- Apa itu Bubur Suro?
- Makna Filosofi Bubur Suro dalam Tradisi Jawa
- Resep Bubur Suro Khas Malam 1 Suro
- Tips Membuat Bubur Suro yang Enak dan Pulen 1. Pilih Beras yang Pulen 2. Aduk Bubur Secara Berkala agar Tidak Gosong 3. Sesuaikan Kekentalan Bubur dengan Selera 4. Tambahkan Pelengkap Sesuai Tradisi Wilayah Masing-masing
Malam 1 Suro menjadi momen yang istimewa bagi sebagian masyarakat Jawa. Selain diisi dengan doa, tirakat, dan refleksi diri, malam pergantian tahun Jawa ini juga identik dengan berbagai tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun, salah satunya adalah menyajikan bubur suro.
Bubur suro merupakan hidangan tradisional yang biasa disajikan untuk memperingati malam 1 Suro dalam kalender Jawa. Malam 1 Suro 2026 sendiri jatuh pada Selasa malam, 16 Juni 2026. Bukan sekadar makanan, bubur suro juga menyimpan makna filosofis yang erat kaitannya dengan rasa syukur, harapan, dan doa untuk menyambut tahun yang baru.
Keberadaan bubur suro tidak lepas dari akulturasi budaya Jawa dan Islam yang telah berkembang sejak masa Kesultanan Mataram. Hingga kini, tradisi memasak dan membagikan bubur suro masih dapat ditemukan di berbagai daerah, terutama di Jogja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menariknya, detikers bisa membuatnya sendiri di rumah karena bahan-bahannya tidak sulit dicari, lho! Lantas, seperti apa resep bubur suro khas malam 1 Suro? Apa makna filosofi yang terkandung di balik hidangan tradisional tersebut? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Apa itu Bubur Suro?
Bubur suro merupakan hidangan tradisional yang identik dengan peringatan malam 1 Suro dalam kalender Jawa. Masyarakat Jawa telah lama menjadikan bubur ini sebagai bagian dari tradisi menyambut tahun baru dalam penanggalan Jawa.
Dikutip dari buku Budaya Makan dalam Perspektif Kesehatan karya Toto Sudargo dkk, bubur suro umumnya berupa bubur gurih yang disajikan dengan kuah kuning dan sambal goreng pedas. Hidangan ini memiliki ciri khas berupa penggunaan tujuh jenis kacang sebagai pelengkap.
Tradisi membagikan bubur suro kepada masyarakat juga telah dilakukan secara turun-temurun di berbagai daerah. Dilansir detikNews, pembagian bubur ini menjadi salah satu cara masyarakat Jawa memperingati Tahun Baru Islam sekaligus malam 1 Suro yang dianggap memiliki makna penting dalam kehidupan spiritual dan budaya.
Makna Filosofi Bubur Suro dalam Tradisi Jawa
Bubur suro tidak hanya dikenal sebagai hidangan khas yang disajikan saat 1 Suro, tetapi juga memiliki makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat Jawa. Hidangan ini menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesehatan, keselamatan, dan rezeki yang telah diberikan selama setahun terakhir.
Bubur suro harus disajikan bersama tujuh jenis kacang. Ketujuh kacang tersebut melambangkan tujuh hari dalam seminggu dan menjadi pengingat bahwa manusia perlu senantiasa bersyukur kepada Tuhan setiap hari.
Selain sebagai ungkapan syukur, bubur suro juga menjadi simbol harapan agar tahun yang baru membawa keberkahan, keselamatan, dan kehidupan yang lebih baik. Oleh sebab itu, tradisi memasak dan membagikan bubur suro masih dilestarikan oleh sebagian masyarakat Jawa hingga saat ini.
Bubur suro bukanlah sesajen yang bersifat animistik. Dalam tradisi Jawa, bubur suro lebih dipandang sebagai simbol atau uba rampe yang digunakan untuk memaknai datangnya tahun baru. Oleh sebab itu, hidangan ini harus dipahami sebagai sarana refleksi dan ungkapan syukur, bukan sebagai objek yang memiliki kekuatan tertentu.
Resep Bubur Suro Khas Malam 1 Suro
Resep dan ciri khas bubur suro di setiap daerah sebenarnya berbeda-beda mengikuti tradisi dan kebiasaan masing-masing masyarakat. Dikutip dari buku 500 Resep Makanan dan Minuman Tradisional Paling Nikmat karya Nyonya Rumah, berikut salah satu resep bubur suro yang bisa dicoba di rumah.
Bahan:
- 200 gram beras putih, cuci bersih lalu rendam
- 2 sdm kacang tanah, rendam
- 2 sdm kedelai, rendam
- 2 sdm kacang merah, rendam
- Garam secukupnya
- 1½ liter air
Pelengkap:
- Sayur lodeh atau sayur kare
- Perkedel daging secukupnya
- Emping secukupnya
- Telur rebus secukupnya, belah menjadi empat bagian
- Telur dadar secukupnya, iris tipis
- Jeruk bali secukupnya
- Delima secukupnya
- Daun kemangi secukupnya
Cara Membuat:
- Masukkan beras, kacang tanah, kedelai, dan kacang merah ke dalam panci.
- Tambahkan air dan garam secukupnya.
- Masak sambil sesekali diaduk agar bahan tidak menempel di dasar panci.
- Lanjutkan memasak hingga beras dan kacang-kacangan menjadi lunak serta tekstur bubur mengental.
- Setelah matang, angkat bubur dari kompor.
- Sajikan bubur suro selagi hangat bersama berbagai pelengkap seperti sayur lodeh atau kare, perkedel daging, emping, telur rebus, irisan telur dadar,
- jeruk bali, delima, dan daun kemangi.
bubur suro siap disajikan sebagai hidangan khas malam 1 Suro. Perpaduan rasa gurih dari bubur, aneka kacang, serta beragam pelengkap membuat makanan tradisional ini memiliki cita rasa yang khas sekaligus sarat makna dalam tradisi masyarakat Jawa.
Tips Membuat Bubur Suro yang Enak dan Pulen
Membuat bubur suro sebenarnya tidak terlalu sulit. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tekstur bubur tetap pulen, tidak gosong, dan menghasilkan cita rasa yang lebih nikmat. Dilansir detikFood, berikut beberapa tips yang bisa detikers terapkan saat membuat bubur suro.
1. Pilih Beras yang Pulen
Kualitas beras sangat memengaruhi hasil akhir bubur suro. Oleh karena itu, gunakan beras yang memiliki tekstur pulen agar bubur yang dihasilkan lebih lembut dan tidak mudah pecah saat dimasak. Sebelum dimasak, beras juga sebaiknya dicuci hingga bersih dan direndam terlebih dahulu selama beberapa saat. Cara ini dapat membantu beras lebih cepat matang dan menghasilkan tekstur bubur yang lebih halus.
2. Aduk Bubur Secara Berkala agar Tidak Gosong
Saat proses memasak berlangsung, bubur perlu diaduk secara berkala, terutama ketika teksturnya mulai mengental. Langkah ini penting untuk mencegah beras menempel pada dasar panci yang dapat menyebabkan bubur gosong.
Selain menjaga bubur tidak lengket, pengadukan juga membantu panas menyebar lebih merata sehingga seluruh bahan matang sempurna. Gunakan api kecil hingga sedang agar bubur matang perlahan dan menghasilkan tekstur yang lebih lembut.
3. Sesuaikan Kekentalan Bubur dengan Selera
Setiap daerah dan keluarga biasanya memiliki preferensi berbeda mengenai tekstur bubur suro. Ada yang menyukai bubur dengan tekstur yang kental, tetapi ada pula yang lebih menyukai tekstur yang agak encer.
Oleh sebab itu, jumlah air bisa disesuaikan selama proses memasak. Jika bubur terasa terlalu kental, tambahkan sedikit air panas sambil terus diaduk. Sebaliknya, jika masih terlalu encer, lanjutkan memasak hingga mencapai kekentalan yang diinginkan.
4. Tambahkan Pelengkap Sesuai Tradisi Wilayah Masing-masing
Bubur suro biasanya disajikan bersama berbagai pelengkap yang menambah cita rasa sekaligus memperkaya makna tradisinya. Beberapa daerah menyajikannya dengan sayur lodeh, perkedel, emping, telur rebus, atau irisan telur dadar.
Tidak ada aturan baku mengenai pelengkap yang digunakan. Detikers dapat menyesuaikannya dengan tradisi keluarga maupun daerah masing-masing. Selain membuat sajian lebih lengkap, pelengkap tersebut juga dapat menambah variasi rasa sehingga bubur suro menjadi lebih nikmat saat disantap bersama keluarga.
Itulah resep bubur suro khas malam 1 Suro lengkap dengan makna filosofinya. Semoga bermanfaat!
Artikel ini ditulis oleh Sri Wahyuni Oktafia peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik
(num/apu)

Komentar Terbanyak
Serangan Balik Tiyo Eks BEM UGM Usai Dituding Dekat dengan Tokoh PDIP
Eks Ketua BEM UGM Tiyo Sebut Pelapor Dirinya ke Polisi Lagi Caper ke Presiden
Sederet Jawaban Tiyo Ardiyanto soal Tudingan Aliansi BEM Bersatu