10 Contoh Teks Narasi Liburan ke Pantai Bersama Keluarga untuk Tugas Sekolah

10 Contoh Teks Narasi Liburan ke Pantai Bersama Keluarga untuk Tugas Sekolah

Anindya Milagsita - detikJogja
Minggu, 04 Jan 2026 08:36 WIB
Ilustrasi Membuat Teks Biografi
Ilustrasi membuat teks narasi liburan sekolah. Foto: Getty Images/iStockphoto/Nattakorn Maneerat
Jogja -

Sebelum liburan dimulai, tidak jarang guru akan memberikan tugas bagi para siswa untuk membuat teks narasi tentang liburan, salah satunya momen liburan ke pantai bersama keluarga. Sebagai referensi bagi siswa, mari temukan rangkuman contoh teks narasi liburan ke pantai bersama keluarga.

Teks narasi biasanya berisikan gambaran tentang sebuah kejadian atau peristiwa. Tidak jarang teks narasi ditulis dengan alur yang runtut serta adanya waktu maupun kronologi tertentu. Kemudian teks narasi juga kerap melibatkan sudut pandang penulis sebagai sosok yang merasakan secara langsung kejadian atau peristiwa tersebut.

Nah, bagi kamu yang butuh referensi contoh teks narasi liburan ke pantai bersama keluarga, terdapat beberapa pilihan yang bisa dibaca dalam artikel ini. Simak baik-baik rangkumannya berikut, yuk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

10 Contoh Teks Narasi Liburan ke Pantai

1. Liburan ke Pantai Parangtritis

Kemarin pagi, aku dan keluargaku pergi ke Pantai Parangtritis. Matahari bersinar cerah, dan angin sepoi-sepoi membuat suasana semakin nyaman. Kami bermain pasir, membuat istana, dan berlomba mencari kerang yang indah. Saat sore tiba, kami duduk di tepi pantai sambil menikmati es kelapa muda. Liburan kali ini sangat menyenangkan!

(Sumber: buku 'Pengantar Kajian Kebahasaan' oleh Markus Sampe, dkk.)

ADVERTISEMENT

2. Senja Indah di Pantai Kuta

Pada sore hari saat libur sekolah, Sinta pergi ke Pantai Kuta, Bali, bersama kedua orang tuanya. Mereka tiba ketika langit mulai berubah warna menjadi jingga keemasan. Suasana pantai tampak ramai namun tetap menyenangkan.

Sinta berjalan menyusuri pantai sambil memegang tangan ibunya. Ia melihat banyak wisatawan bermain air dan berfoto. Ayah Sinta mengajak mereka duduk bersama untuk menikmati pemandangan matahari terbenam.

Ketika matahari perlahan tenggelam, Sinta merasa sangat bersyukur bisa menikmati momen indah itu bersama keluarga. Liburan sore itu menjadi kenangan yang tidak akan ia lupakan.

3. Suasana Pantai

Hari Minggu, keluargaku berlibur ke pantai. Kami pergi ke pantai naik mobil. Sesampai di pantai, aku sangat kagum. Aku kagum melihat keindahan suasana pantai.

Tampak hamparan pasir putih yang indah. Di pinggir pantai tampak pohon-pohon kelapa.
Daunnya melambai tertiup angin. Pantai itu tampak bersih. Tidak ada sampah berserakan di hamparan pasir. Kata Ayah, pantai adalah tempat umum.

(Sumber: buku 'Kreatif Tematik Tema 4 Hidup Bersih dan Sehat Kelas II untuk SD/MI' karya Tim Tunas Karya Guru)

4. Bermain Ombak di Pantai Pangandaran

Saat libur semester, Bima dan keluarganya mengunjungi Pantai Pangandaran di Jawa Barat. Mereka berangkat pagi-pagi agar bisa bermain lebih lama. Bima sangat bersemangat karena ia sudah lama ingin melihat laut secara langsung.

Setibanya di pantai, Bima langsung bermain air bersama kakaknya. Mereka berlari menghindari ombak sambil tertawa gembira. Ibu mengingatkan agar mereka tetap berhati-hati saat bermain.

Sebelum pulang, keluarga Bima membeli oleh-oleh khas pantai. Liburan itu membuat Bima merasa senang dan semakin mencintai waktu bersama keluarga.

5. Berlibur ke Pesisir Barat Lampung

Kami berlibur ke rumah Kakek. Kakek tinggal di Pesisir Barat Lampung. Rumah Kakek ada di tepi pantai.
Saat kami tiba. Nenek sudah memasak makanan. Ada gulai dan sate ikan marlin.
Masakan Nenek sangat sedap. Kami makan dengan lahap.
Keesokan harinya, kami pergi ke Pantai Labuhan Jukung. Kami dapat melihat hewan laut ketika air laut surut. "Hewan apa yang berduri itu, kek?" tanyaku.
"Itu namanya bulu babi" jawab kakek.
Siang hari, kami pergi ke Pantai Tembulih.
"Pantai Tembulih bersih dan indah. Banyak penyu yang singgah. Penyu bertelur di malam hari. Saat pantai sedang sepi" lanjut kakek.
Di Pantai Tembulih banyak tukik. Tukik adalah bayi penyu. Tukik akan dilepas ke tepi pantai, sebelum matahari terbit.
Kami pergi ke Pantai Tanjung Setia. Ombaknya besar. Banyak turis berselancar. Aku dan adik membuat istana pasir.
Kami main air di pantai. Kami memakai pelampung agar aman.
Kami bermain air sepuasnya. Air laut terasa hangat.
Hari sudah sore. Kami pulang melewati Pantai Krui. Wow, lihat! Ada lumba-lumba sedang melompat.
Kami senang rekreasi ke pantai. Pantai di Pesisir Barat sangat indah.
Siapa yang pernah ke pantai? Maukah kamu pergi ke pantai? Jika di daerahmu tidak ada pantai, kamu bisa pergi ke tempat rekreasi lain.

(Sumber: buku 'Berlibur ke Pesisir Barat Lampung' tulisan Erminawati dan Malikul Falah)

6. Liburan Pagi Bersama Keluarga

Pada hari Minggu pagi, aku pergi ke pantai bersama Ayah, Ibu, dan adikku. Kami berangkat lebih awal agar udara masih sejuk. Saat tiba di pantai, aku melihat laut yang luas dan mendengar suara ombak yang menenangkan.

Aku dan adikku bermain pasir di tepi pantai. Kami membuat berbagai bentuk dan tertawa saat ombak kecil datang menyapu kaki kami. Rasanya sangat menyenangkan bermain bersama.

Ayah dan Ibu duduk sambil mengawasi kami. Sebelum pulang, kami makan bekal bersama. Liburan singkat itu membuatku merasa bahagia dan bersyukur.

7. Wisata ke Pantai

Pada minggu terakhir liburan sekolah, Pak Diman, ayah Aan, mengajak Aan berlibur ke Pantai Nguyahan, Gunungkidul. Bu Dirman, Ibu Aan, tidak bisa ikut karena ada urusan mendadak.
Sebagai gantinya, Pak Diman mengajak keponakannya, Sinta dan.. Malya untuk menemani Aan. Sinta berusia hampir sama dengan Aan Sedangkan Malya berusia lebih muda lima bulan dari Aan.

Setibanya di Pantai Nguyahan, langit terlihat cerah. Matahari bersinar terang. Ketiga anak tersebut senang sekali.
"Kalian boleh bermain pasir atau air laut. Akan tetapi, di pinggir saja jangan terlalu ke tengah, ombaknya berbahaya. Bapak menunggu di sana," kata Pak Diman sambil menunjuk suatu tempat.
Pak Diman kemudian berjalan menuju penyewaan payung yang banyak ditemukan di sana. Ketiga anak tersebut mulai melihat ke sana ke mari. Mereka mencari tempat yang nyaman untuk membuat istana pasir,
"Bagaimana kalau kita ke sana dahulu?" Aan menunjuk bukit batu karang besar yang menjorok ke arah pantai. Tempatnya terlihat teduh karena banyak pepohonan di atasnya.
Sinta dan Malya setuju. Kemudian, tiga anak itu berjalan beriringan menuju bukit batu karang tersebut.
Pilihan Aan memang tidak salah. Tempat di sekeliling batu karang tersebut teduh dan asri. Pasirnya putih dan halus.
Sinta langsung terpesona melihat pemandangan tersebut. Apalagi. soat matanya melihat kepiting kecil yang berada di atas batu karang Sinta mencoba menangkap kepiting tersebut.
Menyadari akan adanya bahaya, kepiting tersebut langsung menghindar. Kepiting bersembunyi di lubang batu karang. Aan dan Malya tertawa melihat Sinta yang kesulitan menangkap kepiting.
Akhirnya Aan dan Malya juga ikut mengejar kepiting. Sinta berhasil menangkap satu, begitu pula Malya. Aan justru tidak dapat.
Kepiting yang berhasil tertangkap dimasukkan ke dalam wadah. Wadah berupa plastik bening yang dibawa dari rumah. Tiga anak tersebut memandangi kepiting di dalam plastik.

Kepiting tersebut terlihat berloncatan berusaha keluar dari wadah, Anak-anak itu merasa kasihan. Setelah mereka puas melihat. plastik wadah kepiting dibuka.
"Sana, kembalilah ke asalmu! Berkumpul bersama teman-temanmu," ujar Sinta. Kepiting kecil tersebut dilepas di tempat semula, di dekat batu karang.
"Kata Bapak, pantai di sini terkenal kaya akan biota lautnya yang unik. Ayo, kita ke sana berenang di pinggir laut!" ujar Aan sembari menunjuk ke arah lautan yang sedang surut.
"Lo, tidak jadi membuat istana pasir?" tanya Sinta.
"Oh iya, aku lupa. Ini gara-gara kamu berdua mengejar-ngejar kepiting. Kalau begitu, ayo sekarang kita membuat istana pasir dahulu!" Aan tersenyum tipis.
Tiga anak tersebut menurunkan tas dari gendongannya. Mereka mengeluarkan peralatan untuk membuat istana pasir yang sudah dipersiapkan dari rumah.
Aan, Sinta, dan Malya saling berbagi tugas untuk membangun Istana pasir. Sinta mendapat jatah mengambil air. Aan dan Malya mengumpulkan pasir. Setelah semua tersedia, pembuatan istana pasir pun dimulai.

Pertama, pasir dicampur air supaya mudah dibentuk. Setelah itu, membuat kerangka bangunan istana. Setelah kerangka istana jadi, baru membuat bentengnya.
Tidak sampai satu jam bangunan istana tersebut sudah jadi. Istana itu terlihat indah dan dikelilingi tembok benteng, lengkap dengan gapuranya.
Setelah bosan bermain pasir, Aan mengajak berenang di laut. Ia memilih tempat yang dangkal. Ia ingin melihat biota laut seperti yang diceritakan ayahnya.
"Bagian sana sepertinya lebih dangkal, aman untuk bermain. Buktinya banyak yang bermain air di sana. Coba lihatlah," ujar Aan sambil menunjuk tepi pantai yang terlihat ramai.
"Ayo kita kesana!" jawab Sinta. Matanya terlihat bersinar memandang laut yang sedang surut. Banyak anak yang bermain air di sana.
Tiga anak tersebut melepas sepatunya. Sepatunya diletakkan di pinggir pantai, agak jauh dari air. Mereka berlomba-lomba masuk ke laut.
Semua terlihat sangat senang dapat berjalan dan berenang di laut. Sayangnya, di dalam laut agak licin karena dasarnya berupa batu karang. Oleh karena itu, mereka harus berhati-hati.
Aan dan Malya berjalan bergandengan sambil cekikikan. Kakinya terasa geli ketika menginjak rumput laut yang berada di bawahnya. Sinta malah menjauh, mencari tempat yang airnya lebih dangkal.

"Mbak Aan, Malya, kemarilah! Aku menemukan hewan aneh," teriak Sinta. Tangannya menunjuk rumput laut di dekat kakinya.
"O, barangkali ini yang disebut bintang laut. Coba perhatikan! Hewan itu sudutnya ada lima," kata Aan. Ia baru pertama kali melihat bintang laut dari dekat.
Tiga anak itu mulai memperhatikan biota laut lain yang berada di tempat tersebut. Di sana terlihat ikan hias yang berlalu lalang dan juga kuda laut. Hewan yang berwarna belang-belang itu ular laut, meskipun kecil ia berbisa.

Tidak terasa waktu sudah mulai sore. Pak Diman menghampiri, menyuruh anak-anak itu keluar dari air. Waktunya pulang, besok harus masuk sekolah.
Sebenarnya tiga anak tersebut sedikit kecewa. Rasa-rasanya mereka belum puas menyusuri pantai, masih banyak yang ingin dilihat. Aan berkata pada ayahnya, besok jiko liburan ingin berlibur lagi ke pantai.

(Sumber: buku 'Plesir ing Pesisir (Wisata ke Pantai) karya Suciati Ardini Pangastuti)

8. Pagi Tenang di Pantai

Pada hari Sabtu pagi, aku pergi ke pantai bersama keluargaku. Pantai terlihat bersih dan tenang. Suasana pagi membuatku merasa lebih rileks.

Aku membantu Ibu menyiapkan tikar untuk duduk bersama. Ayah mengambil beberapa foto pemandangan laut. Setelah itu, kami sarapan sambil menikmati angin pantai.

Liburan sederhana itu membuatku merasa lebih dekat dengan keluargaku. Aku berharap bisa kembali ke pantai di lain waktu.

9. Liburan ke Pantai Padang

Liburan akhir tahun bulan Desember telah tiba. Aku mendapatkan jatah libur selama dua Minggu. Tentunya Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk pergi berlibur. Akhir tahun ini ayah dan ibu mengajakku berlibur ke pantai, tepatnya di pantai Padang. Kebetulan lokasi rumahku dengan Pantai Padang tidak membutuhkan waktu berjam-jam, hanya 3 jam untuk sampai ke sana.

Aku dan keluargaku berangkat pagi hari karena udara pagi yang segar tentunya kami ingin menghindari kemacetan juga. Kami berencana seharian ingin bermain di pantai dan pulang di malam harinya. Akhirnya kami sampai pukul 13 tepat. Ternyata meskipun kami sudah berangkat pagi terjebak macet juga, karena liburan kali ini bertepatan dengan liburan akhir tahun.
Setelah berkemas sampai pukul 14.00 kami memutuskan untuk berjalan kaki sepanjang pantai. "Ayah, Lihatlah itu anak kecilnya berenang sampai ke tengah," ucapku berteriak dengan antusias.
"Nggak heran, Sepertinya itu penduduk asli sini makanya santai saja berenang meskipun masih kecil," ujar ibu menyahuti. "Iya sih, iri deh sama adiknya udah pandai berenang sedangkan aku ndak bisa berenang," tuturku.
"Ya kalau kamu tinggal dekat pantai mungkin kamu juga akan pintar berenang tanpa adanya les renang, mental orang di dekat laut ini kan sudah kuat jadi mereka tidak takut untuk mencoba," ucap ayah.
Setelah berjalan hampir 2 jam, terdengar suara azan. Kami memutuskan untuk mencari tempat istirahat dan salat asar di sana. Setelah selesai kami lanjut berjalan ke tempat mobil kami terparkir tidak jauh dari tempat kami berjalan. Setelah menunjukkan pukul 17.00 kami memutuskan untuk duduk di tenda-tenda yang ada di sini sambil memesan es kelapa muda dan mie rebus.

Kami menikmati pemandangan sambil menunggu sunset di Sore harinya hal ini jarang untuk diabadikan maka dari itu aku memotret sebanyak mungkin pemandangan di sini. Kami akan pulang setelah salat Isya nanti, agar tidak terlalu larut malam sampai di rumah.
Liburan kali ini sungguh mengasyikkan. Pergi pada malam hari dengan harapan Sampai Pantai pagi hari dan dapat menikmati sunrise. Pantai yang akan dikunjungi selanjutnya yakni pantai Karang Bolong Anyer. Lokasi Pantai tersebut berhiaskan pasir putih dengan air laut yang jernih. Sesampainya di pantai pada pagi hari, ayah dan ibu memutuskan untuk mendirikan tenda untuk beristirahat.

Sesuai ekspektasi bahwa pemandangan sunrise pantai yang indah betul-betul dinikmati oleh kami sekeluarga dengan penuh Sukacita Seluruh keluargaku tampak senang dan antusias menikmati waktu bersama untuk liburan akhir tahun ini.

(Sumber: buku 'Adikku Tersayang: Antologi Cerita Inspiratif: SMP Islam Parlaungan' oleh SMP Islam Parlaungan)

10. Liburan ke Pantai Tak Terlupakan

Pada suatu pagi di hari libur sekolah, aku terbangun lebih awal dari biasanya. Ayah sudah menyiapkan mobil, sementara Ibu menyiapkan bekal makanan dari dapur. Kami berencana pergi ke pantai bersama, dan hal itu membuatku sangat bersemangat. Perjalanan terasa menyenangkan karena kami saling bercerita dan tertawa di dalam mobil.

Sesampainya di pantai, aku langsung disambut oleh suara ombak dan angin laut yang sejuk. Hamparan pasir yang luas terlihat indah di bawah sinar matahari pagi. Aku dan adikku segera berlari menuju tepi pantai untuk bermain pasir dan air laut. Kami membuat istana pasir dan menghiasnya dengan kerang kecil yang kami temukan.

Setelah cukup lama bermain, aku mulai merasa lelah. Ibu memanggil kami untuk beristirahat bersama di bawah pohon. Kami membuka bekal dan makan bersama sambil memandangi laut yang tenang. Ayah bercerita tentang pengalamannya saat kecil, dan kami mendengarkannya dengan penuh perhatian.

Menjelang sore, suasana pantai semakin ramai. Aku berjalan menyusuri pantai bersama Ayah sambil mengumpulkan kerang yang unik. Langit perlahan berubah warna, dan matahari mulai turun ke ufuk barat. Pemandangan itu membuatku merasa tenang dan bahagia.

Saat hari mulai gelap, kami bersiap pulang. Di perjalanan, aku merasa sangat bersyukur bisa menghabiskan waktu bersama keluargaku. Liburan sederhana itu menjadi kenangan indah yang akan selalu aku ingat.

Itulah tadi beberapa contoh teks narasi liburan ke pantai bersama keluarga yang bisa dijadikan sebagai referensi untuk tugas sekolah. Semoga membantu!




(par/par)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads