlu biaya tinggi dan bisa dilakukan di rumah," ujarnya.

Diketahui, Susanto mulai menanam padi di lahan rumahnya dengan galon pada Maret lalu. Ada 840 galon yang digunakan untuk media tanam.

"Sebagian sudah panen, kemarin sama Bu Bupati yang memanen. Kalau jumlahnya kira-kira satu galon 1 ons, tapi ini mau saya sampling lagi jumlahnya. Untuk hasil panennya kemarin bagus, mungkin karena kontrol pupuk baik, pencegahan hama juga berlangsung dengan baik," ucapnya, Senin (29/6).




(afn/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads